Lepaskan Pikiran Negatif Ketika Ingin Membangun Bisnis

Kaum perempuan, terutama kaum ibu, kadang memiliki ketakutan berlebihan ketika hendak membangun bisnis. Ketakutan pertama bisa jadi karena takut tak bisa membagi waktu antara bisnis dengan kewajiban rumah tangga. Ketakutan lainnya mungkin berasal dari masa lalu.

Lepaskan Pikiran Negatif Ketika Ingin Membangun Bisnis

Kisah kebangkrutan keluarga dekat, atau sahabat, ternyata mampu mensugesti diri sendiri untuk memiliki ketakutan yang sama ketika akan memulai bisnis. Ada sebuah ketakutan tak berdasar yang membuat kaum perempuan yakin bahwa kebangkrutan itu juga akan terjadi kepadanya.


Pikiran-pikiran seperti inilah yang menghambat sesorang untuk memulai. Padahal, menurut Issa Kumalasari (coach, trainer, dan speaker professional yang sukses membangun bisnis di 3 negara), membangun bisnis belum tentu sesulit yang dibayangkan. Oleh karena itu, kaum perempuan diharapkan bisa melakukan langkah berikut, yakni :

  1. Sembuhkan masa lalu
  2. Putuskan untuk berkarya
  3. Jadilah cahaya dunia

Issa mempraktekkan cara sederhana untuk menjauhkan diri dari pikiran-pikiran negatif, yakni dengan cara memejamkan mata. Tarik nafas perlahan lalu buang. Ulangi sampai tiga kali. Kemudian bayangkan Anda sedang meniup sebuah balon yang isinya adalah semua pikiran positif dan bayangan masa lalu.

Balon itu akan semakin besar, seiring pikiran dan bayangan masa lalu yang dikeluarkan sembari meniup balon. Lalu bayangkan balon tersebut diikat kuat, kemudian diterbangkan ke awan hingga tidak bisa terlihat lagi. Setelah balon lenyap, bayangkan sebuah cahaya masuk dari awan dan menembus tubuh Anda. Bayangkan Anda bermandikan cahaya dan Anda akan menjadi cahaya bagi dunia. Setelah merasa lega, buka mata Anda.

Latihan ini bisa diulangi kapanpun pikiran negatif muncul. Bahkan, latihan ini tak hanya bisa digunakan untuk berbisnis, tetapi juga dalam menjalin hubungan percintaan dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Pikiran negatif juga kadang menghampiri perempuan ketika memasuki pembahasan tentang investasi saham. Ketakutan paling besar disebabkan oleh kerugian besar-besaran yang akan terjadi jika salah mengambil langkah. Akibatnya, kaum perempuan memilih mundur dan mencari investasi aman di bank (deposito).

Padahal, investasi saham bisa menawarkan keuntungan sebesar 30 hingga 40 persen setiap tahun dan kemungkinan konsisten. Namun, angka ini akan tercapai jika perempuan mampu menguasai analisa teknikal.

“Semua bisa dipelajari dengan grafik. Kalau mengerti cara menganalisa grafik, maka Anda tidak akan pernah mengalami kerugian. Tentu saja hal ini harus dipelajari dan dilatih secara treus-menerus,” ungkap Ellen May, penulis buku best seller tentang saham dan pembicara untuk mengedukasi dan memberikan pelatihan saham di berbagai kota. Ellen menyampaikan hal ini dalam talkshow Mompreneur menyambut Hari Kartini di CityWalk Sudirman, Jakarta, Sabtu (21/4/2012).

Jika mau belajar, maka perempuan juga bisa menjadi trader saham yang sukses seperti Ellen. Banyak belajar juga akan meningkatkan kemampuan untuk memilih saham, waktu yang tepat untuk menjual atau membeli, dan manajemen uang.

“Banyak orang yang serakah, sehingga yang didapat bukan keuntungan malah kerugian. Dalam invetasi saham ini orang harus bisa mengendalikan emosinya. Bahkan terkadang harus diam, mundur dulu, untuk melihat reaksi pasar, baru masuk lagi untuk memutuskan beli atau jual,” jelas Ellen.

Pada dasarnya semua bidang bisnis memang bisa dipelajari. Hanya tinggal bagaimana keinginan kaum perempuan, terutama para ibu untuk mau mempelajarinya atau tidak. Selain itu, hambatan yang nantinya akan hadir ketika bisnis sudah dimulai, seharusnya tidak ditakutkan di awal, tetapi dihadapi dengan keyakinan.

Issa melakukan simulasi dengan pensil yang digenggam oleh kedua tanggannya. Ia memanggil salah seorang pengunjung untuk mematahkan pensil tersebut dengan hanya satu jari. Karena sang pengunjung fokus pada pensil, maka jarinya berhenti di pensil, sehingga pensil tak juga terbelah dua. Namun, setelah pengunjung itu menganggap pensil tersebut tidak ada, maka ia berhasil mematahkan pensil dengan jari telunjuknya.

Pensil tersebut diibaratkan sebagai hambatan yang akan menghalangi jalan pebisnis apabila dianggap sebagai penghalang. Jika pebisnis fokus kepada tujuan semula, maka hambatan tidak akan terasa sama sekali dan justru menjadi penyemangat untuk mewujudkan tujuan bisnis semula, yakni kesuksesan.

Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *