Pengertian, sejarah dan macam-macam tarekat

By Admin | Umum

pengertian, sejarah dan macam-macam tarekat

Manusia mempunyai dua alat untuk mengetahui, yaitu akal dan kalbu. Akal merupakan alat untuk berpikir secara rasional melalui pengamatan dan penelitian indera terhadap objek-objek yang bersifat material. Kalbu tidak ada kaitannya dengan panca indera ia langsung memperoleh pengetahuannya dari sumber pertamanya, Tuhan. Dalam sejarah Islam, kedua alat tersebut telah dikembangkan, akal dikembangkan oleh kaum tiolog, kaum filosof dan kaum mufassirin, sedangkan kalbu oleh kaum sufi sejak abad ke-8 M; yang selanjutnya berkembang menjadi organisasi kaum sufi di abad ke-12 M, bertujuan melestarikan ajaran-ajaran sufi besar tentang pendekatan diri kepada Tuhan. Tarekat ini muncul setelah Al-Ghazali menghalalkan tasawuf yang semula dianggap sesat. Berikut beberapa penjelasan singkat tentang pengertian, sejarah dan macam-macam tarekat.

A. Pengertian tarekat


Secara etimologis pengertian tarekat berasal dari bahasa Arab, thariqah, yang berarti jalan, jalan kecil atau gang. Secara terminologis, tarekat adalah jalan yang harus ditempuholeh setiap kaum sufi untuk mencapai tujuannya, mendekatkan diri kepada Tuhan sedakat-dekatnya, istilah ini dipakai sampai abad ke-11 M, digunakan untuk menunjukkan suatu metode psikologi moral dalam membimbing seseorang untuk mengenal Tuhan. Dalam perkembangan selanjutnya, tarekat menjadi organisasi keagamaan kaum sufi dengan jumlahnya banyak dan nama yang berbeda-beda. Tarekat ini tersebar ke Asia Tenggara, Asia Tengah, Afrika Timur, Afrika Utara, India, Iran dan Turki.

Walaupun tarekat ini berbeda-beda, dalam realitas mengarah kepada tujuan yang sama, yaitu berada sedekat mungkin dengan Tuhan. Semuanya bercorak moral; hidup zuhud, jujur, sabar, khusyuk; cinta, tawakal, dan sebagainya seperti yang diserukan Islam. Perbedaan itu hanya terdapat dalam aturan-aturan praktis saja. Tarekat yang tersebar ke seluruh penjuru dunia telah memainkan peranan penting dalam bidang agama, social, budaya dan politik.

Dengan demikian, antara tasawuf dan tarekat sebenarnya sama; tarekat merupakan kelanjutan dari tasawuf. Secara praktis tasawuf dilakukan secara perorangan, terutama oleh orang-orang suci (sufi), termasuk para wali; sedangkan tarekat dilakukan secara kolektif, membentuk sebuah organisasi yang melestarikan ajaran-ajaran kaum sufi yang menjadi syekh (guru)nya. Tarekat memakai tempat sebagai pusat kegiatan mereka yang disebut ribath zawiyah, hanggkah (Persia), pakir (Turki).

B. Sejarah tarekat

Sebagaimana telah disinggung di muka, tarekat merupakan kelanjutan dari tasawuf. Sebagai halnya kaum sufi, para penganut tarekat bertujuan mendekatkan diri kepada Tuhan melalui tahapan-tahapan yang disebut maqam. Ajaran tasawuf yang pada mulanya diamalkan oleh sufi bersangkutan, selanjutnya disampaikan kepada orang lain secara perorangan ataupun secara kelompok.

Dengan demikian, timbul di kalangan umat Islam kumpulan-kumpulan sufi dengan sufi tertentu sebagai guru, syekh, mursyid (yang mempunyai keramat) dengan murid-murid tertentu pula.

Tempat pembinaan murid mulanya dipusatkan di rumah syekh, tetapi setelah anggotanya bertambahbanyak, segera bermunculan ribath dan zawiyyah sebagai perkampungan khusus untuk pendidikan murid. Sufi besar (syekh) yang mempunyai keramat senantiasa didatangi oleh muridnya.

Anggota tarekat terdiri dari dua kelompok, yaitu murid dan pengikut awam. Murid adalah pengikut yang tinggal di dalam ribath dan memutuskan perhatian kepada ibadahnya. Pengikut awam adalah mereka yang tinggal di luar ribath serta tetap bekerja dengan pekerjaan mereka setiap hari. Tetapi, pada waktu-waktu tertentu mereka juga ikut berkumpul untuk menjalani latihan spiritual para murid .

Murid yang dipandang oleh syekh telah berhasil mencapai tingkat tertinggi akan memperoleh ijazah (pengakuan untuk menjadi guru tarekat). Pemegang ijazah keluar dari ribath. Selanjutnya ia mengadakan dan memimpin ribath yang serupa atau dimodifikasi seperlunya ditempat lain. Demikianlah sebuah tarekat dengan ribathnya yang berdiri di suatu tempat dapat meluas ke berbagai wilayah di dunia Islam, seperti ke Irak, Afrika Utara, Turki, India, bahkan Indonesia.

Pada perkembangan selanjutnya, setelah sufi-sufi besar meninggal dunia, para muridnya yang tersebar luas itu bertekad melestarikan ajaran-ajaran syekh mereka. Maka pada abad ke-12 M, terbentuklah organisasi-organisasi sufi dengan pengikutnya masing-masing. Dengan demikian, tarekat tidak mengandung arti metode atau jalan, tetapi organisasi atau kesatuan jamaah sufi dengan pengikutnya.

C. Macam-macam tarekat

Seperti halnya dalam teologi dan fikih, dalam tarekat pun terdapat banyak aliran. Dalam The Encylopedia of Islam disebutkan tarekat lebih dari 200 aliran. Cabang-cabang tarekat terbentuk di berbagai tempat tidak semuanya menghubungkan tarekatnya kepada nama tokoh pendiri pertama, tetapi kepada syekh pendiri cabang itu sendiri. Itulah sebabnya nama-nama tarekat banyak macamnya. Di samping itu, banyaknya guru tarekat yang mengembangkan ajaran tarekatnya masing-masing ikut menambah koleksi nama-nama tarekat. Pengembangan itu bukan pada aspek ibadah mahdhah, tetapi pada aspek riyadhah (latihan) yang berbeda.

Adapun beberapa macam tarekat yang muncul di abad ke-12 M, di antaranya sebagai berikut:

1. Tarekat Ghazaliah

Tarekat ini dinisbahkan kepada pendirinya, Abu Hamid Al-Ghazali (w. 505 H.) yang menulis Ihya’ ‘Ulum al-Din. Dia memberikan pedoman tasawuf secara praktis, yang kemudian diikuti oleh tokoh sufi berikutnya seperti ‘Abd Al-Qadir Al-Jailani dan Ahmad bin Rifa’i. dengan tarekatnya ia telah sampai kepada ma’rifat.

2. Tarekat Qadariah

Tarekat ini dinisbahkan kepada pendirinya, ‘Abd Al-Qadir Al-Jailani, lahir di Jailan (470 H) dan meninggal di Irak (561 H). Tarekatnya dikembangkan oleh para muridnya ke Yaman, Mesir, India, Turki, Afrika, Sudan, Cina sampai ke Indonesia.

3. Tarekat Rifa’iah

Tarekat ini dinisbahkan kepada pendirinya, Ahmad Rifa’i, berasal dari kabilah Arab, banu Rifa’ah. Ia lahir di Irak tahun 1106 M dan meninggal tahun 1182 M. tarekat ini tersebar luas ke Mesir dan Irak. Rifa’i dikenal sebagai sufi “yang meraung” , karena dalam zikirnya ia bersuara nyaring, meraung-raung.

4. Tarekat Suhrawardiah

Tarekat ini didirikan oleh Abu Al-Najib Al-Syuhrawardi (1097-1168 M). Karyanya berjudul Adab Al-Muridin. Tarekat ini kemudian dikembangkan oleh anak saudaranya, Syihab al-Din Abu Hash al-Baghdadiy (1145-1234 M) ia menyusun kitab Awarif Al-Ma’arif yang berisi aturan-aturan tarekat.

5. Tarekat Syadziliah

Tarekat ini didirikan oleh Nur Al-Din Ahmad bin ‘Abd Allah Al- Syadzili (1196-1258 M) dari Maroko. Pengikutnya tersebar ke Mesir, Afrika Utara, Afrika Barat, Andalusia, Siria dan Indonesia. Berbeda dengan sufi-sufi lainnya, Al-Syadzali tidak menekan perlunya tapa (bersemedi) dan tidak menganjurkan bentuk zikir tertentu yang disuarakan dengan lantang.

6. Tarekat Naqsabandiah

Tarekat ini didirikan oleh Muhammad ibn Muhammad Baha’ Al-Din Al-Naqsabani (1317-1389 M). tarekat ini tersebar ke Turki, India, Cina dan Indonesia.

Selain tarekat-tarekat yang telah disebutkan di atas, sebenarnya masih banyak tarekat yang berkembang di dunia Islam, khususnya yang berkembang pada abad ke-13 M.


Related Pos :