Pengertian Mawaris Beserta Rukun Dan Syarat Dalam Pembagian Warisan

By Admin | pengertian

Pengertian mawaris secara etimologis merupakan bentuk jamak dari kata mirats, (irts, wirts, wiratsah, dan turats) yang berarti warisan harta peninggalan orang yang meninggal yang diwarisi oleh para warisnya. Orang yang meninggalkan harta disebut muwarits, sedangkan yang berhak menerima waris disebut warits. Sayyid Sabiq menggunakan istilah faraid untuk waris ini, yang artinya bagian yang telah ditentukan bagi ahli waris. Ahli fikih (fuqaha) telah mendalami masalah-masalah yang berkaitan dengan warisan, menulis buku-buku mengenai masalah ini, dan menjadikannya sebuah disiplin ilmu dengan sebutan Ilmu Mawaris atau Ilmu Faraid.

bn

Al-Qur’an sendiri banyak menggunakan kata waratsa, seperti dalam surat Al-Naml ayat 6 (dan Sulaeman mewarisi Dawud); surat Al-Zumar ayat 74 (… dan telah member kepada kami tempat ini); dan surat Maryam ayat 6 (… yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’kub). Demikian juga, dengan kata farada dan kata jadiannya banyak digunakan dalam Al-Qur’an, seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 237 dengan term faradtum; surat Al-Tahrim ayat 2 dengan term farada; dan surat An-Nisa ayat 7 dengan term mafrudan.


Orang-orang Arab sebelum Islam hanya memberikan warisan kepada lelaki saja; kaum perempuan tidak mendapatkannya, dan hanya memperuntukkannya bagi yang sudah dewasa; anak-anak tidak mendapatkannya. Dalam tradisi mereka, ada juga waris yang didasarkan perjanjian. Hal ini terus berlangsung sampai permulaan Islam, sampai turun ayat yang menjelaskan bahwa lelaki mendapat bagian warisan dari harta peninggalan orang tua dan kerabat-kerabat terdekat, baik harta itu sedikit maupun banyak (Q.S. An-Nisa: 7).

Cara warisan lain dimasa jahiliah yang terus menerus berlaku hingga permulaan Islam adalah melalui adopsi (al-tabanniy). Di zaman jahiliyah, seseorang lazim mengangkat anak orang lain sebagai anaknya dan dinisbatkan kepadanya, tidak lagi kepada ayahnya sendiri, dan anak itu menerima warisan dari orang tua angkat. Hal serupa dilakukan Rasulullah ketika mengadopsi Zaid bin Haritsah, sehingga menyebut Zaid dengan Zaid bin Muhammad. Beliau mengadopsi Zaid setelah dimerdekakannya. Karena itu, Rasulullah ditegur dengan turunnya surat Al-Ahzab ayat 4-6 yang menegaskan bahwa Muhammad bukan ayah dari seorang anak angkat (Zaid) dan anak angkat tidak dianggap anak sendiri, karena ia harus dinisbatkan kepada ayahnya. Dengan turunnya ayat tersebut, tradisi jahiliyah yang memberikan warisan kepada anak angkatnya dan menyamakan anak angkat dengan anak sendiri tersebut akhirnya hilang.

Adapun Rukun dan syarat pembagian warisan dibagi menjadi tiga, diantaranya:

1. Muwaris (pewaris) yaitu orang yang meninggalkan atau mewariskan hartanya. Syaratnya, muwaris itu benar-benar telah meninggal dunia, baik meninggal secara hakiki, yuridis (hukmi), maupun secara perkiraan (taqdiri).

2. Maurus yaitu harta yang menjadi warisan si muwaris setelah diambil sebagian harta tersebut untuk membiayai perawatan- jika ia sakit sebelum meninggalnya-penyelenggaraan jenazah, penunaian wasiat, dan pelunasan segala hutang-hutangnya jika ia berhutang. Harta warisan ini, dalam istilah fikih disebut mirats, irts, turats, dan tarikah.

3. Waris (ahli waris) yaitu orang yang dinyatakan mempunyai kekerabatan- baik hubungan darah, hubungan sebab perkawinan maupun akibat memerdekakan budak- untuk dapat menerima harta warisan tanpa terhalang secara umum.

 
Sumber: dikutip dari buku karangan Drs. Supiana, M.Ag. dan M. Karman. M.Ag. yang berjudul Materi Pendidikan Agama Islam, di Terbitkan oleh PT Remaja Rosdakarya. hal. 139-140 dan 145-146


Related Pos :