Kelangsungan Hidup Organisme Melalui Adaptasi

By Admin | pengetahuan

Kelangsungan Hidup Organisme Melalui Adaptasi

Adaptasi adalah perkembangan sifat dari suatu organisme yang membuatnya sesuai untuk hidup dan berkembang biak di suatu lingkungan. Organisme yang mampu bertahan hidup adalah organisme yang mampu beradaptasi.

Setiap jenis organisme, baik hewan mapun tumbuhan mempunyai dan memerlukan lingkungan hidup tertentu. Lingkungan tempat suatu jenis organisme hidup dan berkembangbiak disebut habitat.


Dengan mengetahui habitat suatu jenis organisme, kita dapat dengan mudah menemukan organisme tersebut bila diminta. Contohnya adalah sebagai berikut: Habitat cacing tanah adalah di tanah basah yang berhumus. Jadi, untuk menemukan cacing tanah kita harus mencarinya di tanah basah yang berhumus, bukan di tanah lapang yang tandus dan kering.

Keadaan lingkungan di sekitar suatu organisme umumnya selalu berubah. Misalnya, perubahan suhu, cahaya matahari, air, makanan, dan persaingan. Perubahan ini akan mempengaruhi kelangsungan hidup organisme. Bagaimanakah organismee tersebut dapat bertahan hidup?

Organisme yang telah beradaptasi di suatu tempat sukar beradaptasi ke lingkungan yang lain. Hal ini tidak terjadi pada manusia karena dengan pikiran atau kemampuan otaknya, manusia mampu mengubah lingkungan agar sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Kalau kedinginan manusia mengenakan pakaian yang tebal. Rumah dibangun dengan bahan yang berbeda dengan bentuk berbeda tergantung keadaan lingkungan. Dengan demikian, manusia dapat hidup di berbagai lingkungan, seperti di tanah yang tandus, di tanah yang subur, atau di dataran tinggi.

3 Proses Adaptasi pada Organisme Untuk Kelangsungan Hidup

Ada tiga proses beradaptasi yang dilakukan oleh organisme untuk bertahan hidup sehingga kelangsungan hidup suatu jenis organisme dapat lestari, yaitu:

1. Adaptasi morfologi

Adaptasi morfologi adalah penyesuaian bentuk tubuh atau alat-alat tubuh terhadap lingkungannya.

  1. Paruh burung, adalah salah satu contoh adaptasi morfologi pada paruh burung. Bentuk paruh burung mengalami penyesuaian dengan jenis makanan yang dimakannya. Seperti bebek yang memiliki paruh yang berbentuk seperti sekop, hal ini untuk menjarinf ikan; Paruh burung manyar pendek dan kuat untuk memecah biji-bijian. Paruh burung pengisap madu berbentuk panjang untuk mengisap madu yang terletak di dalam bunga.
  2. Kaki burung, juga mengalami penyesuaian berdasarkan cara hidupnya. Burung merpati sering bertengger di cabang pohon dan meloncat ke sana ke mari. Bentuk kaki yang dimilikinya sesuai dengan kebiasaan hidup burung tersebut. Berbeda dengan merpati, itik sering berada di air untuk mencari makan. Oleh sebab itu, kaki itik mempunyai selaput di antara jari kakinya. Kaki tersebut berfungsi sebagai dayung pada saat itik berada di air. Burung elang mempunyai kaki kuat dan kuku tajam melengkung untuk mencengkram mangsanya. Burung pelatuk mempunyai kaki yang sesuai untuk memanjat.
  3. Mulut serangga

Adaptasi morfologi pada mulut serangga di dasarkan pada cara mengambil makanannya. Berdasarkan hal tersebut, mulutserangga dapat dibedakan menjadi 4 tipe, yaitu sebagai berikut.

  • Tipe mulut penggigit, misalnya pada lipas, jangkrik, dan belalang.
  • Tipe mulut pengisap dan penjilat, misalnya pada lebah dan lalat.
  • Tipe mulut pengisap, misalnya pada kupu-kupu.
  • Tipe mulut penusuk dan pengisap, misalnya pada nyamuk.

Adaptasi morfologi organisme air

Hewan dan tumbuhan yang hidup di air mempunyai bentuk tubuh dan alat tubuh yang sesuai dengan lingkungan air. Contohnya adalah sebagai beikut.

  1. Hewan air dilengkapi dengan alat tubuh untuk bergerak dalam air, misalnya sirip pada ikan serta kaki berselaput pada katak dan itik. Selain alat gerak tersebut, hewan air umumnya berbentuk streamline (langsing seperti torpedo) untuk memudahkan gerakan di air. Walaupun penguin, gurita, dan cumi-cumi tidak berbentuk torpedo, pada saat berenang cepat mereka mengubah bentuk tubuh menjadi seperti torpedo.
  2. Tumbuhan air yang hidup terapung di air mempunyai rongga antarsel yang berisi udara untuk mengapungkan tubuhnya. Eceng gondok mempunyai tangkai daun mengembung yang berisi udara sehingga mengapung. Batang teratai mempunyai ruang udara sehingga dapat tegak di air.
  3. Tumbuhan yang hidup di air tidak selalu bergantung pada akar untuk mendapat air dan mineral. Tumbuhan air dapat mengembil air dan mineral melalui seluruh permukaan tubuhnya. Artinya, mereka tidak memerlukan jaringan pengangkut. Tumbuhan air juga tidak memerlukan banyak stomata. Teratai mempunyai rizom yang terbenam di dasar kolam. Akar tidak berkembang baik karena tidak diperlukan untuk menyerap air dan mineral. Teratai tidak mempunyai jaringan pengangkut yang baik. Seperti halnya teratai, eceng gondok juga tidak mempunyai akar yang berkembang baik. Eceng gondok dapat menempel di dasar kolam dengan akarnya atau melayang di air.

Adaptasi meorfologi organisme darat

Air merupakan salah satu kebutuhan utama makhluk hidup. Hewan dan tumbuhan yang hidup di lingkungan yang kekurangan air mengalami penyesuaian untuk mengatasi keadaan itu. Contohnya sebagai berikut.

  1. Tumbuhan xerofit, seperti kaktus menyimpan air di dalam batangnya yang tebal dan berlapis lilin. Daun-daunnya sangat kecil berbentuk duri. Akar kaktus sangat panjang dan menyebar, yang berfungsi enyerap air dan daerah yang luas.
  2. Katak gurun Amerika Utaramempunyai kakibertanduk untuk menggali lubang. Kedalaman lubang yang digalinya dapat mencapai 3 meter. Lubang tersebut digunakan untuk menghindari udara panasdi permukaan tanah.
  3. Kelinci gurun mempunyai telinga yang besar yang berfungsi mendinginkan tubuh. pada saat darah mengalir melewati telinga, darah melepaskan panas ke udara sekelilingnya sehingga suhu tubuh berkurang.

Tumbuhan yang hidup di lingungan yang basah, misalnya keladi, mempunyai daun yang lebar untuk mempercepat penguapan air. Tumbuhan yang hidup di tempat lembap, membuang kelebihan air dengan mengeluarkan air pada tepi daun (gutasi).

2. Adaptasi fisiologi

Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian fungsi alat tubuh terhadap lingkungan. Adaptasi fisiologi ini sangat murni sebab menyangkut fungsi fisiologi dalam tubuhh. Berikut ini adalah contoh adaptasi fisiologi.

  1. Tubuh manusia membentuk butir darah merah lebih banyak jika tinggal di dataran tinggi. Hal ini terjadi karena tekanan atmosfer di dataran tinggi lebih kecil daripada tekanan atmosfer di dataran rendah sehingga hanya sedikit oksigen yang dapat masuk ke tubuh. Untuk mendapatkan cukup oksigen, diperlukan lebih banyak sel darah merah untuk mengikat oksigentersebut.
  2. Ikan yang hidup di air berkadar garam tinggi mengeluarkan urin yang lebih pekat daripada ikan yang hidup di air tawar.

3. Adaptasi tingkah laku

Adaptasi tingkah laku adalah penyesuaian terhadap lingkungan dalam bentuk tingkah laku. Contohnya sebagai berikut.

  1. Bunglon mengubah warna tubuhnya sesuai dengan lingkungannya.
  2. Mamalia yang hidup di air, misalnya lumba-lumba dan pasu, secara berkala muncul ke permukaan air untuk bernapas. Hewan tersebut melakukannya karena bernapas dengan paru-paru.
  3. Di dalam usus rayap terdapat flagelata yang menghasilkan enzim selulase untuk mencernakan kayu. Pada saat kulit rayap mengelupas, usus belakang ikut mengelupas. Bagian usus yang mengelupas itu mengandung flagellate penghasil enzim selulase. Oleh karena itu, rayap memakan kembali kulit kelupasannya. Rayap yang baru menetas dari telur menjilati dubur rayap dewasa. Dengan cara tersebut flagelata dapat masuk ke dalam saluran pencernaan rayap muda itu.

 


tags: , , ,

Related Pos :