Pengertian Ijtihad, Tujuan, Syarat, Kedudukan dan Fungsi Ijtihad

Buat kamu yang sedang mencari materi tentang Ijtihad, pada pokok bahasan kali ini admin akan mengulas tentang pengertian Ijtihad, Tujuan Ijtihad, Syarat Ijtihad, kedudukan dan Fungsi Ijtihad serta jenis-jenis atau Macam-macam Ijtihad dan Tingkatan-tingkatan Ijtihad. Berikut penjelasan lengkapnya yang akan kita uraikan satu persatu.

pengertian ijtihad

a. Pengertian Ijtihad

Menurut pengertian kebahasaan kata ijtihad berasal dari bahasa Arab, yang kata kerjanya “jahada” yang artinya berusaha dengan sungguh-sungguh. Menurut istilah dalam ilmu fikih, pengertian ijtihad adalah mengerahkan tenaga dan pikiran dengan sungguh-sungguh untuk menyelidiki dan mengeluarkan (meng-istinbat-kan) hukum-hukum yang terkandung didalam Al-Qur’andan hadist dengan syarat-syarat tertentu. Muslim yang melakukan ijtihad disebut mujtahid.

Sedangkan pengertian Ijtihad menurut wikipedia adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang.

b. Tujuan Ijtihad

Ijtihad dilakukan oleh orang yang benar-benar taat kepada allah dan memahami benar isi Al-Qur’an dan hadist. Dan Orang yang melakukan ijtihad disebut dengan mujtahid. Tujuan ijtihad yaitu menentukan sebuah hukum untuk memenuhi keperluan umat manusia akan pegangan hidup dalam beribadah kepada Allah di suatu tempat tertentu atau pada suatu waktu tertentu.

c. Syarat-Syarat Ijtihad (Mujtahid)

Agar ijtihadnya dapat menjadi pegangan bagi umat, seorang mujtahid harus memenuhi beberapa persyaratan. Yusuf al-Qardawi (ahli usul dan fikih), menjelaskan bahwa persyaratan pokok untuk menjadi mujtahid adalah:

  1. memahami Al-Qur’an dan asbabun nuzulnya (sebab-sebab turunnya ayat-ayat Al-Qur’an), serta ayat-ayat nasikh (yang menghapus hukum) dan mansukh (yang dihapus),
  2. memahami hadist dan sebab-sebab wurudnya (munculnya hadist-hadist), serta memahami hadist-hadist nasikh dan mansukh,
  3. mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang bahasa Arab,
  4. mengetahui tempat-tempat ijmak,
  5. mengetahui usul fikih,
  6. mengetahui maksud-maksud syariat,
  7. memahami masyarakat dan adat istiadatnya, dan
  8. bersifat adil dan takwa.

Selain delapan syarat tersebut beberapa ulama menambahkan tiga syarat lagi, yaitu:

  1. mendalami ilmu ushuluddin (ilmu tentang akidah Islam),
  2. memahami ilmu mantik (logika), dan
  3. mengetahui cabang-cabang fikih.

d. Kedudukan Ijtihad

Ijtihad menempati kedudukan sebagai sumber hukum Islam setelah Al-Qur’an dan Hadist. Dalilnya adalah Al-Qur’an dan Hadist. Allah Swt berfirman:

Artinya: “Dan dari mana saja kamu keluar maka palingkanlah wajahmu kea rah Masjidil Haram dan dimana saja kamu (sekalian) berada maka palingkanlah wajahmu kearahnya.” (Q.S. Al-Baqarah, 2: 150).

Dari ayat Al-Qur’an tersebut dapat dipahami bahwa orang yang berada jauh dari Baitullah (Ka’bah) Masjidil Haram, apabila hendak mengerjakan shalat, ia dapat mencari dan menentukan arah kiblat shalat itu (Masjidil Haram) melalui ijtihad dengan mencurahkan pikirannya berdasarkan tanda-tanda yang ada.

Hadist yang dijadikan dalil ijtihad ialah hadist riwayat Tirmidzi dan Abu Daud tentang dialog antara Rasulullah Saw dengan sahabatnya Mu’az bin Jabal, yang telah disebutkan di muka.

Hadist lainnya, yang juga dapat dijadikan dalil tentang kebolehan berijtihad adalah sabda Rasulullah yang artinya: “Apabila seorang hakim didalam menjatuhkan hukum berijtihad, lalu ijtihadnya itu benar, maka ia mendapat dua pahala. Apabila ijtihadnya itu salah, maka ia memperoleh satu pahala.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

e. Fungsi ijtihad

Fungsi ijtihad ialah untuk menetapkan hukum sesuatu, yang tidak ditemukan dalil hukumnya secara pasti didalam Al-Qur’an dan Hadist.

Masalah-masalah yang sudah jelas hukumnya, karena telah ditemukan dalilnya secara pasti didalam Al-Qur’an dan Hadist seperti kewajiban beriman pada rukun iman yang enam, kewajiban melaksanakan rukun Islam yang lama, maka masalah-masalah tersebut tidak boleh diijtihadkan lgi.

Ditinjau dari segi sejarah ijtihad, ijtihad telah dilakukan dari semenjak Rasulullah Saw masih hidup dan terus berlanjut hingga beliau wafat.

f. Jenis-jenis ijtihad

Adapun jenis-jenis Ijtihad atau macam-maca Ijtihad, yaitu sebagai berikut:

1. Ijmak

Pengertian Ijmak (Ijma’) secara bahasa ada dua yakni pertama berupaya (tekad) terhadap sesuatu. disebutkan berarti berupaya di atasnya.Seperti firman Allah SWT dalam (Qs.10:71) : “Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu. Sedangkan Pengertian kedua, berarti kesepakatan. Perbedaan arti yang pertama dengan yang kedua ini bahwa arti pertama berlaku untuk satu orang dan arti kedua lebih dari satu orang.

Sementara pengertian Ijma’ dalam istilah ahli ushul adalah kesepakatan semua para mujtahid dari kaum muslimin dalam suatu masa setelah wafat Rasulullah SAW atas hukum syara. Adapun pengertian Ijma’ dalam istilah teknis hukum atau istilah syar’i terdapat perbedaan rumusan yang mana terletak pada segi siapa yang melakukan kesepakatan itu.

Ijma’ terbagi dua yakni:

  1. Ijma qauli (ucapan); yaitu ijma dimana para Ulama ijtihad menetapkan pendapatnya baik dengan lisan maupun tulisan yang menerangkan persetujuannya atas pendapat mujtahid lain dimasanya.Ijma ini disebut juga ijma qathi.
  2. Ijma sukuti (diam); ialah ijma dimana para Ulama ijtihad berdiam diri tiada mengeluarkan pendapatnya atas mujtahid lain dan diamnya itu bukan karena takut atau malu. Ijma ini disebut juga ijma dzanni

2. Qiyâs

Pengertian Qiyas menurut ulama ushul adalah menerangkan sesuatu yang tidak ada nashnya dalam Al Qur’an dan hadits dengan cara membandingkan dengan sesuatu yang ditetapkan hukumnya berdasarkan nash. Para ulama ushul juga membuat definisi lain, Qiyas adalah menyamakan sesuatu yang tidak ada nash hukumnya dengan sesuatu yang ada nash hukumnya karena adanya persamaan illat hukum.

Dapat disimpulkan arti Qiyas adalah menetapkan suatu hukum atau suatu perkara baru yang belum ada pada masa sebelumnya namun memiliki kesamaan dalam sebab, manfaat, bahaya dan berbagai aspek dengan hukum yang terdapat dalam alquran atau Hadist sehingga dihukumi sama.

Sebagai contoh: hukum meminum khamar, nash hukumnya telah dijelaskan dalam Al Qur’an (Qs.5:90) yaitu hukumnya haram. Haramnya meminum khamr berdasar illat hukumnya adalah memabukan. Maka setiap minuman yang terdapat di dalamnya illat sama dengan khamar dalam hukumnya maka minuman tersebut adalah haram.

3. Istihsân

Istihsan berasal dari kata yang berarti “mencari kebaikan”. Istihsan juga berarti “sesuatu yang dianggap baik”, diambil dari kata al-husnu (baik). Secara terminologi, Imam Abu Hasan al-Karkhi mengatakan bahwa istihsan ialah “penetapan hukum dari seorang mujtahid terhadap suatu masalah yang menyimpang dari ketetapan hukum yang diterapkan pada masalah-masalah yang serupa, karena ada alasan yang lebih kuat yang menghendaki dilakukannya penyimpangan itu.

Sedangkan pengertian istihsan menurut DR. Wahbah al-Zuhaily mendefinisikan istihsan, yaitu “memakai qiyas khafi dan meninggalkan qiyas jali karena ada petunjuk untuk itu”. Disebut juga istihsan qiyasi.  Pengertian Qiyas jali didasarkan atas ‘illat yang ditegaskan dalam Quran dan sunnah, seperti menqiyaskan memukul kedua orang tua kepada larangan mengatakan “uf atau ah”. Qiyas khafi didasarkan atas ‘illat yang ditarik dari hukum ashal, seperti mengqiyaskan pembunuhan dengan benda tumpul kepada pembunuhan dengan benda tajam disebabkan persamaan ‘illat yaitu adanya kesengajaan. Qiyas jali lebih kuat daripada qiyas khafi, tapi jika mujtahid memandang bahwa qiyas khafi lebih besar mashlahatnya, maka qiyas jali boleh ditinggalkan.

Definisi istihsan yang lain: “Hukum pengecualian dari kaidah-kaidah yang berlaku umum karena ada petunjuk untuk hal tersebut.” Disebut juga istihsan istitsnai.

