Pemikiran Filsafat Thomas Aquinas

By Admin | Umum

pemikiran filsafat Thomas Aquinas

Sebelum menginjak kepada pembahasan tentang pemikiran filsafat Thomas Aquinas, terlebih dahulu kami akan menggambarkan secara singkat tentang riwayat hidup Thomas Aquinas. Ia sebenarnya memiliki nama asli Santo Thomas Aquinas, yang artinya Thomas yang suci dari Aquinas. Disamping sebagai ahli pikir, ia juga seorang dokter gereja bangsa Italia. Ia lahir di Rocca Secca, Napoli, Italia. Ia merupakan tokoh terbesar Skolastisisme, salah seorang suci gereja Katolik Romawi dan pendiri aliran yang dinyatakan menjadi filsafat resmi gereja Katolik. Tahun 1245 ia belajar pada Albertus Magnus. Pada tahun 1250 ia menjadi guru besar dalam ilmu agama di Prancis dan tahun 1259 ia menjadi guru besar dan penasehat istana Paus.

Pemikiran filsafat Thomas Aquinas telah menandai taraf yang tinggi dari aliran Skolastisisme pada abad pertengahan.


Ia berusaha untuk membuktikan bahwa iman Kristen secara penuh dapat dibenarkan dengan pemikiran logis. Ia telah menerima pemikiran Aristoteles sebagai otoritas tertinggi tentang pemikirannya yang logis.

Menurut pemikirannya, semua kebenaran asalnya dari Tuhan. Kebenaran diungkapkan dengan jalan yang berbeda-beda, sedangkan iman berjalan di luar jangkauan pemikiran. Ia mengimbau agar orang-orang untuk mengetahui hukum alamiah (pengetahuan) yang terungkap dalam kepercayaan. Tidak ada kontradiksi antara pemikiran dan iman. Semua kebenaran mulai timbul dengan secara ketuhanan walaupun iman diungkapkan lewat beberapa kebenaran yang berada di luar kekuatan pikiran.

Thomas telah menafsirkan pandangan bahwa Tuhan sebagai Tukang Boyong yang tidak berubah dan yang tidak berhubungan dengan atau tidak mempunyai pengetahuan tentang kejahatan-kejahatan di dunia. Tuhan tidak pernah mencipta dunia, tetapi zat dan pemikirannya tetap abadi.

Selanjutnya ia katakan bahwa iman lebih tinggi dan berada di luar pemikiran yang berkenaan sifat Tuhan dan alam semesta. Timbulnya pokok persoalan yang aktual dan praktis dari gagasannya adalah “Pemikirannya dan kepercayaannya telah menemukan kebenaran mutlak yang harus diterima oleh orang lain”. Pandangannya inilah yang menjadikan perlawanan kaum protestan karena sikapnya yang otoriter.

Thomas sendiri menyadari bahwa tidak dapat menghilangkan unsur-unsur Aristoteles. Bahkan ia menggunakan ajaran Aristoteles, tetapi sistem pemikiran filsafatnya berbeda. Masuknya unsur Aristoteles ini didorong oleh kebijakan pimpinan gereja, Paus Urbanus V (1366) yang memberikan angin segar untuk kemajuan filasafat.

Dikutip dari: buku karangan Drs. Asmoro Achmadi yang berjudul Filsafat Umum. Hal. 77-79.


Related Pos :