Pengertian Ijma’, Syarat dan Rukun Ijma’ Sebagai Landasan Hukum Islam

Ijma’ Ulama mungkin anda pernah mendengar kata tersebut ketika mendengar ustadz ceramah baik itu di mimbar, media sosial maupun televisi. Ijma’ merupakan Landasan atau dasar hukum Islam yang ketiga. Landasan Hukum Islam yang pertama tentu saja Al-Qur’an dan kedua adalah Hadist Nabi Muhammad Salallahu’alaihi Wassallam. Lalu, apa Pengertian Ijma’ , Syarat serta Rukun Ijma, ? Yes, untuk lebih jelas simak uraian lengkapnya dibawah ini.

Pengertian Ijma’, Syarat dan Rukun Ijma' Sebagai Landasan Hukum Islam

Pengertian Ijma’ Menurut Bahasa dan Istilah

Pengertian Ijma’ dapat didefinisikan menurut Bahasa dan Istilah. Adapun Definisi Ijma’ menurut bahasa mengandung dua arti yakni:

1. Pengertian pertama : berupaya (tekad) terhadap sesuatu. disebutkan berarti berupaya di atasnya. Seperti firman Allah SWT :…“Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu. (Qs.10:71)

2. Pengertian kedua, berarti kesepakatan. Perbedaan arti yang pertama dengan yang kedua ini bahwa arti pertama berlaku untuk satu orang dan arti kedua lebih dari satu orang.

Sedangkan Pengertian Ijma’ dalam istilah ahli ushul adalah kesepakatan semua para mujtahid dari kaum muslimin dalam suatu masa setelah wafat Rasulullah SAW atas hukum syara. Adapun pengertian Ijma’ dalam istilah teknis hukum atau istilah syar’i terdapat perbedaan rumusan yang mana terletak pada segi siapa yang melakukan kesepakatan itu.

Baca juga: Pengertian Ijtihad dan Fungsinya

Bagaimana Kehujjahan ijma’ ?

Ijma dapat menjadi hujah (pegangan) dengan sendirinya ditempat yang tidak didapati dalil (nash), yakni Al-Qur- an dan Al-Hadist. Dan tidak menjadi ijma kecuali telah disepakati oleh semua ulama Islam, dan selama tidak menyalahi nash yang qathi (Kitabullah dan hadist mutawatir).
Akan tetapi Kebanyakan ulama berpendapat bahwa nilai kehujahan ijma ialah dzanni, bukan qathi. Oleh karena nilai ijma itu dzanni, maka ijma itu dapat dijadikan hujjah (pegangan) dalam urusan amal, bukan dalam urusan itiqad, sebab urusan itiqad itu mesti dengan dalil yang qathi.

Pembagian Ijma’

Dalam lingkup yang luas Ijma’ ummat itu dibagi menjadi dua yakni Ijma qauli dan Ijma sukuti:

1. Ijma qauli (ucapan); yaitu ijma dimana para Ulama ijtihad menetapkan pendapatnya baik dengan lisan maupun tulisan yang menerangkan persetujuannya atas pendapat mujtahid lain dimasanya. Ijma ini disebut juga ijma qathi.

2. Ijma sukuti (diam); ialah ijma dimana para Ulama ijtihad berdiam diri tiada mengeluarkan pendapatnya atas mujtahid lain dan diamnya itu bukan karena takut atau malu. Ijma ini disebut juga ijma dzanni. Sebagian ulama berpendapat,bahwa suatu penetapan jika yang menetapkan hakim yang berkuasa dan didiamkan oleh para Ulama, belum dapat dijadikan hujjah. Tetapi sesuatu pendapat yang ditetapkan oleh seorang Faqih, lalu didiamkan para Ulama yang lain maka dapat dipandang ijma.