4. Maslahah murshalah

Kata mashlahah menurut bahasa berarti “manfaat”. Kata mursalah berarti “lepas”. Secara istilah, menurut Abdul Wahab Khalaf, mashlahah mursalah berarti “sesuatu yang dianggap mashlahat namun tidak ada ketegasan hukum untuk merealisasikannya dan tidak ada pula dalil tertentu baik yang mendukung maupun yang menolaknya”, sehingga disebut mashlahat yang lepas.

Jadi Definisi Maslahah murshalah adalah memutuskan masalah yang tidak ada naskahnya dengan pertimbangan kepentingan hidup manusia berdasarkan prinsip menarik manfaat dan menghindari kemudharatan.

5. Sududz Dzariah

Pengertian sududz dzariah adalah memutuskan suatu yang mubah menjadi makruh atau haram demi kepentingan umat.

6. Istishab

Kata istishhab secara etimologi berarti “meminta ikut serta secara terus-menerus”. Secara terminologi, istishhab ialah “menganggap tetapnya status sesuatu seperti keadaannya semula, selama belum terbukti ada sesuatu yang mengubahnya. Jadi, Istishab adalah tindakan menetapkan berlakunya suatu ketetapan sampai ada alasan yang bisa mengubahnya.

Contoh istishhab: Seseorang yang diketahui masih hidup pada masa tertentu, tetap dianggap hidup pada masa sesudahnya selama belum terbukti bahwa ia telah wafat. Begitupula seseorang yang telah berwudhu’, jika ia ragu, dianggap tetap wudhu’nya selama belum terjadi hal yang membuktikan batal wudhu’nya.

7. Urf

Pengertian Urf adalah menetapkan bolehnya suatu adat istiadat atau kebiasan masyarakat setempat selama kegiatan tersebut dianggap baik dan bermanfaat dengan tidak bertentangan terhadap hukum dalam Al-Qur’an dan Hadist.

g. Tingkatan-tingkatan Ijtihad

Menurut Para Ulama, Ijtihad terdiri dari beberapa tingkatan yaitu:

1. Al-Mujtahid al-Mustaqill

Al-Mujtahid al-Mustaqill yaitu mujtahid yang membangun fiqih atas dasar metode dan kaidah yang ditetapkannya sendiri. Atau dengan kata lain, mujtahid tersebut memiliki ushul fiqih dan fiqih sendiri yang berbeda dari ushul fiqih dan fikih mujtahid yang lain.

2. Al-Mujtahid al-Mutlaq ghair al-Mustaqill

Al-Mujtahid al-Mutlaq ghair al-Mustaqill yaitu seseorang yang telah memenuhi syarat-syarat untuk berijtihad,tetapi tidak memiliki metode tersendiri dalam melakukan ijtihad,ia melakukan ijtihad sesuai dengan metode yang telah digariskan oleh salah seorang imam dari imam- imam madzab.Contoh mujtahid peringkat ini,antara lain Abu Yusuf pengikut Abu Hanifah,ibnu al-Qashim pengikut Malik,al-Muzani dari kalangan pengikut al-Ayafi’i.

3. Al-Mujtahid al-Muqayyad atau al-Mujtahid al- Takhrij

Al-Mujtahid al-Muqayyad atau al-Mujtahid al- Takhrij yaitu seseorang yang telah memiliki syarat-syarat berijtihad, mampu menggali hukum dari sumber- sumbernya, tetapi tidak mau keluar dari dalil-dalil dan pandangan imamnya. Kendati demikian,dalam masalah-masalah yang tidak dibicarakan oleh imamnya, ia tampil untuk mengistinbathkan hukumnya. Dengan demikian, peringkat ini biasa disebut Mujtahid fi al-Madzab (mujtahid dalam suatu madzab). Di antara mujtahid pada peringkat ini yaitu: Hasan ibn Ziyad, al-Sarakhsi dari madzab Hanafi; ibn Abi Zaid dari madzab Maliki, Abu Ishaq al-Syirazi dari madzab Syafi’i.

4. Mujtahid al-Tarjih

Mujtahid al-Tarjih yaitu ahli fiqih yang berupaya mempertahankan madzab imamnya, mengetahui seluk-beluk pandangan imamnya, dan mampu men-tarjihkan pendapat yang kuat dari imam dan pendapat-pendapat yang terdapat dalam madzabnya. Contoh: al-Quduri dan al-Marginani dari madzab Hanafi.

5. Mujtahid al-Fatwa

Mujtahid al-Fatwa yaitu ahli fiqih yang berupaya menjaga madzabnya, mengembangkannya dan mengetahui seluk-beluknya, serta mampu memberikan fatwa dalam garis yang telah ditentukan oleh imam madzabnya.

Itulah pembahasan tentang pengertian Ijtihad, Tujuan Ijtihad, Syarat Ijtihad, kedudukan dan Fungsi Ijtihad serta jenis-jenis atau Macam-macam Ijtihad dan Tingkatan-tingkatan Ijtihad. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita semua. Terima kasih!

Tags: