Pengertian Sunnah Menurut Para Ahli

By Admin | pengertian

zsa

A. Pengertian sunnah menurut ahli hadist

Sunnah ialah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad Saw, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, budi pekerti, perjalanan hidup, baik sebelum menjadi rasul maupun sesudahnya.


Ahli hadist mendefinisikan sunnah sebagaimana diatas karena mereka memandang Rasul sebagai uswatun hasanah (contoh atau teladan yang baik). Oleh karena itu, mereka menerima secara utuh segala yang diberitakan tentang diri Rasulullah Saw, tanpa membedakan apakah yang diberitakan itu berhubungan dengan hukum syara’ atau tidak. Mereka juga tidak memisahkan antara sebelum menjadi Rasul atau sesudahnya.

Pendapat tersebut didasarkan kepada Firman Allah Swt. dalam surat Al- Ahsab ayat 21:

“sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah”.

Dalam hadist riwayat Al-Hakim dari Abu Hurairah disebutkan Nabi Muhammad Saw bersabda:

“Aku tinggalkan kalian dua pusaka. Kalian tidak akan sesat setelah (berpegang) pada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku.” (HR. Al-Hakim).

Lebih jauh lagi, ada yang mengatakan bahwa sunnah itu tidak hanya terbatas pada apa yang disandarkan kepada Nabi, tetapi termasuk juga segala sesuatu yang disandarkan kepada sahabat dan tabi’in.

B. Pengertian sunnah menurut Ahli Ushul

Sunnah adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad Saw selain Al-Qur’an Al-Karim, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrirnya yang pantas untuk dijadikan dalil bagi hukum syara’.

Definisi Ahli Ushul ini membatasi pengertian sunnah hanya pada sesuatu yang bersumber dari Nabi, baik perkataan, perbuatan maupun taqrirnya yang berkaitan dengan hukum syara’. Dengan demikian, sifat, perilaku, sejarah hidup, dan segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad Saw yang tidak berkaitan dengan hukum syara’ tidak dapat dikatakan sunnah. Demikian juga halnya dengan segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad Saw sebelum beliau diutus menjadi Rasul.

Pemahaman Ahli Ushul terhadap sunnah sebagaimana tersebut diatas, didasarkan pada argumentasi bahwa Rasulullah Saw adalah pembawa dan pengatur undang-undang yang menerangkan kepada manusia tentang Dustur Al-Hayat (undang-undang hidup) dan menetapkan kerangka dasar bagi para mujtahid yang hidup sesudahnya. hal-hal yang tidak mengandung misi seperti ini tidak dapat dikatakan sunnah. Oleh karena itu, ia tidak dapat dijadikan sumber hukum.

Banyak ayat Al-Qur’an yang dapat dijadikan argumentasi bagi pemahaman Ahli Ushul diatas, salah satu diantaranya seperti Firman Allah Swt dalam surat Al-Hasyr ayat 7:

Artinya: “… apa yang diberikan Rasulullah Saw kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa-apa yang dilarang bagimu, maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (Q.S. Al-Hasyr: 7).

Ayat ini memerintahkan kepada umat islam agar menaati segala ketentuan yang telah digariskan Rasulullah Saw baik mengenai perintah maupun larangannya.

C. Pengertian sunnah menurut Ahli Fiqih

Sunnah adalah segala sesuatu yang apabila dikerjakan lebih baik dari pada ditinggalkan, kelebihan ini tidak berarti larangan (ancaman) karena meninggalkannya, seperti sunnah-sunnah dalam shalat dan wudhu. Pekerjaan sunnah ini membawa kemanfaatan, sehingga dianjurkan untuk mengerjakannya. Jelaslah bahwa yang mengerjakan akan mendapat pahala dan bagi yang meninggalkannya tidak akan mendapat siksa.

Ulama Ahli Fiqih mendefinisikan sunnah seperti ini karena mereka memusatkan pembahasan tentang pribadi dan prilaku Rasulullah Saw pada perbuatan-perbuatan yang melandasi hukum syara’ agar diterapkan pada perbuatan manusia pada umumnya, baik yang wajib, haram, makruh, mubah maupun sunnah. Oleh karena itulah, apabila mereka berkata, perkara ini sunnah, maksudnya mereka memandang bahwa pekerjaan ini mempunyai nilai syariat yang dibebankan oleh Allah Swt. kepada setiap orang yang baligh dan berakal dengan tuntunan yang tidak mestinya. Dengan kata lain, tidak fardu dan tidak wajib (menurut ulama Hanafiyah) dan tidak wajib (menurut ulama fiqih lainnya).


Related Pos :