Dakwah Pada Masa Khulafa’ur Rasyidin

By Admin | pengetahuan

dakwah

Setelah wafatnya Rasulullah Saw. Dilanjutkan dengan dakwah pada masa Khulafa’ur Rasyidin. Sebagai juru dakwah agung, maka Khulafa’ur Rasyidin: Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali berturut-turut menerima amanah ini, amanah dakwah Islamiyah. Mereka tampil ke arena sebagai pemimpin dakwah, sebagai Khalifah Rasul Allah.

  • Dakwah sesudah Rasul wafat

Setelah Rasulullah Saw wafat, dakwah Islamiyah menghadapi berbagai masalah berat dan besar, dan itulah yang harus ditangani oleh Khulafa’ur Rasyidin; oleh Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Tantangan-tangan berat dan besar yang harus dihadapi dakwah Islamiyah antara lain, yaitu:


  1. Munculnya para bandit yang menamakan dirinya nabi.
  2. Membangkangnya segolongan orang yang masih tipis imannya; mereka menentang zakat.
  3. Masyarakat Islam tambah meluas, sehingga membutuhkan pembinaan lebih lanjut.
  4. Perluasan wilayah dakwah Islamiyah ke daerah-daerah Kerajaan Romawi Timur dan Kerajaan Persia, yang telah dimulai Rasulullah dengan penguasaan Tabuk, harus dilanjutkan.
  5. Terjadinya peristiwa-peristiwa berdarah dalam tubuh masyarakat Islam sendiri pada bagian kedua dari masa Khulafa’ur Rasyidin.
  6. Bahaya Yahudi yang walaupun telah mengundurkan diri dari Madinah dan sekitarnya, masih merupakan bahaya yang mengancam jalannya dakwah Islamiyah.
  • Garis politik Khulafa’ur Rasyidin

Sebagai pendukung Amanah Allah Swt. Khulafa’ur Rasyidin haruslah meletakkan satu garis politik yang sejalan dengan ajaran Allah Swt. mereka harus melanjutkan garis politik yang telah dijalankan Rasulullah Saw. Setelah Khulafa’ur Rasyidin dilantik menjadi Khalifah, selalu dikeluarkan sebuah pernyataan politik dengan sebuah pidato, yang menjelaskan garis-garis politik dan kebijaksanaan yang akan dijalankannya.

1. Abu Bakar ra.

Setelah bai’at pelantikan, Abu Bakar ra. terus mengucapkan sebuah pidato pelantikan yang bernas, yang menggariskan politik kebijaksanaannya dalam memimpin umat Islam, yang setelah memuji Allah Swt. dan mengucapkan shalawat kepada Rasulullah Saw., antara lain khotbah bai’at beliau berbunyi:

Wahai manusia!

Aku telah diangkat menjadi Khalifah tuan-tuan, padahal aku tidaklah lebih baik daripada tuan-tuan. Kalau aku berbuat baik, bantulah aku; sebaliknya kalau aku menyeleweng, luruskan kembali jalanku.

Kebenaran adalah amanah, dan kedustaan adalah khianat. Orang lemah di antara kamu adalah kuat di sisiku sehingga haknya kukembalikan kepadanya; dan orang kuat di antara kamu adalah lemah di sisiku sehingga kuambil kembali darinya hak orang yang dirampasnya, insya Allah!

Janganlah seseorang pun di antara kamu meninggalkan jihad, karena sesuatu kaum yang meninggalkan jihad, Allah akan menimpakan kehidupan kepada mereka.

Taatlah kepadaku selama aku menaati Allah; apabila aku mendurhakai Allah, kewajiban taatmu kepadaku tidak ada lagi.

Tunaikanlah shalat, niscaya Allah akan member rahmat kepadamu.

Pidato singkat ini telah membentangkan dengan jelas garis politik yang akan dijalankannya; dijelaskannya kewajiban dan hak rakyat, di samping jaminan adanya kebebasan mengeluarkan pendapat. Ditegaskannya, bahwa kekuatan orang zalim tidak akan dapat menghambatnya dalam menjalankan keadilan, dan ketaatan kepada Allah Swt. adalah syarat dari kepatuhan rakyat.

2. Umar bin Khattab ar.

Selesai pelantikan menjadi Khalifah, setelah wafat Abu Bakar ar., maka dalam pidato yang amat singkat Umar ar., telah membentangkan garis politiknya yang mempunyai dayajangkau sangat jauh, setelah memuji Allah Swt. dan menshalawatkan Rasulullah, beliau menegaskan:

Sesungguhnya orang Arab laksana unta jinak yang patuh mengikuti pengembalanya. Karena itu, pengembala hendaklah memperhatikan, kemana hendak dibawa untanya itu.

Adapun aku, demi Tuhan Ka’bah, aku akan membawa mereka di atas jalan lurus…

Ini adalah satu kebijaksanaan yang sangat baik bagi umat Islam di masanya, karena mereka sangat patuh; apabila diperintah dikerjakannya, dan apabila dilarang dihentikannya. Karena itu, tanggung jawab yang terletak atas kepala pemimpinnya, yang berkewajiban membimbing ke jalan yang benar.

3. Usman bin Affan ra.

Seperti halnya dengan dua Khalifah terdahulu, Khalifah Usman juga mengucapkan sebuah khotbah bai’at setelah selesai pelantikan, pidatonya membentangkan garis politik kebijaksanaanya, setelah memuji Allah Swt dan menshalawatkan Rasulullah Saw., beliau menegaskan.

Sesungguhnya kita berada dalam sisa umur dunia. Karena itu, bergegaslah mengerjakan kebaikan yang telah ditakdirkan atasmu.

Kehadiranmu baik pagi ataupun petang dalam dunia yang penuh dengan kepalsuan dan penipuan. Karena itu, jangan sampai handaknya kamu tertipu oleh kehidupan dunia, sehingga kamu lupa kepada Allah.

Perhatikanlah sejarah orang masa lalu, kemudian waspada dan jangan lupa; karena sesungguhnya Allah Swt. tidak akan melupakan kamu. Di mana sudah anak-anak manusia yang mengutamakan dunia dan bergelimang dengan kesenangan di dalamnya?

Bukankah mereka sudah tidak ada lagi?

Lemparkanlah dunia, seperti halnya Allah Swt. telah melemparkannya; dan tuntutlah akhirat, karena Allah Swt. telah mengambil contoh perbandingan dengan firmannya:

“Dan berilah kepada mereka perumpamaan, bahwa kehidupan dunia itu laksana hujan yang Kami turunkan dari langit, lantas tumbuh-tumbuhan di bumi menjadi subur, selanjutnya menjadi kering diterbangkan angin. Allah Maha Kuasa atas segala-galanya. Harta dan anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amal soleh yang kekal adalah lebih baik di sisi Tuhan engkau, bahkan harapan yang paling baik.” (QS. Al-Kahfi, 18: 454-456)

4. Ali bin Abi Thalib ra.

Setelah memuji Allah Swt. dan mengucapkan shalawat dan salam kepada Rasul-Nya, Khalifah Ali ra. menyampaikan garis kebijaksanaannya selesai menerima pelantikan dalam sebuah pidato, yang antara lain berbunyi:

“Sesungguhnya Allah menurunkan Kitab penuntun, yang di dalamnya dijelaskan kebaikan dan kejahatan. Karena itu, ambillah kebaikan dan tinggalkanlah kejahatan.

Tunaikanlah kewajibanmu kepada Allah Swt., niscaya Allah akan mengantarkanmu ke dalam surga.

Sesungguhnya Allah telah mengharamkan barang-barang larangan dan mengutamakan kehormatan orang Islam atas segala larangan, serta menguatkan mereka dengan tauhid dan ikhlas.”

Orang Islam yaitu orang yang lidah tangannya tidak mengganggu manusia, kecuali dengan kebenaran. Tidak halal menyakiti seorang Muslim kecuali dengan cara yang wajib…

Hakikat dari garis politik Khalifah Ali, yaitu hendak mengembalikan umat kepada kehidupan seperti zaman Rasulullah Saw., di mana orang bekerja dan berjihad semata-mata karena Allah Swt.

  • Tantangan dahsyat yang dihadapi dakwah Islamiyah setelah Rasulullah Saw. Wafat, yaitu pembangkangan beberapa suku yang tadinya telah masuk Islam. Ada yang hanya membangkang sebagian ajaran Islam, terutama ajaran zakat, di mana mereka menahan atau tidak mau membayar, sedangkan ajaran-ajaran yang lain masih mereka laksanakan. Ada yang membangkang habis; mereka betul-betul menjadi kafir kembali, telah murtad, di mana dalam kalangan mereka muncul bandit yang menamakan dirinya nabi.

Dalam menghadapi tantangan yang dahsyat ini, kebanyakan para sahabat menghendaki suatu penyelesaian suatu penyelasaian dengan kebijaksanaan tidak mempergunakan kekerasan, termasuk dalam golongan ini Umar bin Khattab ra. Yang selama ini terkenal sangat keras. Tetapi, Khalifah Abu Bakar ra. sendiri berpendapat lain; beliau menegaskan keharusan pengambilan tindakan yang keras dan tegas, tanpa tedeng aling-aling, terutama sekali setelah penolakan mereka terhadap delegasi yang menyeru kepada Islam, bahkan ada yang dibunuh bila membawa kerusakan bagi Islam.

Adapun para pemimpin  Angkatan  Dakwah yang merangkap menjadi panglima pasukan bersenjata, yang dipersiapkan dan dikirimkan oleh Khalifah Abu Bakar ra., yaitu:

  • Khalid bin Walid, dikirim untuk menumpas Thulaihah bin Khulawailid al-Asady di Buza’ah, yang mendakwahkan dirinya sebagai “nabi”; setelah itu dilanjutkan dengan operasi menumpas Malik bin Nuwairah di Buthah.
  • Ikrimah bin Abi Jahal, dikirim untuk memukul hancur Musailamah al-Kazzab di Yamamah, yang mendakwahkan dirinya sebagai “nabi”.
  • Syurahbil bin Hasanah, dikirim untuk membantu Ikhramah bin Abi Jahal, yang setelah selesai menghancurkan Musailamah, menuju Qadha;ah untuk memerangi mereka yang murtad agar kembali ke jalan Allah dan tunduk kepada aturan dan hukum yang berlaku.
  • Muhajir bin Abi Umaiyah, dikirim untuk memukul hancur pasukan Aswad al-Ansy di Sana Yaman dan membantu Abna (penduduk Yaman turunan Persia) untuk membunuh mereka.
  • Hudzaifah bin Mahsan, dikirim untuk memukul penduduk Daba di Oman.
  • Arfayah bin Harsamah, dikirim untuk menundukkan penduduk Mahrah.
  • Suwaid bin Muqarrin, dikirim untuk menundukkan penduduk Tihamah Yaman.
  • Al-Aala bin Hadhramy, dikirim untuk menghajar penduduk Bahrain.
  • Tharifah bin Hajir, dikirim untuk menghancurkan Tharifiyah dan para pengikutnya di Hawazin.
  • Amru bin Ash, dikirim untuk menundukan penduduk Qudha’ah.
  • Khalid bin Sa’id, dikirim untuk menundukkan penduduk beberapa daerah Syam.

Kepada semua kepemimpinan pasukan diperintahkan, agar sebelum memukul dengan angkatan bersenjata haruslah terlebih dahulu dikirim surat atau Risalah Dakwah dari Khalifah.


tags: , ,

Related Pos :