Tujuh jenis maqamat menurut Abu Nasr Al-Sarraj

By Admin | Umum

tujuh jenis maqamat menurut Abu Nasr Al-Sarraj

Maqamat merupakan bentuk jamak dari maqam yang mengandung arti tingkatan-tingkatan hidup sufi yang telah dapat dicapai oleh para sufi untuk dekat kepada Tuhan. Menurut Al-Sarraj, maqamat adalah tingkatan-tingkatan seorang hamba di hadapan Tuhan dalam hal ibadah, mujahadah, dan riadhah (memerangi dan menguasai hawa nafsu). Sikap hidup yang demikian itu Nampak pada akhlak seseorang atau pada perbuatannya. Maqam merupakan hasil dari sesungguhnya dan perjuangan yang terus menerus. Seseorang baru dapat pindah dan naik dari satu tingkatan ke tingkatan yang lebih tinggi setelah melalui latihan (riyadhah) dan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang lebih baik dan menyempurnakan syarat-syarat yang harus dipenuhi pada maqam yang ada di bawahnya.

Jumlah maqam yang harus ditempuh oleh para sufi berbeda-beda, sesuai dengan pengalaman pribadi yang bersangkutan. Abu Nasrr Al-Sarraj menyebut tujuh maqam, yaitu taubat, wara’, zuhud, kefakiran, kesabaran, tawakal, dan keridaan.


Jalan yang harus ditempuh oleh seorang calon sufi ternyata tidak mudah. Karena sulitnya, untuk pindah dari satu maqam yang lebih tinggi, diperlukan usaha dan perjuangan yang berat dalam waktu yang tidak singkat. Terkadang seorang calon sufi harus bertahun-tahun tinggal dalam satu maqam.

Berikut penjelasan singkat tentang tujuh jenis maqamat menurut Abu Nasr Al-Sarraj:

1. Taubat (Al-Taubat)

Para sufi dalam menempatkan taubat –dalam ejaan bahasa Indonesia, ditulis “tobat” –sebagai stasion pertama dalam mendekatkan diri kepada Allah. Ibn Hamdan mengatakan bahwa taubat adalah kembali dari sesuatu yang diketahui tercela kepada sesuatu yang terpuji. Al-Ghazali memberikan definisi yang sama bahwa taubat adalah kembali dari kemaksiatan menuju ketaatan, kembali dari jalan yang jauh ke jalan yang lebih dekat.

Para ulama menyebutkan bahwa tobat adalah membersihkan hati dari segala dosa. Imam Al-Haramain mengartikan taubat sebagai meninggalkan keinginan untuk kembali melakukan kejahatan yang sama karena membesarkan Allah dan menghindari kemurkaan-Nya.

Tobat bukan hanya sebagai penghapus dosa, tetapi juga sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tobat yang dimaksud sufi adalah tobat yang sebenar-benarnya, tobat yang tidak kembali berbuat dosa. Terkadang tobat itu tidak dapat dengan sekali saja. Tobat itu mulai dari dosa-dosa besar hingga bersih, kemudian meninggalkan dosa-dosa kecil, perbuatan-perbuatan makruh dan syubhat. Dengan demikian, calon sufi betul-betul harus bersih dari dosa.

2. Zuhud (Al-Zuhd)

Zuhud artinya meninggalkan dunia dan hidup kemateriaan, bukan saja dari yang haram, tetapi juga yang halal. Dalam hal ini, calon sufi mengasingkan diri ke tempat yang sunyi. Dalam pengasingan itu mereka banyak beribadah kepada Allah, seperti berpuasa, membaca Al-Qur’an, dan shalat sunnah, di samping shalat fardhu.

Bagi seorang sufi, zuhud merupakan stasion penting yang harus dilalui. Tanpa jalan zuhud, calon sufi tidak akan mencapai derajat sufi. Ahmad bin Hanbal membagi zuhud kepada tiga macam: (1) zuhud awam dengan meninggalkan yang haram, (2) zuhud orang khawas dengan meninggalkan yang halal, dan (3) zuhud orang arif dengan meninggalkan apa saja yang akan menghalanginya dari Allah.

3. Wara (Al-Wara’)

Definisi wara’ menurut Abu Zakaria Al-Anshari adalah menjauhkan diri dari syubhat dan dari yang tidak membawa kebaikan dalam kehidupan agama, walaupun halal. Imam Al-Qusyairi mengutip perkataan Ibrahim bin Adham yang mengatakan bahwa wara adalah meniggalkan yang syubhat dan segala yang tidak jadi kepentingannya, yaitu segala yang berlebih-lebihan.

Di lihat dari segi jenisnya, wara terbagi dua: wara anggota lahir dan wara batin. Wara adalah tidak menggerakkan anggota badan, melainkan kepada yang diridai Allah. Sedangkan wara batin adalah tidak memasukkan kepada ingatan dan kenangan kecuali hanya Allah. Al-Sarraj membagi wara kepada tiga tingkatan: memelihara diri dari yang syubhat, memelihara diri dari yang halal yang akan membawa kepada maksiat dan memelihara diri dari sesuatu yang halal yang akan membawa lupa kepada Allah.

4. Fakr (Al-Faqr)

Fakr dapat diartikan berhajat kepada sesuatu. Menurut Ibnu Qudamah, fakir (al-fakir) adalah orangan yang berhajat kepada sesuatu. Karena itu, selain Allah, adalah fakir karena ia selalu berhajat kepada Allah dan selalu memerlukan kemurahan-Nya. Pengertian serupa dikemukakan Al-Ghazali. Menurutnya, sikap fakir yang senantiasa berhajat kepada Allah adalah sebagian dari iman dan buah dari ma’rifat yang mendalam sehingga dalam pandangan si fakir merasakan bahwa ia selalu berhajat atau berkehendak kepada Allah. Sikap mental seperti ini dijelaskan Allah dalam surat Al-Fathir ayat 15.

