Tasyri’ Islam pada Masa Rasulullah

By Admin | Umum

tasyri' Islam

A. Masyarakat Arab Sebelum Islam

Bangsa Arab pra-Islam dikenal sebagai bangsa yang sudah memiliki kemajuan ekonomi. Letak geografis Arab yang strategis, membuat Islam mudah tersebar ke berbagai wilayah karena berbagai upaya yang dilakukan umat Islam.


Ada beberapa cirri utama tatanan bangsa Arab pra-Islam, di antaranya (1) menganut kesukuan (qabilah); (2) memiliki tata social politik yang tertutup dengan partisipasi warga yang terbatas; faktor keturunan lebih penting ketimbang kemampuan; (3) mengenal hierarki social yang kuat; (4) kedudukan perempuan cenderung direndahkan. Di samping itu, di Mekah sudah terdapat jabatan-jabatan penting seperti pemelihara Ka’bah yang dipegang oleh Qushayy bin Kilab. Dalam rangka memelihara Ka’bah, dibentuklah jabatan-jabatan, seperti hijaba (penjaga pintu Ka’bah ), tiqaya (pelayan minuman), rifadla (petugas memberi makanan pengunjung Ka’bah), nadwa (petugas pemimpin rapat), liwa’ (pemegang bendera), dan qiyada (pemimpin pasukan perang).

Dalam aspek akidah, orang Arab pra-Islam percaya kepada Allah sebagai pencipta (Q.S. Luqman: 25 dan Q.S. Al-Ankabut: 63). Sumber kepercayaan itu adalah risalah samawiyah yang dikembangkan dan disebarkan di jarizah Arab, terutama risalah Ibrahim dan Ismail. Namun, mereka kemudian melakukan penyimpangan terhadap agamanya sehingga menjadikan berhala di sekitar Ka’bah karena setiap kabilah memiliki berhala masing-masing. Mereka pada umumnya tidak percaya pada hari kiamat dan tidak percaya pada kebangkitan setelah mati (Q.S. Al-Mukminun: 27). Meskipun pada umumnya mereka melakukan penyimpangan, ada sebagian kecil bangsa Arab masih mempertahankan akidah monoteisme (tauhid) seperti yang diajarkan Ibrahim (Al-Hunafa). Di antara mereka itu, misalnya Umar bin Mufail dan Zuhair bin Abi Sulma.

Dalam bidang hukum, bangsa Arab pra-Islam menjadikan adat sebagai hukum dengan berbagai bentuknya. Dalam perkawinan, mereka mengenal beberapa macam perkawinan, di antaranya, istibdla, poliandri, maqthu’, badal, dan syighar.

Dilihat dari sumber yang digunakan, hukum Arab pra-Islam bersumber kepada adat istiadat. Dalam bidang muamalah, di antara kebiasaan mereka adalah dibolehkannya transaksi barter (mubadalah), jual beli, kerja sama pertanian (muzara’ah).

Ketentuan hukum keluarga Arab pra-Islam lainnya adalah dibolehkannya berpoligami dengan perempuan tanpa batas serta anak kecil dan perempuan tidak dapat menerima warisan atau harta peninggalan.

B. Tasyri’ periode Mekah dan Madinah

Tasyri’ Islam pada masa Rasulullah dapat dibedakan dalam dua fase, yaitu fase Mekah dan fase Madinah. Fase Mekah dimulai sejak Nabi Muhammad menetap dan berkedudukan di Mekah –yang lamanya sekitar 12 tahun –dan diangkat menjadi rasul hingga hijrah ke Madinah. Pada masa ini umat Islam jumlahnya masih sangat sedikit. Karena jumlahnya yang sedikit itu, mereka masih sangat lemah dibandingkan dengan kekuatan yang dimiliki para penentang Islam. Karena itulah, mereka dikucilkan oleh masyarakat penentang Islam, seperti terjadinya pembelokadean ekonomi.

Masyarakat Islam yang dibimbing oleh Nabi Muhammad di Mekah termasuk masyarakat yang baru saja memeluk Islam yang sebelumnya menyembah berhala. Langkah yang dilakukan beliau pertama kali adalah memperbaiki akidah mereka, sebab akidah merupakan landasan amal ibadah. Dengan adanya perbaikan akidah diharapkan dapat menyelamatkan umat Islam dari kebiasaannya, seperti kebiasaan berperang (membunuh), berzina, mengubur anak perempuan hidup-hidup. Mereka juga diharapkan dapat menegakkan keadilan, kebenaran serta saling menolong dalam kebaikkan dan menjauhi tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.

Dengan demikian, pada periode ini belum banyak fakta-fakta yang membangkitkan Nabi Muhammad untuk mengadakan hukum atau perundang-undangan. Oleh karena itu, dalam surat-surat makiyyah tidak terdapat ayat-ayat hukum, seperti surat Yunus, Al-Ra’d, dan Al-Furqan. Kebanyakan ayat-ayat makiyyah berisikan hal-hal yang berkaitan dengan akidah, akhlak dan sejarah.

Periode Madinah dimulai sejak Nabi hijrah ke Madinah –disini beliau tinggal selama 10 tahun –hingga wafatnya. Pada periode ini umat Islam tidak lagi lemah karena jumlahnya banyak dan berkualitas. Mereka mengeliminasi permusuhan dalam mengesakan Allah. Mereka juga mengajak pengamalan syariat Islam membentuk aturan damai dan perang.

Dalam hubungan inilah, disyariatkan hukum-hukum perkawinan, talak, warisan, jual beli, sewa-menyewa, utang piutang dan segala transaksi. Hal-hal yang berhubungan dengan pemeliharaan keamanan dalam masyarakat dan sebagainya yang berhubungan dengan kebutuhan manusia, baik secara individu maupun kelompok, mulai disyariatkan. Oleh karena itu, surat-surat madaniyyah seperti Al-Baqarah, Ali-Imran, An-Nisa dan Al-Maidah banyak mengandung ayat-ayat hukum, selain ayat-ayat tentang akidah , akhlak, sejarah dan lain-lain.

Kekuasaan tasyri’ (legislatif) pada masa itu dipegang langsung oleh Nabi sendiri, walupun, dalam hal-hal yang mendesak, pernah juga sahabat berijtihad mencari hukum, seperti Ali bin Abi Thalib ketika melawat ke Yaman, Mu’az ketika menjadi hakim di Yaman.

C. Sumber tasyri’ Islam pada masa Rasulullah

Tasyri’ Islam pada masa Rasulullah bersumber kepada wahyu, baik ditilawahkan (Al-Qur’an) maupun yang tidak ditilawahkan (As-Sunnah). Dalam menyelasikan persoalan yang dihadapi, Nabi Muhammad senantiasa berpegang kepada wahyu. Para sahabat mengikuti dan menaati keputusan beliau. Bagi sahabat, Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan referen dalam melaksanakan hukum Islam.

1. Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah firman Allah yang di-nuzulkan kepada Nabi Muhammad yang dinukil secara mutawatir, dan dipandang beribadah membacanya. Al-Qur’an memuat hukum-hukum yang mencakup hukum keyakinan (ahkam i’tiqadiyyah), hukum akhlak (ahkam khulqiyyah), dan hukum amaliah (ahkam ‘amaliyyah).

Hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an dibedakan menjadi dua: hukum ibadah dan hukum muamalah. Hukum ibadah mencakup shalat, zakat, puasa, haji dan nazar. Adapun muamalah, menurut Abd Al-Wahab Khalaf, mencakup hal-hal berikut.

1. Hukum keluarga (al-ahwal al-syakhsiyyah), yaitu hukum yang mengatur hubungan individu dengan individu lain dalam keluarga dan kekerabatan. Jumlahnya sekitar 70 ayat.

2. Hukum kebendaan ?(ahkam al-madaniyyah), yaitu hukum yang mengatur tukar menukar harta, seperti ijarah, rahn, kafalah dan syirkah. Jumlahnya sekitar 70 ayat.

3. Hukum jinayah (ahkam jinaiyyah), yaitu hukum yang mengatur pelanggaran dan sanksi yang dilakukan oleh mukalaf. Tujuannya menjaga hidup manusia dan hartanya. Jumlahnya sekitar 30 ayat.

4. Lembaga peradilan (ahkam al-murafa’at), yaitu hukum yang mengatur syarat-syarat hakim, sanksi dan sumpah. Jumlahnya sekitar 10 ayat.

5. Hukum perundang-undangan (al-ahkam al-dusturiyyah), yaitu hukum yang berhubungan dengan interaksi antara pemimpin dan rakyat. Jumlahnya sekitar 10 ayat.

6. Hukum Negara (al-ahkam al-dawliyyah), yaitu hukum yang mengatur hubungan kenegaraan; hubungan antarnegara. Antara individu dan kelompok. Jumlahnya sekitar 10 ayat.

Sebagai kitab suci, Al-Qur’an sangat akomodatif terhadap hukum-hukum yang hidup dan berkembang di masyarakat Arabpra-Islam. Hukum-hukum yang diakomodasikan Al-Qur’an di antaranya poligami (seorang suami memiliki banyak istri) yang terdapat dalam surat An-Nisa ayat 7-14, dan memasukkan wanita pada anggota keluarga yang mendapat waris, dibatalkannya saling mewarisi yang disebabkan oleh adopsi (Al-Ahsab: 4-5), sanksi potong tangan bagi pencuri (Al-Maidah: 38), yang sebagian ulama mengartikannya dipenjara karena sama-sama mencegah pelakunya dari mencuri lagi seperti halnya jika ia dipotong tangannya.

2. As-Sunnah

As-sunnah diartikan sebagai sesuatu yang disandarkan (udhifa) kepada Nabi Saw, baik berupa perkataan, perbuatan maupun ketetapan (taqrir)-nya. Dalam batasan sunnah ini, yang menjadi kata kuncinya adalah kata “disandarkan (udhifa)”. Kata kunci ini penting, karena ada hadits yang bukan perkataan Nabi selalu disandarkan kepada beliau. munculnya hadis maudu (palsu), misalnya merupakan upaya orang-orang tertentu yang ingin melegitimasi keinginan dan kepentingan mereka.

As-sunnah, dari segi bentuknya, dibagi tiga bagian: sunnah qauliyyah, sunnah fi’liyyah, dan sunnah raqririyyah. Salah satu contoh sunnah qauliyyah adalah sabda Nabi Saw: “Barangsiapa di antara kamu hendak shalat Jumat, hendaknya mandi.” Contoh sunnah fi’liyyah adalah: “ Nabi Saw mencium salah seorang istrinya kemudian keluardan melakukan shalat tanpa berwidlhu lagi.” Sedangkan contoh sunnah taqririyyah: “Sahabat Nabi pada masa Nabi menunggu datangnya waktu shalat Isa hingga ngantuk kemudian mereka shalat dengan berwudlhu terlebih dahulu.”


Related Pos :