Ternyata, Pola Tidur Dapat Mempengaruhi Perkembangan dan Kecerdasan Otak Anak

By Admin | Umum

perkembangan dan kecerdasan otak anakTernyata, pola tidur dapat mempengaruhi perkembangan dan kecerdasan otak anak. Mungkin kalimat tersebut masih Anda ragukan,  Anda pasti bertanya-tanya apa mungkin pola tidur juga termasuk salah satu hal yang  dapat mempengaruhi perkembangan dan kecerdasan otak anak? Namun itulah faktanya.

Tidur adalah normal, proses alamiah dan merupakan kondisi istirahat yang diperlukan oleh manusia secara regular. Keadaan tidur ini ditandai oleh berkurangnya gerakan tubuh dan penurunan kewaspadaan terhadap lingkungan sekitarnya.

Meskipun banyak ahli yang mengerti mengenai mekanisme tidur dan apa yang terjadi pada otak dan tubuh selama tidur, tetapi masih belum diketahui dengan pasti mengapa kita perlu tidur. Beberapa ahli percaya bahwa tidur akan memberikan ketenangan dan memulihkan stamina atau energinya (energy conversation), yang lain percaya, tidur merupakan proses pemulihan fungsi otak dan tubuhnya (restorative function), dan yang lainnya lagi beranggapan bahwa tidur merupakan proses penyesuaian (adaptive) untuk mempertahankan kelangsungan hidup.


Perubahan yang terjadi selama tidur tidak menyebabkan semua aktivitas susunan saraf berkurang, melainkan terjadi perubahan keseimbangan antara aktivitas dan inaktivitas dari berbagai sistem saraf otak. Beberapa fungsi saraf menjadi inaktif selama tidur.  Perubahan ini menyimpulkan bahwa tidur bukan proses pasif, tetapi merupakan aktivitas yang dapat dibangkitkan.

Tidur merupakan prioritas utama bagi anak. Anak perlu banyak tidur. Pertumbuhan dan perkembangannya sangat tergantung dari tidur, tanpa tidur bayi tidak akan tumbuh secara optimal, karena pada saat inilah terjadi perbaikan (repair) sel-sel otak dan kurang lebih 75 % hormone pertumbuhan diproduksi. Telah dibuktikan tidur mempunyai efek yang besar terhadap kesehatan mental, emosi dan fisik, dan system imunitas tubuh. adanya abnormalitas pada otak juga dapat diketahui dari bagimana pola tidur anak tersebut. Dan gangguan tidur akan mengakibatkan efek yang sebaliknya.

Pada masa bayi, terjadi beberapa perubahan. Pola siklus tidur bangun baru jelas terlihat pada umur 3-4 bulan, dimana proporsi tidur mulai lebih banyak pada malam hari. Umumnya morning naps berhenti para umur 1 tahun dan afternoon naps terus berlangsung hingga umur 3 tahun.

Pada akhirnya jumlah total tidur menurun bertahap selama periode anak-anak. Perkembangan tidur ini berkaitan dengan umur dan  bertambah besarnya anak (maturitas otak), maka jumlah total tidur yang diperlukan berkurang dan diikuti dengan penurunan proporsi REM dan nonREM. Dari rata-rata 16,5 jam pada umur 1 minggu, 14 jam umur satu tahun, 13 jam umur 2 tahun, 11 jam pada umur 5 tahun, dan 10 jam pada umur 9 tahun.

Tidur merupakan aktivitas dari area tertentu di otak yang menyebabkan tidur, daripada masukan sensorik yang menurun di korteks serebri. Stimulasi pada area ini akan menghasilkan tidur, sebaliknya kerusakan akan mengakibatkan gangguan tidur.

Siklus tidur mempunyai kaitan-kaitan dengan hormone tubuh, seperti hormone pertumbuhan (growth hormone), prolaktin, dan kortisol. Hormone pertumbuhan disekresi pada awal periode tidur lelap, tahap 3 & 4 dan dihambat selama tidur REM. Hormone ini berfungsi merangsang pertumbuhan tulang panjang, tulang rawan dan jaringan lunak. Selain berperan juga mengatur metabolisme tubuh termasuk otak.

Penting diketahui bahwa sekresi hormone ini mencapai puncaknya pada usia 5 tahun pertama, saat terjadi pacu tumbu otak (brain growth spurts). Kadar prolaktin mencapai puncaknya antara jam 05.00 dan 07.00 pagi. Sekresi kortikosteroid yang biasanya terjadi selama malam hari, dapat berubah sesuai dengan siklus tidur bangunnya. Bila pola tidur berubah, sekresi kortisol pada awalnya seperti semula, tetapi secara bertahap melakukan penyesuaian resinkronisasi dengan siklus yang baru.

  • Pengaruh tidur bagi tumbuh kembang bayi

Tidur merupakan interaksi yang kompleks dari multiple sistim neurotransmitter, dan system regulasi tidur dengan mekanisme lain, sebagai contoh mekanisme yang mengatur temperature, pola pernapasan dan tekanan darah. Kira-kira 2/3 kehidupan bayi baru lahir digunakan untuk tidur.

Seluruh kejadian selama tidur merupakan repleksi dari aktivitas neuron tertentu di susunan saraf pusat yang berubah secara dramatis sesuai dengan perkembangan bayi, oleh karena itu tidur sangat berhubungan dengan perkembangan anak, dan sekaligus merupakan jendela dari perkembangan otak anak selanjutnya.

Pada waktu bangun, tubuh menggunakan oksigen dan makanan (energi) untuk keperluan kegiatan fisik dan mentalnya. Keadaan ‘katabolik’ ini juga banyak menggunakan hormone adrenalin (epineprin) dan kortikosteroid tubuh. selama tidur, terjadi keadaan sebaliknya yaitu ‘anabolik’, dimana terjadi konservasi energi, perbaikan sel-sel tubuh dan pertumbuhan. Karena konsentrasi adrenalin dan kortisol turun, maka tubuh mulai membentuk hormon pertumbuhan.

Selain berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan, hormone ini juga memungkinkan tubuh memperbaiki dan memperbaharui seluruh sel-sel yang ada di tubuh, mulai dari sel kulit, sel darah dan sel neuron di otak. Proses pembaruan sel ini berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan waktu bangun. Hal ini merupakan bukti yang penting bahwa tidur berefek pada tumbuh kembang anak.

Tidur yang sering pada waktu menderita sakit infeksi, dapat membantu mempercepat proses penyembuhan. Hal ini karena pengaruh meningkatnya system imunitas tubuh yang memproduksi protein tertentu untuk merespon infeksi. Oleh karena itu tidur berperan juga dalam meningkatan daya tahan tubuh terhadap infeksi. Sebaliknya gangguan tidur dapat menurunkan kadar sel darah putih tubuh sehingga menurunkan efektivitas system daya tahan, mudah jatuh sakit, pertumbuhannya terganggu, kemampuan konsentrasi menurun, sulit mengerjakan sesuatu dan menjadi irritable.

  • Pengaruh tidur bagi kecerdasan

Tidak juga berpengaruh pada proses pembelajaran, intelegensi dan penampilan di sekolah. Banyak penelitian yang setuju dengan butir-butir di atas yang dilakukam pada anak dari berbagai umur. Studi di University of Connecticut memperlihatkan hubungan yang kuat antara lamanya tidur REM dengan lamanya bayi dalam keadaan ‘queit alert’. Pada kondisi ini, bayi terlihat cerah, matanya cerdas, rileks, sangat responsive, meskipun tubuhnya relative kuang aktif, yang sering disebut dengan ‘alooker dan a thinker’.

Studi perkembangan tidur di Stanford University menunjukkan bahwa proporsi tidur REM bayi tidak saja karena proses maturitas otak, tetapi karena pengaruh faktor lingkungan maskipun belum jelas, namun peran orang tu diduga berpengaruh. Bayi yang irritable mungkin disebabkan karena ketidak seimbangan faktor kimiawi seperti progesterone atau kortisol.

Tingginya konsentrasi kortisol pada bayi ternyata berhubungan dengan penurunan lamanya tidur nonREM. Jadi ada kaitannya antara faktor kimiawi, pola tidur dan perilaku pada saat bangun. Studi yang dilakukan pada bayi umur 2-3 bulan memperlihatkan bahwa makin irritable dan impersisten bayi tersebut, makin lambat kecepatan belajarnya.

Tidur pagi dan atau siang (naps) ternyata mempunyai pengaruh tersendiri terhadap proses tumbuh kembang anak, begitu pula antara tahapan tidur nonREM dan REM. Penelitian memperlihatkan hubungan yang kuat antara tidur siang dengan lamanya atensi, lamanya berada dalam keadaan ‘quiet alert’, dan cepatnay proses pembelajaran.

Studi lain memperlihatkan anak berumur 3 tahun yang tidur siang akan lebih adaptatif, artinya anak akan mudah mnyesuaikan dengan keadaan lingkungan yang baru.  Adaptasi adalah proses  yang sangat penting untuk keberhasilan sekolanya. Anak yang tidak tidur siang, dan tidak adaptif ternyata lebih sering mengalami sulit tidur makam.

Penelitian tahun 1925, yang dilakukan terhadap 600 anak dengan IQ > 140 memperlihatkan bahwa anak yang mendapatkan penghargaan ternyata tidurnya lebih lama. Hasil yang sama juga diperlihatkan pada 5500 anak sekola di Jepang. Temuan ini di konfirmasi pada tahun 1983 di pusat tidur Canada, bahwa anak dengan IQ superior mempunyai total tidur lebih lama kira-kira 30-40 menit setiap malamnya dibandingkan rata-rata anak pada umur yang sama.

Studi lain juga mengatakan bahwa tidur dapat meningkatkan pergaulan anak dan penampilan di sekolah. Pada orang dewasa efek gangguan tidur lebih mengarah pada faktor emosi, sedangkan pada bayi dan anak lebih pada kognitif, pertumbuhan, penampilan motoriknya dan perkembangan otaknya.

Related Pos :