Pengertian Nikah

By Admin | pengertian

nh

Pengertian nikah secara etimologis berarti mengumpulkan (al-dhamm) dan menggauli (al-wath’), misalnya dikatakan: “Tanakahat al-asyjar idza tamayalat wa idhamma ba’dhuha ila ba’dh; Terjadinya perkawinan antara kayu dan kayu itu saling condong dan bercampur satu sama lain”. Dalam pengertian majaz, orang menyebut nikah dengan akad, sebab akadlah yang membolehkan (orang melakukan) senggama.

Sedangkan pengertian nikah secara terminologis, terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama. Menurut Hanafiah, nikah adalah akad yang memberikan faedah memiliki, bersenang-senang dengan sengaja. Syafi’iah berpendapat bahwa nikah adalah akad yang mengandung ketentuan hukum dibolehkannya watha’ (senggama) dengan lafazh nikah atau tajwiz atau yang semakna dengan keduanya. Malikiah berpendapat bahwa nikah adalah akad yang mengandung ketentuan hukum semata-mata untuk membolehkan watha’, senggama, bersenang-senang, dan menikmati apa yang ada pada diri wanita yang boleh nikah dengannya. Menurut Hanabilah, nikah adalah akad yang mempergunakan lafazh nikah atau tajwij untuk membolehkan manfaat bersenang-senang dengan wanita.


Menurut batasan nikah diatas, dapat disimpulkan bahwa nikah lebih cenderung kepada hukum formil, yakni hanya melihat hukum halalnya hubungan seorang laki-laki dengan seorang perempuan, yang sebelumnya dihukumi haram. Mereka tidak memperhatikan tujuan, akibat, atau pengaruh nikah terhadap hak dan kewajiban suami-istri.

Para ulama mutakhkhirin, sebagaimana yang telah dikemukakan Abu Zahrah dalam mendefinisikan nikah telah memasukkan unsur hak dan kewajiban suami-istri kedalam pengertian nikah. Menurutnya, nikah adalah akad yang mengakibatkan halalnya pergaulan antara laki-laki dan perempuan serta pembatasan milik, hak, dan kewajiban mereka.

Jadi, batasan kedua tentang nikah ini lebih menonjolkan aspek sosial keagamaan; disamping melihat hukum halalnya hubungan antara suami-istri, juga melihat aspek akibat hukumnya, yakni saling mendapat hak dan kewajiban. Serta bertujuan mengadakan pergaulan yang dilandasi tolong-menolong. Karena perkawinan termasuk pelaksanaan syariat Islam, didalamnya terkandung maksud dan tujuan, yakni mengharap ridho Allah.

Dalam undang-undang perkawinan Nomor 1 tahun 1974 disebutkan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

 

 
Sumber: dikutip dari buku karangan Drs. Supiana, M.Ag. dan M. Karman. M.Ag. yang berjudul Materi Pendidikan Agama Islam, di Terbitkan oleh PT Remaja Rosdakarya. hal. 125-126.


Related Pos :