Fungsi Motivasi dan Bentuk-bentuk Motivasi dalam Belajar

By Admin | pengetahuan

Fungsi motivasi dan bentuk-bentuk motivasi dalam belajar

Apa fungsi motivasi dalam belajar bagi anak didik? dan Apa pula bentuk-bentuk motivasi dalam belajar? ya, hal ini penting diketahui oleh guru atau calon guru sehingga bisa sukses memberikan pelajaran kepada peserta didiknya. Dalam kegiatan belajar mengajar pasti ditemukan anak didik yang malas berpartisipasi dalam belajar. Sementara anak didik yang lain aktif berpartisipasi dalam kegiatan, seorang atau dua orang anak didik duduk dengan santainya di kursi mereka dengan alam pemikiran yang jauh entah ke mana. Sedikit pun tidak tergerak hatinya untuk mengikuti pelajaran dengan cara mendengarkan penjelasan guru dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.

Ketiadaan minat terhadap suatu mata pelajaran menjadi pangkal penyebab kenapa anak didik tidak bergeming untuk mencatat apa-apa yang telah disampaikan oleh guru. Itulah sebagai pertanda bahwa anak didik tidak mempunyai motivasi untuk belajar. Kemiskinan motivasi intrinsik ini merupakan masalah yang memerlukan bantuan yang tidak bisa ditunda-tunda. Guru harus memberikan suntikan dalam bentuk motivasi ekstrinsik. Sehingga dengan bantuan itu anak didik dapat keluar dari kesulitan belajar.


Bila motivasi ekstrinsik yang diberikan itu dapat membantu anak didik keluar dari lingkaran masalah kesulitan belajar, maka motivasi dapat diperankan dengan baik oleh guru. Peranan yang dimainkan oleh guru dengan mengandalkan fungsi-fungsi motivasi merupakan langkah yang akurat untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif bagi anak didik.

Fungsi Motivasi Dalam Belajar Bagi Peserta Didik

Baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik sama sama berfungsi sebagai pendorong, penggerak dan penyeleksi perbuatan. Ketiganya menyatu dalam sikap terimplikasi dalam perbuatan. Dorongan adalah fenomena psikologis dari dalam yang melahirkan hasrat untuk bergerak dalam menyeleksi perbuatan yang akan dilakukan. Karena itulah baik dorongan atau penggerak maupun penyeleksi merupakan kata kunci dari motivasi dalam setiap perbuatan dalam belajar.

Untuk lebih jelasnya berikut uraian 3 fungsi motivasi dalam belajar bagi peserta didik:

1. Motivasi sebagai Pendorong perbuatan
Pada mulanya anak didik tidak ada hasrat untuk belajar, tetapi karena ada sesuatu yang dicari muncullah minatnya untuk belajar. Sesuatu yang akan dicari itu dalam rangka untuk memuaskan rasa ingin tahunya dari sesuatu yang yang akan dipelajari. Sesuatu yang belum diketahui itu akhirnya mendorong anak didik untuk belajar dalam rangka mencari tahu. Anak didik pun mengambil sikap seiring dengan minat terhadap suatu objek. Disini, anak didik mempunyai keyakinan dan pendirian tentang apa yang seharusnya dilakukan untuk mencari tahu tentang sesuatu. Sikap itulah yang mendasari dan mendorong kearah sejumlah perbuatan dalam belajar. Jadi, motivasi yang berfungsi sebagai pendorong ini mempengaruhi sikap apa yang seharusnya anak didik ambil dalam rangka belajar.

2. Motivasi sebagai penggerak perbuatan
Dorongan psikologis yang melahirkan sikap terhadap anak didik itu merupakan suatu kekuatan yang tak terbendung, yang kemudian terjelma dalam bentuk gerakan psikofisik. Disini anak didik sudah melakukan aktivitas belajar dengan segenap jiwa dan raga. Akan pikiran berproses dengan sikap raga yang cenderung tunduk dengan kehendak perbuatan belajar. Sikap berada dalam kepastian perbuatan dan akal pikiran mencoba membedah nilai yang terpatri dalam wacana, prinsip, dalil dan hukum sehingga mengerti betul isi yang dikandungnya.

