Hukum Pakaian Muslimah di Hadapan Wanita Nonmuslimah

By Admin | Umum

pakaian muslimahKali ini kita akan membahas tentang bagaimana hukum pakaian muslimah di hadapan wanita nonmuslimah? Mungkin kebanyakan dari kita masih banyak yang belum tahu tentang hal ini, Apakah boleh atau tidak seorang muslimah menampakkan auratnya di depan wanita nonmuslimah? Jawabannya, silahkan simak beberapa uraian singkat berikut ini. Insya Allah kami akan membantu dan menjawab keraguan Anda semua.

Menurut pendapat yang benar seorang wanita nonmuslim melihat perhiasan muslimah, sebagaimana muslimah boleh memandangi perhiasan wanita nonmuslim. Dalam hal ini wanita nonmuslim disamakan dengan wanita lainnya (Meski ada perdebatan mengenai batasan yang boleh dilihat, namun artikel kali ini tidak mengupas tentang perdebatan tersebut).

Adapun penafsiran dari “…dan wanita-wanita mereka” yang terdapat dalam firman Allah Swt,


“Tidak ada dosa atas istri-istri nabi (untuk berjumpa tanpa tabir) dengan bapak-bapak mereka, saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara mereka yang perempuan, wanita-wanita mereka, dan hamba sahaya yang mereka miliki. Bertakwalah kamu (hai istri-istri nabi) kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (Q.S Al-Ahzab:55)

Ibnu Al-‘Arabi rahimullah berkata dalam “Ahkaam Al-Qur’an” bahwa ada dua penafsiran dari kata tersebut. Pertama, maksudnya adalah seluruh perempuan. Kedua, perempuan-perempuan kaum muslimin. Kemudian beliau berkata, “pendapat yang lebih tepat menyatakan bahwa wajah bagi muslimah adalah hal yang boleh ia lakukan di hadapan seluruh wanita.” karena kata ganti yang disebutkan dalam ayat ini pun disebutkan 25 kata ganti (yang sama secara beruntut). Hal yang tidak di dapatkan pada ayat-ayat lainnya dalam Al-Qur’an. Fungsi (pengulangannya) adalah mengaitkan hukum yang satu dengan yang selainnya.” (6/71)

Dari pemaparan ini diketahui bahwa pendapat yang lebih kuat menyatakan bahwa maksud “dan wanita-wanita mereka” bersifat umum mencakup muslimah ataupun wanita nonmuslimah. Hal ini dipertegas oleh riwayat yang menyatakan bahwa beberapa wania Yahudi sering menemani beberapa istri Rasulullah Saw. Sedangkan mereka tidak diperintahkan untuk mengenakan jilbab mereka.

Disebutkan pula dalam “As-Shahiihaini” bahwa pernah seorang wanita Yahudi mendatangi Aisyah untuk menanyakan sesuatu. Lalu ia berkata, “Semoga Allah Swt melindungi dari azab kubur.” Lantas Aisyah pun menanyakan hal ini kepada Rasulullah Saw…”

Disebutkan juga dalam Shahihain, pernah Asma’ bertanya kepada Rasullah Saw, “ibuku yang masih nonmuslim datang menemuiku. Bolehkah aku menemui dan meladeninya?” Rasulullah Saw bersabda, “Ya”.

Jadi, berdasarkan pendapat yang lebih tepat dikatakan bahwa seorang muslimah boleh menampakan, segala yang boleh ia tampakkan di hadapan muslimah lainnya, di hadapan wanita nonmuslimah.

 


Related Pos :