Prinsip-Prinsip Tasyri’ Islam

By Admin | Umum

prinsip-prinsip tasyri' Islam

pada pembahasan artikel sebelumnya kita sudah membahas tentang pengertian tarikh tasyri’ Islam, dan pada pembahasan kali ini kita akan membahas tentang prinsip-prinsip tasyri’ Islam yang akan dijelaskan secara singkat pada artikel dibawah ini.

Perundang-undangan Islam mempunyai beberapa asas dan prinsip yang karenanya berdiri perundangan Islam itu. Adapun prinsip-prinsip tasyri’ Islam tersebut diantaranya sebagai berikut.


a. Menegakkan maslahat

Tasyri’ Islam benar-benar memperhatikan kemaslahatan manusia. Maslahat dapat diartikan perolehan manfaat dan penolakan terhadap kesulitan. Maslahat merupakan dasar yang dikembangkan dalam hukum dan perundangan Islam. Ia memiliki landasan yang kuat dalam Al-Qur’an (Q.S. Al-Anbiyah: 107) dan Al-Sunnah, di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Al-Daruquthai dan Hakim dari Abi Sa’id: “Tidak boleh menyulitkan orang-orang lain dan tidak boleh pula disulitkan orang lain.”

Secara umum maslahat dibagi tiga: maslahat mu’tabarah, maslahat mulghah, dan maslahat mursalah. Maslahat mu’tabarah dapat diklasifikasikan menjadi tiga tingkatan: dharuriyyah (primer), hajiyyah (sekunder), dan tahsiniyyah (tertier). Kandungan maslahat dharuriyyah ada lima tujuan agama (maqashid al-syari’ah), yaitu pemeliharaan agama (hifzh al-din), pemeliharaan keturunan (hifzh al-nasl), pemeliharaan jiwa (hifzh al-nafs), pemeliharaan akal (hifzh al-‘aql) dan pemeliharaan harta (hifzh al-mal).

Maslahat tahsiniyyah adalah sesuatu yang mengandung manfaat bagi manusia, tetapi tidak tergolong pokok, seperti nikah bagi laki-laki yang belum ba’at yang dianjurkan Nabi untuk berpuasa. Maslahat mulghah adalah suatu perbuatan yang di dalamnya terkandung manfaat , tetapi dalam syara’ tidak ditetapkan secara pasti. Misalnya, Yahya bin Yahya Al-Laitsi berfatwa bahwa sanksi bagi seorang amir Andalus yang berjimak dengan salah seorang istrinya di siang hari pada bulan Ramadhan adalah puasa dua bulan berturut-turut, tidak bisa diganti dengan memerdekakan hamba atau member makan enam puluh orang fakir miskin, karena kedua sanksi itu terlalu ringan baginya.

Maslahat mursalah adalah sesuatu yang bermanfaat, tetapi tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasulnya. Misalnya, memerangi umat Islam yang enggan membayar zakat.

b. Menegakkan keadilan (Tahqiq Al-Adalah)

Dalam pandangan Islam, manusia itu sama, tidak ada kelebihan antara satu dan yang lainnya karena faktor keturunan, kekayaan, atau kedudukan. Hukum Islam pun memperlakukan manusia secara sama dalam menghadapi keadilan.

Dalam beberapa ayat Al-Qur’an dijumpai perintah untuk berlaku adil, di antaranya dalam surat Al-Maidah ayat 5: “Berlakulah adil, karena adil itu lebih dekat kepada takwa …”. Surat An-Nahl ayat 90: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebaikkan…”.

c. Tidak menyulitkan (‘Adam Al-Haraj)

Al-haraj memiliki beberapa arti, di antaranya sempit, sesat, paksa, dan berat. Secara terminologis, al-haraj adalah segala sesuatu yang menyulitkan badan, jiwa atau harta seseorang secara berlebihan, baik sekarang maupun dikemudian hari.

Meringankan hukum-hukum itu bisa dengan beberapa cara, yaitu sebagai berikut:

1. Pengguguran kewajiban, yaitu peniadaan kewajiban dalam keadaan tertentu, seperti tidak wajibnya melakukan ibadah haji bagi yang tidak aman.

2. Pengurangan kadar yang telah ditentukan, seperti mengqashar shalat bagi orang yang sedang dalam perjalanan.

3. Penukaran, yaitu penukaran kewajiban yang satu dengan yang lainnya. Misalnya, kewajiban wudu dan mandi diganti dengan tayamum.

4. Mendahulukan, yaitu mengerjakan sesuatu sebelum waktu yang telah ditentukan secara umum (asal), seperti jama’ taqdim, melaksanakan shalat Ashar di waktu dzuhur.

5. Menangguhkan yaitu mengerjakan sesuatu setelah waktunya yang asal tiada, seperti jama’ ta’khir, misalnya melaksanakan shalat dzuhur di waktu adhzar.

6. Perubahan, yaitu bentuk perbuatan berubah-ubah sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi, seperti shalat Khauf.

d. Menyedikitkan beban (Taqlil Al-Taklif)

Secara etimologis, taklif berarti beban. Secara terminologis, taklif adalah tuntutan Allah untuk berbuat sehingga dipandang taat dan tuntutan untuk menjauhi cegahan Allah. Dengan demikian, yang dimaksud menyedikitkan tuntutan Allah untuk berbuat, mengerjakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.

Pertimbangan menyedikitkan beban ini didasarkan pada surat Al-Maidah ayat 101 yang menegaskan bahwa orang-orang yang beriman dilarang bertanya kepada Rasulullah tentang hal yang bila diwajibkan akan menyulitkan mereka. Mungkin yang dimaksud dengan cegahan bertanya kepada ayat tersebut adalah seperti pertanyaan umat Nabi Musa tentang penyembelihan sapi (Q.S. Al-Baqarah: 69-74).

e. Berangsur-angsur (Al-Tadrij)

Hukum Islam dibentuk secara bertahap dan didasarkan pada Al-Qur’an yang diturunkan secara bertahap pula. Shalat, misalnya pada awalnya diperintahkan pada dua waktu saja, yaitu pagi dan sore (Q.S. Hud: 114), kemudian dalam tiga waktu (Q.S. Al-Isra: 78). Akhirnya –berdasarkan hadis fi’li yang mutawatir –shalat wajib dilakukan lima kali dalam sehari semalam.

Contoh lainnya, tentang pengharaman riba. Pada awalnya hanya dikatakan sebagai perbuatan tercela (Q.S. Ar-Rum: 39). Setelah itu dinyatakan bahwa riba yang diharamkan adalah yang berlipat ganda (Q.S. Ali-Imran: 130). Akhirnya, riba diharamkan secara keseluruhan (Q.S. Al-Baqarah: 275 dan 278).

Contoh lainnya pengharaman khamar, yang pada awalnya hanya dipandang tercela untuk dilakukan karena lebih banyak madaratnya ketimbang manfaatnya (Q.S. Al-Baqarah: 219). Selanjutnya disebutkan bahwa orang yang hendak shalat dilarang meminum khamar (Q.S. An-Nisa: 43), dan terakhir Allah mengaharamkan secara mutlak (Q.S. Al-Maidah: 90).


Related Pos :