Orang sufi tidak menolak dirinya untuk menerima pendirian dan bantuan orang lain. Namun, dalam menerima pendirian dan bantuan mereka memperhatikan tiga hal. Pertama, benda yang diberikannya apakah halal, haram, atau subhat. Kedua, si pemberi tidak mempunyai tujuan untuk keuntungan atau kepentingan sendiri. Ketiga, tujuan untuk keuntungan atau kepentingan sendiri. Ketiga, tujuan pemberian hanyalah mengharap pahala dari Allah.

5. Sabar (Al-Shabr)

Sabar, sebagaimana dikatakan Abu Zakaria Al-Anshari, merupakan kemampuan seseorang mengendalikan diri terhadap sesuatu yang terjadi, baik yang disenangi atau yang dibenci. Menurut Qasim Junaidi, sabar adalah mengalihkan perhatian dari urusan dunia kepada urusan akhirat. Dikatakan juga bahwa beralih dari nafsu kepada Allah merupakan sesuatu yang sulit. Al-Ghazali menyebutkan sabar sebagai kondisi jiwa dalam mengendalikan nafsu yang terjadu karena dorongan agama. Ia membagi sabar kepada tiga tingkatan yaitu sebagai berikut:

1. Sabar tertinggi, yaitu sifat yang mampu menghadapi semua dorongan nafsu, sehingga nafsu benar-benar dapat ditundukkan. Untuk mencapai sabar, diperlukan perjuangan yang terus-menerus sebagaimana yang disebutkan dalam surat Muhammad ayat 31.

2. Sabar orang-orang yang sedang dalam perjuangan. Pada tahap isi terkadang mereka dapat menguasai hawa nafsu, tetapi terkadang mereka dikuasai hawa nafsu, sehingga bercampur-aduk antara yang baik dan yang buruk. Allah berfirman dalam surat Al-Furqon ayat 44: “Mereka itu tidak lain bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jelannya.”

3. Tingkatan terendah yaitu sabar karena kuatnya hawa nafsu dan kalahnya dorongan agama. Allah berfirman dalam surat Al-Sajadah ayat 13: “… Akan tetapi tetaplah kebenaran itu dari-Ku. Sesungguhnya Aku penuhi neraka jahanam dengan jin dan manusia bersama-sama.”

6. Tawakkal (Al-Tawakkal)

Tawakkal berasal dari verba “wakala” berarti keteguhan hati dalam menyerahkan urusan kepada orang lain. Keyakinan itu muncul sesudah timbul rasa percaya kepada orang lain yang diserahi urusan tadi; bahwa ia betul-betul mempunyai sifat kasih saying terhadap yang memberikan perwakilan dan dapat membimbing yang mewakili itu.

Dengan pengertian tawakkal, seperti yang disebutkan di atas, dapat dipahami bahwa takkal, sebagai sikap mental seorang sufi, merupakan hasil dari keyakinannya yang bulat sepenuhnya kepada Allah. Diyakininya Allah ada dengan sendirinya. Allah menciptakan segala-galanya, pengetahuan-Nya Mahaluas. Karena keyakinannya ini, mendorong seorang sufi menyerahkan urusannya kepada Allah, maka hatinya tenang, tentram, tidak timbul rasa curiga.

Tawakal terdiri dari tiga tingkatan. Pertama, tingkatan bidayah (pemula), yakni tawakal pada tingkat hati yang selalu merasa tentram terhadap apa yang sudah dijanjikan Allah. Kedua, tingkat mutawassithah (pertengahan), yakni tawakal pada tingkat hati yang merasa cukup menyerahkan segala urusan kepada Allah karena yakin bahwa Allah mengetahui keadaan dirinya. Ketiga, tingkat nihayah (terakhir), yakni tawakal pada tingkat terjadinya penyerahan diri seseorang pada rida atau merasa lapang menerima segala ketentuan Allah. Tawakal ini menyerah sebulat-bulatnya kepada Allah. Pada tahapan ini, seseorang bagaikan berada di depan orang yang memandikannya; ia menerima apa yang diinginkan oleh yang memandikannya; ia tidak bergerak dan tidak pula menolak.

7. Rida (Al-Ridha’)

Rida adalah suatu sikap mental yang mesti dimiliki dan dijalani oleh seorang sufi, karena dengan sikap mental ini, kebersihan, kesempurnaan dan ketinggian rohani dapat dicapai. Menurut Al-Qushairi, rida adalah tidak menentang apa yang telah ditetapkan Allah. Pengertian serupa dikemukakan oleh Ibnu Khafif yang menyatakan bahwa rida adalah tenangnya hati dalam menghadapi ketentuan-ketentuan Allah; hati menyesuaikan dan merasakan apa yang diridai Allah dan apa yang telah dipilihnya. Rabiah Al-Adawiyyah mengatakan bahwa yang disebut rida adalah ketika mendapat bencana, perasaan cinta kepada Allah sama seperti pada saat mendapat nikmat.

Rida pada mulanya merupakan penemuan jiwa yang diperoleh melalui usaha manusia, sedangkan terciptanya rida semata-mata karena karunia Allah yang diberikan kepada seseorang yang dikehendaki dengan rida-Nya, sebagaimana dinyatakan dalam surat Al-Bayyinah ayat 8: “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surge ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai ; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepadanya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.”


Related Pos :