Pengertian Riba Dan Macam-Macamnya

By Admin | pengertian

1. Pengertian riba

Secara etimologis riba berarti tambahan (al-ziyadah). Dalam Kamus Al-Muhith disebutkan: rabba rubuwwan ka ‘uluwwan wa rabaan, yakni zada wa namay, yang berarti tumbuh dan berkembang, seperti bertambahnya sesuatu sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-Hajj ayat 5.

adas


2. Macam-macam riba

Menurut para ulama macam-macam riba ada empat macam, diantaranya:

a. Riba fadhli, yaitu tukar menukar barang sejenis yang barangnya sama, tetapi jumlahnya berbeda. Misalnya menukar 10 kg beas dengan 11 kg beras. Barang yang sejenis, misalnya, beras dengan beras, uang dengan uang, emas dengan emas.

b. Riba qardi, yaitu utang piutang dengan menarik keuntungan bagi piutangnya. Misalnya, seorang berutang Rp. 25.000,- dengan perjanjian akan dibayar Rp. 26.000,- ; atau seperti rentenir yang meminjamkan uangnya dengan pengembalian 30% perbulan.

c. Riba yadh, yaitu jual beli yang dilakukan seseorang sebelum menerima barang yang dibelinya dari si penjual tidak boleh menjualnya lagi kepada siapapun, sebab barang yang dibeli belum diterima dan masih dalam ikatan jual beli yang pertama.

d. Riba nasa’I, yaitu melebihkan pembayaran barang yang diperjualbelikan atau diutangkan karena dilambatkan waktu pembayarannya. Misalnya, menjual emas seharga Rp. 20.000,- jika dijual kontan, tetapi dijual Rp. 30.000,- jika diangsur (kredit).

Adapun barang-barang yang berlaku padanya riba adalah emas, perak, dan makanan yang mengenyangkan atau yang dapat mengenyangkan. Jual beli barang yang seperti itu, kalau sama jenisnya- seperti emas dengan emas, gandum dengan gandum- disyaratkan tiga hal, yaitu tunai, timbang terima, dan sama timbangannya. Jika berlainan jenis illat ribanya- seperti emas dengan perak- boleh tidak sama timbangnya, tetapi mesti tunai dan timbang terima. Jika berlainan jenis dan illat ribanya seperti perak dengan beras, boleh dijual bagaimana saja seperti barang yang lain, berarti disyaratkan dari tiga syarat tadi.

Sebagaimana dalam jual beli, dalam pengharaman riba ini terdapat beberapa hikmah, diantaranya sebagai berikut:

a. Agar manusia mengetahui usaha yang dihalalkan dan yang diharamkan yang berimplikasi terhadap perilaku keseharian mereka.

b. Sebagaimana bukti bahwa orang yang beriman dan bertakwa senantiasa meninggalkan barang riba.

c. Agar manusia menjauhi barang riba baik langsung atau tidak.

d. Dalam rangka kepedulian social, maka pengharaman riba dapat menghindarkan diri dari pemerasan dan penindasan kaum rentenir terhadap kelompok-kelompok manusia yang ekonominya lemah.

Sumber: dikutip dari buku karangan Drs. Supiana, M.Ag. dan M. Karman. M.Ag. yang berjudul Materi Pendidikan Agama Islam, di Terbitkan oleh PT Remaja Rosdakarya. Hal. 122-124.


Related Pos :