Disamping ijma ummat tersebut, masih ada macam-macam ijma’ yang lain dalam lingkup yang lebih sempit, yaitu :

(1). Ijma sahabat,
(2). Ijma Ulama Medinah,
(3). Ijma Ulama Kufah,
(4). Ijma Khulafa yang empat,
(5). Ijma Abu Bakar dan Umar, dan
(6). Ijma itrah, yakni ahli bait= golongan syiah.

Ijma’ dalam rumusan Al-Ghozali

Kesepakatan umat Muhammad SAW secara khusus atas suatu urusan agama Pandangan Imam Al-Ghozali ini mengikuti pandangan Imam Syafi’i yang menetapkan Ijma’ itu sebagai kesepakatan umat. Yang mana di dasarkan padakeyakinan bahwa yang terhindar dari kesalahan hanyalah umat secara keseluruhan bukan perorangan. Namun pendapat Imam Syafi’i ini mengalami perubahan dan perkembangan ditangan pengikutnya dikemudian hari.

Apa saja Rukun Ijma’ ?

Adapun rukun ijma’ dalam definisi di atas adalah adanya kesepakatan para mujtahid kaum muslimin dalam suatu masa atas hukum syara’. ‘Kesepakatan’ itu dapat dikelompokan menjadi empat hal:

1. Tidak cukup ijma’ dikeluarkan oleh seorang mujtahid apabila keberadaanya hanya seorang (mujtahid) saja di suatu masa. Karena ‘kesepakatan’ dilakukan lebih dari satu orang, pendapatnya disepakati antara satu dengan yang lain.

2. Adanya kesepakatan sesama para mujtahid atas hukum syara’ dalam suatu masalah, dengan melihat negeri, jenis dan kelompok mereka. Andai yang disepakati atas hukum syara’ hanya para mujtahid haramain, para mujtahid Irak saja, Hijaz saja, mujtahid ahlu Sunnah, Mujtahid ahli Syiah, maka secara syara’ kesepakatan khusus ini tidak disebut Ijma’. Karena ijma’ tidak terbentuk kecuali dengan kesepakatan umum dari seluruh mujtahid di dunia Islam dalam suatu masa.

3. Hendaknya kesepakatan mereka dimulai setiap pendapat salah seorang mereka dengan pendapat yang jelas apakah dengan dalam bentuk perkataan, fatwa atau perbuatan.

4. Kesepakatan itu terwujudkan atas hukum kepada semua para mujtahid. Jika sebagian besar mereka sepakat maka tidak membatalkan kespekatan yang ‘banyak’ secara ijma’ sekalipun jumlah yang berbeda sedikit dan jumlah yang sepakat lebih banyak maka tidak menjadikan kesepakatan yang banyak itu hujjah syar’i yang pasti dan mengikat.

Syarat Mujtahid dalam Ijma’

Dalam menetapkan Ijma’ tentunya ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang Mujtahid. Para Mujtahid hendaknya minimal memiliki 3 syarat:

1. Syarat pertama, memiliki pengetahuan sebagai berikut:

  • a) Memiliki pengetahuan tentang Al Qur’an.
  • b) Memiliki pengetahuan tentang Sunnah.
  • c) Memiliki pengetahuan tentang masalah Ijma’ sebelumnya.

2. Syarat kedua, memiliki pengetahuan tentang ushul fiqh.

3. Syarat ketiga, Menguasai ilmu bahasa.

As-syatibi menambahkan syarat selain yang disebut di atas, yaitu memiliki pengetahuan tentang maqasid al-Syariah (tujuan syariat). Karena menurutnya, seseorang tidak dapat mencapai tingkatan mujtahid kecuali menguasai dua hal:

1. ia harus mampu memahami maqasid al-syariah secara sempurna.

2. ia harus memiliki kemampuan menarik kandungan hukum berdasarkan pengetahuan dan pemahamannya atas maqasid al-Syariah.

Itulah penjelasan mengenai Pengertian Ijma’, Syarat dan Rukun Ijma’ Sebagai Landasan Hukum Islam. Semoga bermanfaat!

Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *