Ruang Lingkup Yang Menjadi Kajian Psikologi Agama

By Admin | Umum

ruang lingkup yang menjadi kajian psikologi agama

Sebagai disiplin ilmu yang otonom psikologi agama memiliki ruang lingkup pembahasannya tersendiri yang dibedakan dari disiplin ilmu yang mempelajari masalah agama lainnya.

Lapangan pembahasan, penelitian psikologi agama mencakup proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan terhadap suatu agama yang dianut. Oleh karena itu menurut Zakiah Daradjat ruang lingkup yang menjadi kajian psikologi agama meliputi:


a. Bermacam-macam emosi yang menjalar diluar kesadaran yang ikut menyertai kehidupan beragama orang biasa atau umum, seperti rasa lega dan tentram sehabis shalat, rasa lepas dari ketegangan batin sesudah berdoa atau membaca ayat-ayat suci, perasaan tenang, pasrah dan menyerah setelah berdzikir dan ingat kepada Allah ketika mengalami kesedihan dan kekecewaan.

b. Bagaimana perasaan dan pengalaman seseorang secara individu terhadap Tuhannya.

c. Mempelajari, meneliti dan menganalisa pengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati (akhirat) pada tiap-tiap orang di masyarakat.

d. Meneliti dan mempelajari kesadaran dan perasaan orang terhadap kepercayaan yang berhubungan dengan surge dan neraka serta dosa dan pahala yang turut member pengaruh terhadap sikap dan tingkah laku dalam kehidupan.

e. Meneliti dan mempelajari bagaimana pengaruh penghayatan seseorang terhadap ayat-ayat suci kelegaan batinnya.

Hasil ruang lingkup yang menjadi kajian psikologi agama tersebut ternyata dapat dimanfaatkan dalam berbagai lapangan kehidupan seperti dalam bidang kehidupan, psikoterapi dan mungkin pula dalam lapangan kehidupan lainnya, bahkan sudah sejak lama pemerintah kolonial Belanda memanfaatkan hasil kajian psikologi agama untuk kepentingan politik. Pendekatan agama yang dilakukan oleh Snouck Hurgronje terhadap para pemuka agama dalam upaya mempertahankan politik penjajahan Belanda di tanah air, salah satu contoh kegunaan psikologi agama dibidang industry psikologi agama dapat dimanfaatkan. Sekitar tahun 1950an di perusahaan minyak stanvac (Plaju dan sungai gerong) diselenggarakan ceramah agama Islam untuk para buruhnya, para penceramah adalah para pemuka agama setempat. Kegiatan berkala ini diselenggarakan didasarkan atas asumsi bahwa ajaran agama mengandung nilai-nilai moral yang dapat menyadarkan para buruh dari perbuatan yang tak terpuji dan merugikan perusahaan. Sebaliknya dari hasil kegiatan tersebut dievaluasi dan ternyata pengaruh ini dapat mengurangi kebocoran seperti pencurian, manipulasi maupun penjualan barang-barang perusahaan yang sebelumnya sukar dilacak.

Dalam ruang lingkup yang lebih luas ternyata Jepang menggunakan pendekatan psikologi agama dalam membangun negaranya. Bermula dari mitos bahwa Kaisar Jepang adalah titisan dewa matahari (Amiterasu Omikami), mereka dapat menumbuhkan jiwa Bushido, yaitu ketaatan terhadap pemimpin, mitos ini telah dapat membangkitkan perasaan agama para prajurit Jepang dalam perang dunia dua untuk melakukan Harakiri (bunuh diri) dan ikut dalam pasukan Kamikaze (pasukan berani mati). Dan setelah usai perang dunia 2 jiwa Bushido tersebut bergeser menjadi etos kerja dan disiplin serta tanggung jawab moral.

Dalam banyak kasus, pendekatan psikologi agama baik secara langsung dan tidak langsung dapat digunakan untuk membangkitkan perasaan dan kesadaran agama. Pengobatan pasien di rumah-rumah sakit, usaha bimbingan dan penyuluhan narapidana di lembaga pemasyarakatan banyak dilakukan dengan psikologi agama dan demikian pula dalam lapangan pendidikan psikologi agama dapat difungsikan pada pembinaan moral dan mental keagamaan peserta didik.


Related Pos :