Hakikat, Faktor, Dan Tugas-Tugas Perkembangan

By Admin | pengetahuan

perkembangan

Dalam psikologi perkembangan terdapat hakikat, faktor, dan tugas-tugas perkembangan. Adapun hakikat psikologi perkembangan meliputi perkembangan jiwa manusia, sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhinya diantaranya faktor-faktor sebelum lahir, faktor pada waktu lahir, faktor sesudah lahir, faktor psikologi dan lain-lain. Serta tugas-tugas perkembangan salah satunya yaitu sebagai pendorong semua kegiatan dan setiap proses perkembangan anak, untuk lebih jelasnya akan di uraikan pada pembahasan di bawah ini.

1.Hakikat psikologi perkembangan


Manusia sebagai objek ilmu pengetahuan, dan dibicarakannya dari sejak munculnya filsafat dan ilmu, hingga sekarang dan pada masa mendatang, tidak pernah kehabisan materi atau problematikanya. Telaahan tersebut akan selalu saja menarik bagi manusia yang mau mempelajarinya. Hal tersebut dapat terjadi karena komplektisitas manusia itu sendiri sebagai objek garapan ilmu pengetahuan.

Termasuk juga psikologi perkembangan yang memiliki objek garapnya adalah manusia, seringkali menemukan problematika yang sangat menarik, malah terkadang cenderung terasa berat untuk dipecahkan. Hal ini disebabkan karena kompleks dan uniknya manusia baik ditinjau dari sudut pandangan biologis maupun dari sudut pandangan psikologis. Tidak seorang pun manusia di dunia ini yang memiliki kesamaan total dengan manusia lainnya, terutama yang menyangkut urusan kondisi psikis atau jiwanya.

Padahal tugas psikologis perkembangan mencoba mengungkapkan menganalis masalah-masalah tersebut. Di sinilah letak munculnya kontradiksi dua kelompok pandangan “polair” yakni: kelompok pertama berpandangan kompleksnya kejiwaan manusia, serta bukti nyata tidak ada dua orang manusia memiliki kejiwaan yang sama, maka mempelajari dan menelaah psikologi perkembangan adalah sia-sia. Kelompok kedua beranggapan bahwa mempelajari psikologi perkembangan itu sangat penting terutama bagi kepentingan pendidikan (pedagogis) seorang manusia.

Tengahnya untuk mengatasi kedua pertentangan pendapat tersebut, di dalam mengamalkan serta menerapkan konsep-konsep psikologi perkembangan perlu disadari bahwa:

  1. Tidak ada seorang anak pun di dunia ini yang memiliki kesamaan total dengan yang lainnya.
  2. Konsepsi-konsepsi di dalam psikologi perkembangan bukanlah pembatasan mutlak atau pasti sifatnya.
  3. Konsepsi-konsepsi yang ada hanyalah lebih bersifat garis-garis besar atau pedoman umum yang berlaku bagi perkembangan kejiwaan anak pada umumnya.

Dengan demikian, maka penggunaan teori-teori maupun batasan-batasan yang ada di dalam psikologi perkembangan terasa tidak ada hambatan ataupun persoalan yang mengacaukan. Konsepsi atau teori-teori tentang kejiwaan pada hakikatnya sangat banyak dan beragam sekali sifat serta pandangannya, sebagaimana sebanyaknya kemungkinan perkembangan jiwa seorang manusia yang kompleks dan unik.

2.Faktor-faktor perkembangan anak

Dalam proses pertumbuhan maupun perkembangan anak dalam kenyataannya tidak dapat di hindari adanya beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan organ tubuh anak, antara lain:

  1. Faktor-faktor sebelum lahir, yakni adanya gejala tertentu yang terjadi sewaktu anak masih di dalam kandungan.
  2. Faktor pada waktu lahir, yakni terjadinya suatu gangguan pada saat-saat anak dilahirkan. Umpamanya: terjadi defiect (kerusakan) susunan saraf pusat dikarenakan kelahirannya dengan bantuan alat sejenis tang (instrument birth), atau karena dinding rahim ibu terlalu sempit, maka terjadi tekanan yang kuat mengakibatkan pendarahan pada bagian kepala, dan lain-lain.
  3. Faktor sesudah lahir, yakni peristiwa-peristiwa tertentu yang terjadi setelah anak lahir, terkadang menimbulkan terhambatnya pertumbuhan anak.
  4. Faktor psikologi, yakni adanya kejadian-kejadian tertentu yang menghambat fungsinya psikis, terutama yang menyangkut perkembangan intelegensi dan emosi anak yang berdampak pada proses pertumbuhan anak.

Adapun tentang faktor-faktor yang mempengaruhi anak antara lain adalah:

  1. Faktor herediter, yakni keturunan atau warisan dari sejak lahir dari kedua orang tuanya, neneknya, dan seterusnya, yang biasanya diturunkan melalui kromosom.
  2. Faktor lingkungan, yakni segala sesuatu yang ada pada lingkungan, ia berada (bertempat tinggal) atau (bergaul). Jadi segala sesuatu yang berada di luar diri anak dari anak dari alam semesta ini baik yang berupa makhluk hidup seperti manusia, tumbuhan, hewan, atau makhluk yang mati seperti benda-benda padat, cair, gas, juga gambar-gambar, dan lain-lain.

Demikian pula di samping yang telah disebutkan di atas, sebagai benda-benda yang bersifat konkret, ada juga lingkungan yang bersifat abstrak antara lain: situasi ekonomi, social, politik, budaya, adat istiadat serta idiologi atau pandangan hidup. Kesemua bentuk lingkungan tersebut dapat berdampak menguntungkan (positif) atau merugikan (negatif) bagi proses perkembangan anak.

3.Tugas-tugas perkembangan

Yang dimaksud tugas-tugas perkembangan anak dalam pembahasan ini adalah tinjauan teoritis mengenai dinamika dari perkembangan anak. Penjelasan di bawah ini akan menerangkan tentang daya dinamis yang mendasari perkembangan anak, sehingga anak mau secara aktif mengadakan percobaan-percobaan. Ia akan berusaha mencoba segenap potensi kemampuan untuk mencari pengalaman barunya. Sebab dengan kekayaan pengalaman yang dimiliki, anak akan tumbuh dan berkembang jiwanya secara cepat dan sehat.

Menurut teori dorongan (motivasi) bahwa segenap tingkah laku anak itu distimulasi dari dalam. Sebagaimana dikatakan oleh C. Chifford T. Morgan bahwa motivasi adalah dorongan keinginan, sekaligus sebagai sumber daya penggerak melakukan sesuatu yang berasal dari dalam dirinya, dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.

Jika kebutuhan (need) baik yang bersifat biologis atau sosio kultural tersebut belum terpenuhi, maka akan timbul ketegangan, iritasi (sakit hati) atau frustasi, maka terjadi keadaan tidak seimbang pada dirinya (disequilibrium). Maka motif utama dalam kehidupan manusia adalah usaha menghilangkan segeenap ketegangan, iritasi dan frustasi guna mencapai keseimbangan (equilibrium) kembali. Dan inilah yang akan mendorong semua kegiatan dan setiap proses perkembangan anak, menurut teori tersebut.

Teori yang lain, yakni teori dinamisme mengatakan bahwa di dalam organisme yang hidup itu selalu ada usaha yang positif. Organisme itu memiliki kapasitas dan impuls-impuls tertentu yang dipakai untuk memobilisasi semua kemampuan, agar berfungsi dan dapat dimanfaatkan, sejalan dengan pikiran tersebut, maka anak bukan hanya mempertahankan keseimbangan dirinya secara lahir dan batin saja, tetapi juga dia justru mencari ketidakseimbangan/disekuilibrium. Ia akan selalu mencari pengalaman-pengalaman baru. Ia ingin mengadakan eksperimen, menjelajahi arena-arena yang asing guna mencoba potensi yang ada pada dirinya, dan mengetes bakatnya.

Jika mekanisme untuk merangkak pada diri anak sudah matang, maka dengan sendirinya ia akan belajar merangkak, sekalipun tidak ada rangsangan di depannya. Jika kedua kakinya sudah kuat untuk menyaga tubuhnya maka ia akan berusaha berdiri sekalipun masih ada kesulitan.

Jika intelektualnya sudah mulai berkembang maka anak akan mulai belajar berbicara, dan seterusnya. Yang demikian itu disebabkan anak merupakan subjek yang aktif dalam memfungsikan segenap kemampuannya dalam proses perkembangannya.

Segala sesuatu yang berlangsung selama perkembangan, sebenarnya akan membuahkan hasil sempurna bagi anak jika diproduksi oleh adanya interaksi faktor hereditas dan faktor lingkungan. Sehingga tampak betapa perlunya bagi orang tua atau pendidikan untuk selalu memperhatikan bakat dalam rangka perawatan dan pendidikan anak.

Di dalam proses pengembangan diri seorang anak dapat menengok pada pengalaman-pengalaman masa lampau, masa kini, untuk kemudian membuat rencana hari esok.

Drs. Kartini Kartono berpendapat bahwa ekstensi anak dipastikan oleh adanya:

  1. Segenap kualitas hereditas.
  2. Pengalaman masa lampau dan masa sekarang, dalam suatu lingkungan social tertentu dan sebagai produk proses belajar secara kontinu.
  3. Idealitas dan tujuan yang ingin dicapai.

Maka pada prinsipnya, keyakinan anak manusia bahwa dirinya mampu berbuat pilihan dan keputusan sendiri itu akan menumbuhkan rasa bangga, senang, dan bahagia. Serta lambat laun akan menumbuhkan rasa tanggung jawab untuk terus maju melaksanakan tugas-tugas perkembangan (development tasks) dalam hidupnya.

Robert J. Havighurst (1953) mengemukakan bahwa perjalanan hidup seseorang itu ditandai oleh adanay tugas-tugas yang harus dipenuhi. Tugas-tugas ini dalam batas-batas tertentu bersifat khas (spesifik) untuk masa-masa kehidupan seseorang dalam masa kehidupan tertentu adalah disesuaikan dengan norma-norma social serta norma-norma kebudayaan.

Tugas-tugas perkembangan tadi menuntut adanya korelasi antara potensi diri dan pendidikan yang diterima anak, serta norma-norma social budaya yang ada. Sebab konsep diri dan harga diri seseorang akan dianggap turun jika ia tidak dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangannya dengan baik-baik. Maka orang tersebut akan mendapatkan kecaman dan celaan dari masyarakat sekelilingnya. Selanjutnya orang tadi akan merasa sedih dan tidak bahagia. Akan tetapi apabila seseorang berhasil melaksanakan tugas-tugas perkembangan maka orang tersebut akan membawa perasaan bahagia, rasanya ia berhasil dalam hidupnya.

 


Related Pos :