Pengertian, Kedudukan dan Fungsi Hadist

By Admin | pengertian

a. Pengertian hadist

Perkataan hadist berasal dari bahasa Arab yang artinya baru, tidak lama, ucapan, pembicaraan, dan cerita. Menurut istilah ahli hadist yang dimaksud dengan hadist adalah segala berita yang bersumber dari Nabi Muhammad Saw yang berupa ucapan, perbuatan, dan takrir (persetujuan Nabi Saw) serta penjelasan sifat-sifat Nabi Saw.

pengartian hadist


Mengacu kepada definisi tersebut, hadist Nabi Saw, dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

1. Hadist Qauliyah, yaitu hadist yang didasarkan atas segala perkataan dan ucapan Nabi Saw. Misalnya sabda Rasulullah Saw yang menegaskan bahwa rukun iman itu ada enam dan rukun Islam itu ada lima.

2. Hadist/ Sunnah Fi’liyah, yaitu hadist/ sunnah yang didasarkan atas segenap perilaku dan perbuatan Nabi Muhammad Saw. Misalnya perbuatan-perbuatan Rasulullah Saw tentang tata cara mengerjakan shalat dan menunaikan ibadah haji.

3. Hadist/ Sunnah Takririyah, yaitu hadist yang disandarkan pada persetujuan Nabi Muhammad Saw atas apa yang dilakukan para sahabatnya. Nabi Muhammad Saw membiarkan penafsiran dan perbuatan sahabatnya atas suatu hukum Allah dan Rasul-Nya. Diamnya Rasulullah Saw menandakan persetujuannya. Contoh Hadist/ Sunnah Takririyah:

 Takrir Nabi Saw terhadap kaum wanita yang pergi meninggalkan rumahnya untuk mendatangi masjid, menghadiri pengajian, dan untuk keperluan-keperluan lainnya.

 Nabi Saw membiarkan sebagian sahabatnya berzikir dengan suara keras.

 Nabi Saw membiarkan orang buta melakukan jual beli.

b. Kedudukan hadist

Para ulama Islam berpendapat bahwa hadist menempati kedudukan pada tingkat kedua sebagai sumber hukum Islam setelah Al-Qur’an. Mereka beralasan kepada dalil-dalil Al-Qur’an Surah Ali-Imran, 3: 132, Surah Al-Ahzab, 33: 36 dan Al-Hasyr, 59:7, serta hadist riwayat Tirmidzi dan Abu Daud yang berisi dialog antara Rasulullah Saw dengan sahabatnya Mu’az bin Jabal tentang sumber hukum Islam.

Barang siapa yang tidak mengakui hadist sebagai sumber hukum Islam atau mengingkarinya, maka ia dianggap ingkar sunnah, dan dinyatakan murtad (keluar dari Islam atau kafir). (coba lihat Q.S. An-Nisa, 4: 80 !)

Dalam membahas kedudukan hadist sebagai sumber hukum Islam yang kedua, ada baiknya dibahas tentang kualitas hadist. Kualitas hadist dapat dilihat dari segi jumlah rawinya, nilai sanadnya dan perawi terakhir yang membukukan hadist.

c. Fungsi hadist

Fungsi atau peranan hadist (sunnah) disamping al-Qur’anul Karim adalah:

1. Mempertegas atau memperkuat hukum-hukum yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an (bayan at-taqri ri atau at-ta’kid).

2. Menjelaskan, menafsirkan, dan merinci ayat-ayat Al-Qur’an yang masih umum dan samar (bayan at-tafsir)

3. Mewujudkan suatu hukum dan ajaran yang tidak tercantum dalam Al-Qur’an (bayan at-tasyri), namun pada prinsipnya tidak bertentangan dengan Al-Qur’an.

 

 

Dikutip dari: buku karangan Syamsuri yang berjudul PendidikanAgama Islam Untuk SMA Kelas x. Penerbit Erlangga. Hal. 60-62.

Related Pos :