Hubungan Psikologi dengan Ilmu Ilmu Lain

By Admin | pengetahuan

hubungan psikologi dengan ilmu pengetahuan lain

Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari keadaan manusia, sudah barang tentu mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu lain, yang sama-sama mempelajari tentang keadaan manusia. Hal ini akan memberi gambaran bahwa manusia sebagai makhluk hidup tidak hanya dipelajari oleh psikologi saja, tetapi juga dipelajari oleh ilmu-ilmu lain. Manusia sebagai makhluk budaya maka psikologi akan mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu kebudayaan, dengan filsafat, dengan antropologi, sosiologi, biologi dan lain sebagainya.

Dibawah ini hubungan psikologi dengan ilmu pengetahuan lainnya seperti hubungan psikologi dengan filsafat, dengan ilmu pengetahuan alam, dengan biologi dan ilmu pengetahuan lainnya.


Berikut hubungan psikologi dengan ilmu pengetahuan lainnya :

1. Hubungan Psikologi dengan Filsafat
Psikologi adalah ilmu yang sudah berkembang sejak abad ke-17 dan abad ke-18 serta tampak pesat kemajuannya pada abad ke-20. Pada awalnya ilmu ini adalah bagian dari filsafat, sebagaimana ilmu-ilmu yang lain semisal ilmu hukum, ekonomi dan sebagainya. Namun kemudian memisahkan diri dan berdiri sebagai ilmu tersendiri.

Semuanya itu bersumber dari tuhan yang maha esa sebagai pencipta segala sesuatu dan hasil ciptaan itulah yang menjadi objek atau sasaran dan merupakan cabang ilmu pengetahuan. Manusia sebagai makhluk hidup juga merupakan objek dari filsafat, yang antara lain membicarakan soal hakikat kodrat manusia, tujuan hidup manusia dan sebagainya. Sekalipun psikologi pada akhirnya memisahkan diri dari filsafat, namun masih tetap mempunyai hubungan dengan filsafat. Bahkan dapat dikemukakan bahwa ilmu-ilmu yang telah memisahkan diri dari filsafat itupun tetap masih ada hubungan dengan filsafat terutama mengenai hal-hal yang menyangkut sifat hakikat serta tujuan dari ilmu pengetahuan.

2. Hubungan Psikologi dengan Ilmu Pengetahuan Alam
Ilmu pengetahuan alam mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan psikologi. Dengan memisahkan diri dari filsafat, ilmu pengetahuan alami mengalami kemajuan yang cukup cepat, hingga ilmu pengetahuan alam menjadi contoh bagi perkembangan ilmu-ilmu lain, termasuk psikologi khususnya metode ilmu pengetahuan mempengaruhi perkembangan metode dalam psikologi. Karenanya sebagian hali berpendapat, kalau psikologi ingin mendapatkan kemajuan haruslah mengikuti kerja yang ditempuh oleh ilmu pengetahuan alam.

Apa yang ditempuh oleh Fencher dan Weber sangat mempengaruhi cara kerja Wilhelm Wundt, yankni dengan menggunakan metode psikofisik, yaitu metode yang tertua dalam lapangan psikologi eksperimental, yang banyak dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan alam (wood Worth, 1951). Kenyataan bahwa karena pengaruh ilmu pengetahuan alam psikologi mendapatkan kemajuan yang cukup cepat, sehingga akhirnya psikologi dapat diakui sebagai ilmu yang berdiri sendiri terlepas dari filsafat. Walaupun pada akhirnya metode ilmu pengetahuan alam ini tidak seluruhnya digunakan dalam lapangan psikologi, oleh karena perbedaan dalam objeknya. Sebab ilmu pengetahuan alam berobjekan manusia yang hidup, sebagai makhluk yang dinamik, berkebudayaan, tumbuh berkembang dan dapat berubah pada setiap saat.

Sebagaimana diungkapkan diatas bahwa psikologi mempunyai hubungan antara lain dengan bilogi, sosiologi, filsafat dan ilmu pengetahuan alam, tetapi tidak berarti bahwa psikologi tidak mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu lain diluar ilmu tersebut. Justru karena psikologi menyelidiki dan mempelajari manusia sebagai makhluk dinamis yang bersifat kompleks, maka psikologi harus bekerjasama dengan ilmu-ilmu lain. tetapi sebaliknya, setiap cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan manusia akan kurang sempurna apabila tidak mengambil pelajaran dari psikologi. Dengan demikian akan mendapat hubungan yang timbal balik.

3. Hubungan Psikologi dengan Biologi
Biologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang kehidupan, berarti bahwa semua benda yang hidup menjadi objek biologi. Oleh karena biologi berobjekan benda-benda yang hidup, maka cukup banyak ilmu-ilmu yang tergabung didalamnya. Maka baik biologi maupun psikologi sama-sama membicarakan manusia. Sekalipun masing-masing ilmu itu meninjau dari sudut yang berlainan namun segi-segi tertentu, kedua ilmu itu ada titik-titik pertemuan. Biologi maupun antropologi, keduanya tidak mempelajari perihal proses-proses kejiwaan dan inilah yang dipelajari psikologi.

Seperti telah dikemukakan diatas, bahwa disamping adanya hal-hal yang sama dipelajari atau diperbincangkan oleh kedua ilmu itu, misalnya soal keturunan. Dalam hal ini baik psikologi maupun antropologi ingin membahasnya, misalnya masalah keturunan. Ditinjau dari segi biologi ialah hal-hal yang berhubungan dengan aspek-aspek kehidupan yang turun temurun dari satu generasi ke generasi lain. Soal keturunan juga dibahas/dipelajari oleh psikologi misalnya tentang sifat, intelegensi dan bakat. Karena itu kurang sempurna kalau kita mempelajari fisiologi sebab ilmu-ilmu ini amat membantu di dalam mempelajari psikologi.

4. Hubungan Psikologi dengan Sosiologi
Manusia sebagai makhluk sosial juga menjadi objek sosiologi. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan manusia mempelajari manusia di alam masyarakatnya. Karena itu, baik psikologi maupun sosiologi yang sama-sama membicarakan manusia, tidaklah mengherankan kalau pada suatu waktu adanya titik-titik pertemuan didalam meninjai manusia, misalnya soal tingkah laku. Tinjauan sosiologi yang penting ialah hidup bermasyarakatnya, sedangkan tinjauan psikologi, bahwa tingkah laku sebagai manifestasi hidup kejiwaan yang didorong oleh moral tertentu hingga manusia itu bertingkah laku atau berbuat. Karena adanya titik-titik persamaan ini, maka timbullah cabang ilmu pengetahuan dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan situasi-situasi sosial. Menurut Gerungan, pertemuan antara psikologi dan sosiologi itulah yang merupakan daerah psikologi sosial.

5. Hubungan Psikologi dengan Pedagogik
Kedua ilmu ini hampir tidak dapat dipisahkan satu sama lain, oleh karena mempunyai hubungan timbal balik. Pedagogik sebagai ilmu yang bertujuan untuk memberikan bimbingan hidup manusia sejak dari lahir sampai mati tidak akan sukses, bilamana tidak mendasarkan diri kepada psikologi., yang tugasnya memang menunjukan perkembangan hidup manusia sepanjang masa. Bahkan ciri dan wataknya serta kepribadiannya ditunjukan oleh psikologi. Dengan demikian, pedagogik baru akan tepat mengenai sasaran, apabila dapat memahami langkah-langkahnya sesuai dengan petunjuk psikologi. Oleh karena sangat eratnya tugas antara keduanya, maka timbul educational psycational psychology (ilmu jiwa pendidikan).

6. Hubungan Psikologi dengan Agama
Psikologi dan agama merupakan dua hal yang sangat erat hubungannya, mengingat agama sejak turunya kepada rasul diajarkan kepada manusia dengan dasar-dasar yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi psikologi pula. Tanpa dasar agama sulit mendapat tempat di dalam jiwa manusia. Di dalam agama terdapat ajaran tentang bagaimana agar manusia mau menerima petunjuk tuhannya, sehingga manusia itu sendiri tanpa paksaan bersedia menjadi hamba-Nya yang baik dan taat. Itulah sebabnya dapat dikatakan bahwa didalam agama itu penuh dengan unsur-unsur pedagogis yang bahkan merupakan esensi pokok dari tujuan agama diturunkan oleh tuhan kepada umat manusia. Unsur pedagogis dalam agama tidak dapat mempengaruhi manusia kecuali bilamana disampaikan kepadanya sesuai dengan petunjuk-petunjuk psikologi, dalam hal ini psikologi pendidikan.

Baca Juga: Ruang Lingkup Psikologi Belajar

Contoh bahwa psikologi dan agama mempunyai hubungan yang erat dalam memberikan bimbingan manusia adalah terhadap manusia yang berdosa pada manusia yang melanggar norma tersebut dapat mengakibatkan perasaan nestapa dalam dirinya meskipun hukuman lahirnya tidak diberikan terhadapnya. Psikologi memandang bahwa orang berdosa itu berarti telah menghukum dirinya sendiri, karena dengan perbuatan pelanggaran tersebut, jiwa mereka menjadi tertekan dan gelap yang apabila yang bersangkutan tidak dapat mensublimasikan (mengalihkan kepada perbuatan yang lebih baik) perasaannya akan mengakibatkan semacam penyakit jiwa (psichistania) yang merugikan dirinya sendiri. Dalam hal demikian itulah pendidik agama sangat diperlukan untuk memberikan jalan sublimatif serta katarsis (pembersihan jiwa) orang yang menderita dosa.

Mengingat eratnya hubungan antara keduanya, akhirnya lahirlah psikologi Agama (psychology of Religion), yang objek pembahasannya antara lain: bagaimana perkembangan kepercayaan kepada tuhan masa kanak-kanak sampai dewasa dan kapan terjadi kemantapan hidup keagamaan  seseorang, bagaimana perbedaan tingkah laku orang yang beragama dengan yang tidak beragama dan lain sebagainya. Tokohnya antara lain : Prof. Rimke, Straton dan William James.

Nah, itulah hubungan psikologi dengan ilmu pengetahuan lainnya. Semoga bisa menambah wawasan kita semua tentang psikologi terutama bagi anda yang sedang belajar menuntut ilmu di perguruan tinggi. Sumber: Buku Psikologi Belajar karangan Drs. H. Abu Ahmadi dan Drs. Widodo Supriyono, tahun 2013.


tags: , , ,

Related Pos :