Pengertian Puasa Dan Macam-Macamnya

By Admin | pengertian

Pengertian puasa dalam bahasa Arab disebut shiyam dan shaum, yang berarti menahan (imsak) sesuatu, seperti dalam ayat: “inni nazhartu li Al-Rahman shauman”. Menurut syara’ puasa berarti menahan diri dari perbuatan tertentu dengan niat dan menurut aturan tertentu sejak terbit matahari hingga terbenam.

Ibadah puasa ini telah dikenal dan diwajibkan pada syariat agama-agama sebelum Islam sebagaimana dinyatakan dalam surat Al-Baqarah ayat 183: “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari tertentu…” Namun, menurut pendapat yang kuat, kewajiban puasa Ramadhan merupakan kekhususan bagi Nabi Muhammad Saw dan umatnya.

mn


Berikut beberapa macam puasa yang dapat Anda ketahui:
1. Puasa wajib
Puasa wajib ada tiga, yaitu wajib karena waktunya (puasa Ramadhan), wajib karena sebab tertentu (kafarat), dan wajib karena ia sendiri mewajibkannya (puasa nazar). Dari ketiga macam puasa wajib ini hanya puasa Ramadhan dan akan menjadi fokus dalam tulisan ini.

Puasa Ramadhan disyariatkan pada bulan sya’ban tahun ke-2 Hijrah. Puasa ini termasuk rukun Islam. Ulama telah sepakat mengenai kewajiban melaksanakannya berdasarkan dalil Al-Qur’an, As-sunnah, dan Ijma’ ulama. Dalil Al-Quran dapat dijumpai dalam surat Al-Baqarah ayat 183-perhatikan lafazd kutiba. Selain ayat tersebut, Al-Qur’an menjelaskan dalam ayat 185 pada surat yang sama: “Karena itu barang siapa diantar kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya bulan Ramadhan), maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.”

Sesuai dengan namanya, puasa Ramadhan dilaksanakan setiap hari dibulan Ramadhan, sejak hari pertama hingga hari terakhir. Awal Ramadhan dapat diketahui dengan menyempurnakan bilangan bulan sya’ban 30 hari, atau dengan melihat (ru’yah) anak bulan (hilal) Ramadhan itu sendiri. Nabi bersabda: “Berpuasalah kamu karena melihat bulan, bukanlah karena melihatnya. Jika pandangan kamu dihalangi oleh kabut, maka sempurnakanlah bilangan sya’ban tiga puluh hari.”

2. Puasa sunnah

Dalam puasa sunnah, sebenarnya tidak ada pembatasan waktu pelaksanaannya. Namun yang perlu dicatat, baik puasa wajib maupun puasa sunnah, haram dan tidak sah dilakukan pada hari-hari tertentu, yakni pada dua hari raya dan pada hari tasyriq, yakni tiga hari sesudah idul adha sebagaimana yang dijelaskan Nabi. Disamping itu, dipandang makruh berpuasa sehari saja, hanya pada hari jum’at atau sabtu.

Kecuali pada hari diatas, sepanjang tahun puasa sunnah dapat dan baik dilakukan, tetapi ada beberapa hari yang secara khusus dianjurkan berpuasa kepadanya:

• Puasa enam hari pada bulan syawal, sesuai dengan hadist Nabi: “barangsiapa berpuasa dibulan Ramadhan kemudian mengiringinya dengan berpuasa enam hari pada bulan syawal maka itu menjadi seperti puasa setahun.” Puasa syawal dapat dilakukan secara berturut-turut atau tidak.

• Puasa pada hari Arafah, khususnya bagi orang yang tidak melakukan ibadah haji, pada tanggal 9 dzulhijah.

• Puasa hari Asyurah (10) dan Tasu’a (9) bulan muharam.

• Puasa tiga hari setiap bulan yaitu pada tanggal 13, 14, 15, karena Nabi pernah melakukannya.

• Puasa hari Senin dan Kamis seperti yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw dahulu.

• Puasa bulan Muharam dan Sya’ban.

 

 

Sumber: dikutip dari buku karangan Drs. Supiana, M.Ag. dan M. Karman. M.Ag. yang berjudul Materi Pendidikan Agama Islam, di Terbitkan oleh PT Remaja Rosdakarya. Hal. 83-84 dan 88-89.

Related Pos :