Pengertian Wakaf Dan Rukunnya

By Admin | pengertian

Pengertian wakaf ialah menyerahkan suatu benda yang kekal zatnya untuk diambil manfaatnya, baik oleh kepentingan umum (masyarakat) ataupun oleh perorangan. Wakaf ini sangat dianjurkan oleh Allah Swt sehingga para sahabat Nabi Muhammad Saw banyak yang mengamalkanya. Allah Swt berfirman: “Berbuatlah kebaikan, supaya kamu mendapat kemenangan”. (Q.S. Al-Hajj, 22: 77). Juga Allah Swt berfirman: “ Kamu sekali-kali tidak sampai pada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu sayangi.” (Q.S. Ali- Imran, 3: 92).

fd

Rasulullah Saw bersabda: “Bila orang itu meninggal dunia, maka putuslah amalnya kecuali tiga perkara; 1. Sedekah Jariah, 2. Ilmu yang bermanfaat, dan 3. Anak yang soleh yang mendoakannya.” (H.R. Jamaah, kecuali Bukhari dan Ibnu Majah).


Yang termasuk kedalam sedekah jariah, yaitu sedekah yang pahalanya terus mengalir kepada yang bersedekah selama yang disedekahkan masih bermanfaat adalah wakaf.

Adapun beberapa hal yang termasuk dalam rukun wakaf adalah sebagai berikut:

a. Wakaf (yang berwakaf) dengan syarat kehendak sendiri bukan karena bersedah hanya karena ada unsure paksaan dari pihak lain.

b. Maukuf atau barang yang diwakafkan syaratnya harus kekal (walaupun manfaatnya diambil), dan harus kepunyaan yang berwakaf dan hak miliknya dapat berpindah-pindah dan setiap harta yang sudah diwakafkan maka tidak boleh dijual, tidak boleh diberikan (hibah), dan tidak boleh diwariskan (dipusakakan).

c. Maukuf ‘alaihi (tempat berwakaf). Jika wakaf itu diserahkan kepada perorangan, maka orang yang menerima wakaf itu syaratnya berhak memiliki. Jadi tidak sah berwakaf kepada hamba sahaya dan kepada anak yang masih dalam kandungan ibunya. Berwakaf kepada umum dan untuk kemaslahatan umum hendaknya lebih diutamakan. Misalnya kepada para pakir miskin, para ulama, para pelajar yang tidak mampu, masjid-masjid, sekolah-sekolah, rumah sakit-rumah sakit, dan sebagainya.

d. Lafal atau ucapan wakaf. Contoh: “Saya wakafkan tanah milik saya seluas 200 meter persegi ini, agar dibangun masjid diatasnya.” Kalau wakaf itu kepada orang tertentu hendaklah ada ucapan Kabul (jawab penerimaan), dan kalau kepada umum tidak disyaratkan. Selain itu lafal wakaf tidak boleh pakai ta’lik (syarat), karena maksud wakaf itu ialah perpindahan hak milik pada waktu itu juga dan tidak untuk sementara tetapi untuk selamanya. Contoh lafal wakaf yang tidak sah: “Saya wakafkan tanah sawah milik saya ini kepada para fakir miskin selama satu tahun”.
Dikutip dari: buku karangan Syamsuri yang berjudul PendidikanAgama Islam Untuk SMA Kelas x. Penerbit Erlangga. Hal. 149-150.

Related Pos :