Pengertian Qiyas, Macam-macam Qiyas, Rukun dan Contoh Qiyas

Islam memiliki beberapa sumber hukum, yang pertama dan kedua tentu saja Al-quran dan Hadist (Sunnah) Nabi Muhammad Salallahu’alaihi Wassallam. Ketiga Ijma’ dan Qiyas menjadi sumber hukum Islam yang keempat. Nah, pada kesempatan kali ini admin akan membahas mengenai Pengertian Qiyas, Macam-macam Qiyas, Rukun Qiyas dan Contoh Qiyas. Yuk, kita uraikan satu persatu.

Pengertian Qiyas, Macam-macam Qiyas, Rukun dan Contoh Qiyas

Pengertian Qiyas Secara Bahasa dan Istilah

Pengertian Qiyas secara Bahasa adalah menerangkan, menyamakan atau membandingkan sesuatu dengan yang lain. Jadi qiyas adalah penetapan suatu hukum dan perkara yang baru yang belum ada pada masa sebelumnya namun memiliki kesamaan dalam sebab, manfaat, bahaya dan berbagai aspek dengan perkara terdahulu sehingga dihukumi sama.

Sedangkan secara istilah pengertian Qiyas menurut ulama ushul adalah menerangkan sesuatu yang tidak ada nashnya dalam Al Qur’an dan hadits dengan cara membandingkan dengan sesuatu yang ditetapkan hukumnya berdasarkan nash. Para ulama ushul juga membuat definisi lain, Qiyas adalah menyamakan sesuatu yang tidak ada nash hukumnya dengan sesuatu yang ada nash hukumnya karena adanya persamaan illat hukum.

Qiyas Menurut Pandangan Ulama

Qiyas menurut Pandangan ulama terbagi menjadi tiga kelompok, yakni:

1. Kelompok jumhur, mereka menggunakan qiyas sebagai dasar hukum pada hal-hal yang tidak jelas nashnya baik dalam Al Qur’an, hadits, pendapat shahabat maupun ijma ulama.

2. Mazhab Zhahiriyah dan Syiah Imamiyah, mereka sama sekali tidak menggunakan qiyas. Mazhab Zhahiri tidak mengakui adalanya illat nash dan tidak berusaha mengetahui sasaran dan tujuan nash termasuk menyingkap alasan-alasannya guna menetapkan suatu kepastian hukum yang sesuai dengan illat. Sebaliknya, mereka menetapkan hukum hanya dari teks nash semata.

3. Kelompok yang lebih memperluas pemakaian qiyas, yang berusaha berbagai hal karena persamaan illat. Bahkan dalam kondisi dan masalah tertentu, kelompok ini menerapkan qiyas sebagai pentakhsih dari keumuman dalil Al Qur’an dan hadits.

Bagaimana Kehujjahan Qiyas Menurut Jumhur Ulama ?

Jumhur ulama kaum muslimin sepakat bahwa qiyas merupakan hujjah syar’i dan termasuk sumber hukum yang keempat dari sumber hukum yang lain. Apabila tidak terdapat hukum dalam suatu masalah baik dengan nash ataupun ijma’ dan yang kemudian ditetapkan hukumnya dengan cara analogi dengan persamaan illat maka berlakulah hukum qiyas dan selanjutnya menjadi hukum syar’i. Diantara ayat Al Qur’an yang dijadikan dalil dasar hukum qiyas adalah firman Allah:

“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan. (Qs.59:2)

Apa Saja Rukun-rukun Qiyas ?

Adapun Rukun-rukun Qiyas terdiri dari empat hal, yaitu:

1. Asal (pokok).
Yaitu, apa yang terdapat dalam hukum nashnya baik dalam al-qur’an maupun Sunnah. Disebut dengan al-maqis alaihi. para ulama menetapkan beberapa persyaratan sebagai berikut:

  • Al-ashl tidak mansukh. Artinya hukum syarak yang akan menjadi sumber pengiasan itu masih berlaku pada masa hidup Rasulullah. Apabila telah dihapuskan ketentuan hukumnya, ia tidak dapat menjadi al-ashl.
  • Hukum syarak. Persyaratan ini sangat jelas dan mutlak, sebab yang hendak ditemukan ketentuan hukumnya melalui kias adalah hukum syarak, bukan ketentuan hukum yang lain.
  • Bukan hukum yang dikecualikan. Jika al-ashl tersebut merupakan pengecualian, tidak dapat menjadi wadah kias.

2. Fara’ (cabang),
yaitu sesuatu yang belum terdapat nash hukumnya, disebut pula al-maqîs. para ulama menetapkan beberapa persyaratan sebagai berikut:

  • Sebelum dikiaskan tidak pernah ada nas lain yang menentukan hukumnya.
  • Ada kesamaan antara ‘illah yang terdapat dalam al-ashl dan yang terdapat dalam al-far’u.
  • Tidak terdapat dalil qath’i yang kandungannya berlawanan dengan al-far’u.
  • Hukum yang terdapat dalam al-ashl bersifat sama dengan hukum yang terdapat dalam al-far’u.

3. Hukum al-ashl,
yaitu hukum syar’i yang terdapat dalam dalam nash dalam hukum asalnya. Yang kemudian menjadi ketetapan hukum untuk fara’. para ulama menetapkan beberapa persyaratan Hukum al-ashl, sebagai berikut:

  • Hukum tersebut adalah hukum syara’, bukan yang berkaitan dengan hukum aqliyyah atau adiyyah dan/atau lughawiyah.
  • ‘Illah hukum tersebut dapat ditemukan, bukan hukum yang tidak dapat dipahami ‘illahnya.
  • Hukum ashl tidak termasuk dalam kelompok yang menjadi khushshiyyah Rasulullah.
  • Hukum ashl tetap berlaku setelah waftnya Rasulullah, bukan ketentuan hukum yang sudah dibatalkan.

4. Illah,
adalah sifat yang didasarkan atas hukum asal atau dasar qiyas yang dibangun atasnya. Mengenai ‘Illah para ulama menetapkan beberapa persyaratan sebagai berikut:

  • Zhahir, yaitu ‘illah mestilah suatu sifat yang jelas dan nyata, dapat disaksikan dan dapat dibedakan dengan sifat serta keadaan yang lain.
  • ‘Illah harus mengandung hikmah yang sesuai dengan kaitan hukum dan tujuan hukum. Dalam hal ini, tujuan hukum adalah jelas, yaitu kemaslahatan mukalaf di dunia dan akhirat, yaitu melahirkan manfaat atau menghindarkan kemudaratan.
  • Mundhabithah, yaitu ‘illah mestilah sesuatu yang dapat diukur dan jelas batasnya.
  • Mula’im wa munasib, yaitu suatu ‘illah harus memiliki kelayakan dan memiliki hubungan yang sesuai antara hukum dan sifat yang dipandang sebagai ‘illah.
  • Muta’addiyah, yaitu suatu sifat yang terdapat bukan hanya pada peristiwa yang ada nas hukumnya, tetapi juga terdapat pada peristiwa-peristiwa lain yang hendak ditetapkan hukumnya.

Macam macam qiyas dan Contohnya

Berikut macam-macam qiyas beserta contoh dilihat dari segi kekuatan, kejelasan dan persamaaan:

1. Dari Segi Kekuatan Illat
Dilihat Dari Segi Kekuatan Illat yang Terdapat ada Furu’ dibanding dengan yang terdapat pada ashl, qiyas dibagi menjadi 3 macam yaitu:

a. Qiyas al-Aulawi: “yaitu suatu illat hukum yang diberikan pada ashl lebih kuat diberikan pada furu’” seperti yang terdapat pada QS. Al isro’ ayat 23 yang artinya:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

Contohnya: memukul orang tua diqiyaskan dengan menyakiti hati orang tua.

b. Qiyas al-Musawi: ” Suatu qiyas yang illatnya yang mewajibkan hukum, atau mengqiyaskan sesuatu pada sesuatu yang keduanya bersamaan dalam keputusan menerima hukum tersebut”.

Contohnya: menjual harta anak yatim diqiyaskan dengan memakan harta anak yatim.

c. Qiyas al-Adna : “Mengqiyaskan sesuatu yang kurang kuat menerima hukum yang diberikan pada sesuatu yang memang patut menerima hukum itu”. Contoh: mengqiyaskan jual beli apel pada gandum merupakan riba fadhl.

2. Dari Segi Kejelasan Illat
Dilihat Dari Segi Kejelasan Illat yang Terdapat Pada Hukum, qiyas dibagi dua yakni:

a. Qiyas al-Jaly: “Qiyas yang illatnya ditetapkan oleh nash bersamaan dengan hukum ashl atau nash tidak menetapkan illatnya tetapi dipastikan bahwa tidak ada pengaruh terhadap perbedaan antara nash dengan furu’”.

Contoh: mengqiyaskan budak perempuan dengan budak laki-laki. Qiyas jaly dibagi lagi menjadi 3 macam: Qiyas yang illatnya ditunjuk dengan kata-kata, seperti memabukkan adalah illat larangan meminum khamar yang sudah ada nashnya. Qiyas aulawi dan qiyas musawi.

b. Qiyas al–Khafy: “Qiyas yang illatnya tidak terdapat dalam nash”. Contoh: mengqiyaskan pembunuhan menggunakan bahan berat dengan pembunuhan menggunakan benda tajam.

3. Dari Segi Persamaan Cabang Kepada Pokok
Dilihat dari Dari Segi Persamaan Cabang Kepada Pokok , qiyas dibagi menjadi dua yakni:

a. Qiyas Ma’na ialah qiyas yang cabangnya hanya disandarkan kepada pokok yang satu. Hal ini di karenakan makna dan tujuan hukum cabang sudah cukup dalam kandungan hukum pokoknya, oleh karena itu korelasi antara keduanya sangat jelas dan tegas.

Contohnya: mengqiyaskan memukul orang tua kepada perkataan ah seperti yang telah dijelasnkan sebelumnya.

b. Qiyas Sibhi ialah qiyas yang fara’ dapat diqiyaskan kepada dua ashal atau lebih, tetapi diambil ashal yang lebih banyak persamaannya dengan fara’.

Contohnya: hukum merusak budak dapat diqiyaskan kepada hukum merusak orang merdeka, karena kedua-duanya adalah manusia. Tetapi dapat pula diqiyaskan kepada harta benda, karena sama-sama merupakan hak milik. Dalam hal ini budak diqiyaskan kepada harta benda karena lebih banyak persamaannya dibanding dengan diqiyaskan kepada orang merdeka. Sebagaimana harta budak dapat diperjualbelikan, diberikan kepada orang lain, diwariskan, diwakafkan dan sebagainya.

Itulah, penjelasan mengenai Pengertian Qiyas, Macam-macam Qiyas, Rukun Qiyas dan Contoh Qiyas. Semoga bermanfaat!

Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *