Pengertian zakat

By Admin | pengertian

Pengertian zakat merupakan suatu cara dalam menyebutkan hak Allah yang dikeluarkan oleh seorang hamba kepada hamba-hamba tertentu dan menggunakan syarat-syarat tertentu pula. Dikatakan zakat karena didalamnya mengandung berbagai harapan dalam mencapai suatu keberkahan, dapat juga dijadikan sebagai suatu cara dalam membersihkan jiwa dengan melahirkan berbagai kebaikkan yang membawa manfaat bagi semua. Sedangkan zakat menurut bahasa yang berasal dari kata al-numuw dan thaharah, dimana al-numuw itu sendiri dapat diartikan bertambah banyak dan mengandung berkah, sedangkan thaharah artinya suci. Seperti yang terdapat dalam firman Allah: “pungutlah zakat dari harta-harta mereka yang akan membersihkan dan menyucikan mereka”.
Zakat termasuk salah satu rukun islam setelah shalat seperti yang telah dijelaskan dalam 82 ayat Al-Qur’an. Dan Allah juga telah menetapkan bahwa mengeluarkan zakat adalah kewajiban setiap umat islam melalui kitabnya, perantara rasulnya dan juga melalui ijma’ umatnya.
Pada permulaan islam (shadr al-islam), yang berada diMekkah, berkenaan dengan besar dan jumlah pengeluaran zakat, masih atas dasar kesadaran muslim masing-masing, artinya belum ditentukan berapa banyak yang wajib mereka keluarkan dalam setiap harta yang mereka miliki. Namun beberapa lama setelah masa itu, besar dan jumlah pengeluaran zakat yang wajib dikeluarkan mulai ditetapkan secara rinci, sebab pada masa ini umat muslim sudah banyak yang mengerti tentang islam secara keseluruhan, dan pada masa ini berpusat di Madinah.

penertian-zakat
Zakat diwajibkan atas orang islam dan merdeka yang memiliki senisab harta secara sempurna. Ada juga sebagian dari ulama yang berpendapat bahwa anak-anak dan orang gila tidak dikenakan kewajiban dalam mengeluarkan zakat karena menurut mereka zakat adalah suatu ibadah seperti halnya shalat, jadi mereka tidak dibebani dalam menjalankan ibadah. Namun, Imam Syafi’i dan Jumhur ulama berpendapat bahwa anak-anak dan orang gila wajib untuk mengeluarkan zakat karena pertama, bahwa zakat itu pahala bagi yang berzakat dan memberi belanja bagi orang fakir. Anak-anak dan orang gila dapat memperoleh pahala, termasuk pemberi belanja dan yang menanggung nafkah adalah kerabat-kerabatnya. Kedua, hadis yang menerangkan bahwa Rasulullah bersabda: “Berusahalah pada harta anak yatim, akan harta itu tidak termakan oleh zakat.”
Bagaimana dengan orang yang memiliki harta senisab, tetapi memiliki hutang yang jika harta itu dizakatkan tidak akan cukup sampai senisab? Sebagian ulama berpendapat bahwa hartanya tidak dikenai zakat, kecuali setelah ia membayar hutang-hutangnya, dan jumlah sisanya masih senisab. Menurut Abu Hanifah, hutang tidak berpengaruh terhadap zakat biji-bijian tetapi harus diperhitungkan pada zakat harta lainnya. Namun, menurut Imam Syafi’i, hutang sama sekali tidak mempengaruhi kewajiban zakat. Zakat merupakan ibadah yang kewajibannya dikaitkan dengan pemilikkan senisab harta; bila syarat itu terpenuhi, ibadah zakat menjadi wajib. Zakat itu terikat dengan harta yang ada ditangannya, sedangkan hutang terkait dengan tanggung jawab; keduanya tidak saling mempengaruhi. Selain itu, hak Allah pada zakat lebih menonjol ketimbang manusia. Oleh karena itu, kewajiban zakat tidak dapat dihalangi oleh kewajiban hutang terhadap manusia.
Jika seseorang telah mampu untuk mengeluarkan zakat, maka sebaiknya segera dilaksanakan. Jika ia tidak berkenan mengeluarkan zakat dan tidak mengakui kewajibannya dalam mengeluarkan zakat tersebut, maka dia telah termasuk dalam orang yang kafir dan mati atas kekafirannya. Sedangkan orang yang tidak mau mengeluarkan zakat tetapi mengakui akan kewajibannya tersebut maka zakat tersebut diambil secara faksa dan dihukum ta’zir. Jika orang tersebut masih bersikeras tidak mau mengeluarkan zakatnya, maka dia akan berhadapan dengan pemerintah sebagaimana yang telah dilakukan oleh Abu Bakar atas para pembangkang zakat dizamannya.
Apabila orang yang berkewajiban mengeluarkan zakat namun meninggal sebelum sempat mengeluarkan zakat maka zakatnya harus dikeluarkan dari harta yang ia tinggalkan, sekalipun orang tersebut tidak berwasiat, karena hutang kepada Allah lebih utama dan haruslah didahulukan atas hak-hak lainnya. Seperti sabda Rasulullah: “hutang kepada Allah lebih utama (penting) untuk dibayar.” Inilah pendapat Imam Syafi’i, Ahmad, dan beberapa ulama lainnya.


Related Pos :