Pernikahan Karena Cinta Pasti Gagal !

By Admin | Umum

pernikahan

Pernikahan karena cinta pasti gagal ! mengapa demikian? Jawabannya akan kita uraikan pada pembahasan kali ini, berikut penjelasannya.

Dalam suatu pernikahan, pilihan seseorang terhadap pasangan hidupnya harus berasal dari kehendaknya yang bebas, cerdas, dan bijaksana, agar dia bisa mempertanggungjawabkan apapun konsekuensi pilihan itu. Baik buruknya pilihan seseorang dalam suatu pernikahan tergantung kepada dasar pemilihannya. Pernikahan karena cinta yang berasal dari sekolah, telepon, jalan, dst, adalah pilihan yang berdasarkan gairah yang cepat surut. Pilihan ini hanya mengikuti lagu-lagu cinta yang cengeng, novel-novel romantis, dan film-film cinta.


Pernikahan karena cinta yang dilakukan dengan alasan tersebut biasanya berujung kegagalan. Misalnya, persentase perceraian di Eropa dan Amerika –  meskipun dilarang oleh agama mereka- secara resmi melebihi 50 %, sementara perpisahan yang tidak resmi melebihi jumlah tersebut.

Di masyarakat kita, karena pengaruh media massa dan acara-acara di televisi, pernikahan jenis ini sudah banyak terjadi, selain semakin banyaknya orang yang mendasari pernikahannya dengan pertimbangan material dan hal-hal artifial lainnya.

Jika seseorang menikah bukan karena pertimbangan agama dan akhlak, dia akan mudah menuduh bahwa pernikahan adalah sistem yang gagal.

Dia tidak bertanya kepada diri sendiri, apakah dia benar-benar pasangan yang serasi dan individu yang baik? Dia tidak mau mengakui bahwa dia sendirilah yang gagal, bukan sistem pernikahan. Orang yang membenci pernikahan, hanya orang yang gagal dalam kehidupannya secara keseluruhan. Pernikahan hanya menunjukkan kelemahan, kekurangan, dan aibnya, lalu dia berusaha menutupi semua itu dengan kekasaran dan kekejaman terhadap pasangan hidupnya.

Banyak orang menyangka, pernikahan yang didahului proses pacaran akan lebih berhasil. Tapi, kenyataannya menunjukkan kebalikkannya. Setelah pernikahan, aib yang ditutupi selama berpacaran langsung muncul dengan jelas. Cinta yang membara di hati sebelum pernikahan padam dengan cepat. Hal ini membuat pasangannya kecewa, dan problem-problem pun bermunculan.

Sebaliknya, pernikahan yang tidak didahului oleh proses pacaran biasanya dilakukan secara lebih rasional dan kriteria masing-masing pasangan terpenuhi secara lebih sepadan. Rasionalitas pernikahan ini dimulai dari titik nol, lalu berkembang secara alami menuju level yang baik, sehingga masa dengan pernikahan ini lebih baik daripada permulaannya.

Dalam sebuah tulisan yang dimuat majalah Kullu Al-Usrah yang berjudul “Cinta dan Kesuksesan Pernikahan” diutarakan, “Bisikan hati menjerumuskan kepada kegagalan, sedangkan bimbingan akal menjamin kebahagiaan. Jangan menikah dengan orang yang kau cintai dan jangan menjalin hubungan dengan orang yang kau sukai. Nikahilah orang yang dipilih oleh akalmu, bukan hatimu. Sebab, pilihan akal pasti tepat, sedangkan pilihan hati tunduk pada dorongan nafsu. Orang yang menikah dengan alasan emosional pasti menuai kegagalan, cepat atau lambat. Orang memang dapat mewujudkan pernikahan atas dasar pilihan hati dan akal sekaligus, dengann syarat pilihan akal harus tetap diprioritaskan. Penelitian yang dilakukan di Universitas Ain Syams beberapa waktu yang lalu merekomendasi-kan hal ini. Penelitian ini menunjukkan bahwa 75% pernikahan yang dilakukan setelah proses pacaran yang romantis berujung pada kegagalan total dan perceraian. Sedangkan pernikahan yang dilakukan atas dasar perjodohan, baik dikenalkan oleh keluarga, teman, atau tetangga menunjukkan jumlah keberhasilan yang mencengangkan melebihi angka 95%.”

Abdullah Bajeber, dalam artikelnya yang berjudul “Siapakah yang Memilih Istri?” mengatakan, “Pernikahan yang sukses biasanya terjadi antara dua orang yang menyadari bahwa cinta hanyalah salah satu –bukan satu-satunya- unsur pernikahan. Dalam skala seratus, cinta hanya 30% dari porsi pernikahan. Unsur lain, yang lebih banyak dan lebih penting, adalah sikap saling memahami, kasih saying, kesanggupan memikul tanggung jawab, dan kegigihan menyukseskan pernikahan, dan bukannya menyerah pada saat menghadapi masalah pertama.”

tags: , ,

Related Pos :