3. Motivasi sebagai pengarah perbuatan
Anak didik yang mempunyai motivasi dapat menyeleksi mana perbuatan yang harus dilakukan dan mana perbuatan yang diabaikan. Seorang anak didik yang ingin mendapatkan sesuatu dari suatu mata pelajaran tertentu, tidak mungkin dipaksakan untuk mempelajari mata pelajaran yang lain. Pasti anak didik akan mempelajari mata pelajaran di mana tersimpan sesuatu yang akan dicari itu. Sesuatu yang yang dicari anak didik merupakan tujuan belajar yang akan dicapainya. Tujuan belajar itulah sebagai pengarah yang memberikan motivasi kepada anak didik dalam belajar. Dengan tekun anak didik belajar, dengan penuh konsentrasi anak didik belajar agar tujuannya mencari sesuatu yang ingin diketahui/dimengerti itu cepat tercapai. Segala sesuatu yang mengganggu pikirannya dan dapat membuyarkan konsentrasinya diusahakan disingkirkan jauh-jauh. Itulah peranan motivasi yang dapat mengarahkan perbuatan anak didik dalam belajar.

Baca juga: Pengertian dan Hakikat Belajar

Bentuk-bentuk Motivasi dalam Belajar

Dalam proses interaksi belajar mengajar, baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik, diperlukan untuk mendorong anak didik agar tekun belajar. Motivasi ekstrinsik sangat diperlukan bila ada diantara anak didik yang kurang berminat mengikuti pelajaran dalam jangka waktu tertentu. Peranan motivasi ekstrinsik cukup besar untuk membimbing anak didik dalam belajar. Hal ini perlu disadari oleh guru. Untuk itu seorang guru biasanya memanfaatkan motivasi ekstrinsik untuk meningkatkan minat anak didik agar lebih bergairah belajar meski terkadang tidak tepat. Drs. Wasty Soemanto (1984) mengatakan, bahwa guru-guru sangat menyadari pentingnya motivasi dalam bimbingan belajar murid. Berbagai macam teknik, misalnya kenaikan tingkat, penghargaan, peranan-peranan kehormatan, piagam-piagam prestasi, pujian dan celaan telah dipergunakan untuk mendorong murid-murid agar mau belajar. Adakalanya guru-guru mempergunakan teknik-teknik tersebut secara tidak tepat.

Kesalahan dalam memberikan motivasi ekstrinsik berakibat merugikan prestasi belajar anak didik dalam kondisi tertentu. Interaksi belajar mengajar menjadi kurang harmonis. Tujuan pendidikan dan pengajaran pun tidak akan tercapai dalam waktu yang relatif singkat, sesuai dengan target yang telah dirumuskan. Oleh karena itu, pemahaman mengenai kondisi psikologis anak didik sangat diperlukan guna mengetahui gejala apa yang sedang dihadapi anak didik sehingga gairah belajarnya menurun.

Ada beberapa bentuk motivasi yang dapat dimanfaatkan dalam rangka mengarahkan belajar anak didik dikelas, sebagai berikut:

1. Memberi Angka
Angka dimaksud adalah sebagai simbol atau nilai dari hasil aktivitas belajar anak didik. Angka yang diberikan kepada setiap anak didik biasanya bervariasi, sesuai hasil ulangan yang telah mereka peroleh dari hasil penilaian guru, bukan karena belas kasihan guru. Angka merupakan alat motivasi yang cukup memberikan rangsangan kepada anak didik untuk mempertahankan atau bahkan lebih meningkatkan prestasi belajar mereka dimasa mendatang. Angka ini biasanya terdapat dalam buku rapor sesuai jumlah mata pelajaran yang diprogramkan dalam kurikulu.

Angka atau nilai yang baik mempunyai potensi yang besar untuk memberikan motivasi kepada anak didik lebih giat belajar. Apalagi bila angka yang diperoleh oleh anak didik lebih tinggi dari anak didik lainnya. Namun, guru harus menyadari bahwa angka/nilai bukanlah merupakan hasil belajar yang sejati, hasil belajar yang bermakna, karena hasil belajar seperti itu lebih menyentuh aspek kognitif. Bisa saja nilai itu bertentangan dengan afektif anak didik. untuk itu guru perlu memberikan angka/nilai yang menyentuh aspek afektif dan keterampilan yang diperlihatkan anak didik dalam pergaulan/kehidupan sehari-hari. Penilaian harus juga diarahkan pada aspek kepribadian anak didik dengan cara mengamati kehidupan anak didik disekolah, tidak hanya semata-mata berpedoman pada hasil ulangan dikelas, baik dalam bentuk formatif atau sumatif.

Pemberian angka/nilai yang baik juga penting diberikan kepada anak didik yang kurang bergairah belajar. Bila hal itu dianggap dapat memotivasi anak didik untuk belajar dengan bersemangat. Namun, bila sebaliknya, hal itu perlu dipertimbangkan sehingga tidak mendapatkan protes dari anak didik lainnya. Kebijaksanaan ini diserahkan kepada guru sebagai orang yang berkompeten dan lebih banyak mengetahui tentang aktivitas belajar anak didik biasanya. Demikianlah, guru dapat memberikan penilaian berupa angka dengan mempertimbangkan untung ruginya dalam segala segi pendidikan.

2. Hadiah
Hadiah adalah memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai penghargaan atau kenang-kenangan/cenderamata. Hadiah yang diberikan kepada orang lain bisa berupa apa saja, tergantung dari keinginan pemberi. Atau bisa juga disesuaikan dengan prestasi yang dicapai oleh seseorang. Penerima hadiah tidak tergantung dari jabatan, profesi, dan usia seseorang. Semua orang berhak menerima hadiah dari seseorang dengan motif-motif tertentu.

Hadiah sering dipermasalahkan bila seseorang ingin memberikan sebuah cenderamata kepada kerabat, adik, kakak, sahabat, kekasih sebagai kenang-kenangan berupa materi dalam berbagai jenis dan bentuknya. Kegiatan itu biasanya berlangsung bila ada diantara orang tertentu yang ingin memberikan hadiah kepada orang yang akan melaksanakan hari ulang tahun, orang yang akan melaksanakan perkawinan dan sebagainya.

Dalam dunia pendidikan, hadiah bisa dijadikan sebagai motivasi. Hadiah dapat diberikan kepada anak didik yang berprestasi tinggi, rangking satu, dua atau tiga dari anak didik lainnya. Dalam pendidikan modern, anak didik yang berprestasi tertinggi memperoleh predikat sebagai anak didik teladan dan untuk perguruan tinggi universitas disebut sebagai mahasiswa teladan. sebagai penghargaan atas prestasi mereka dalam belajar, uang beasiswa supersemar pun mereka terima setiap bulan dengan jumlah dan jangka waktu yang ditentukan. Hadiah berupa uang beasiswa supersemar diberikan adalah untuk memotivasi anak didik/mahasiswa agar senantiasa mempertahankan prestasi belajar selama berstudi. Kepentingan lainnya adalah untuk membantu anak-anak atau mahasiswa yang berprestasi dalam segala hal, tetapi termasuk kelompok anak dengan latar belakang ekonomi orang tua mereka yang lemah, sehingga bila tidak dibantu berupa uang beasiswa Supersemar, studi mereka akan kandas ditengah perjalanan atau gagal sama sekali.

Pemberian hadiah bisa juga diberikan bukan berbentuk beasiswa supersemar, tetapi berbentuk lain seperti berupa buku-buku tulis, pensil, bolpoin dan buku-buku bacaan lainnya yang dikumpulkan dalam sebuah kotak terbungkus dengan rapi. Pemberian hadiah seperti itu dapat dilakukan pada setiap kenaikan kelas. Dengan cara itu anak didik akan termotivasi untuk belajar guna mempertahankan prestasi belajar yang telah mereka capai. Dan tidak menutup kemungkinan akan mendorong anak didik lainnya untuk ikut berkompetisi dalam belajar. Hal ini merupakan gejala yang baik dan harus disediakan lingkungan yang kreatif bagi anak didik. Pemberian hadiah yang sederhana ini perlu digalakan karena relatif murah dan dirasakan cukup efektif untuk memotivasi anak didik dalam kompetisi belajar. Jangan menunggu hadiah yang muluk-muluk dan mahal dengan maksud membanggakan diri sendiri.

3. Kompetisi
Kompetisi adalah persaingan. dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong anak didik agar mereka bergairah belajar. Persaingan, baik dalam bentuk individu maupun kelompok diperlukan dalam pendidikan. Kondisi ini bisa dimanfaatkan untuk menjadikan proses interaksi belajar mengajar yang kondusif. Untuk menciptakan suasana yang demikian, metode mengajar memegang peranan. Guru bisa membentuk anak didik ke dalam beberapa kelompok belajar dikelas, ketika pelajaran sedang berlangsung. Semua anak didik dilibatkan ke dalam suasana belajar. Guru bertindak sebagai fasilitator, sementara setiap anak didik aktif belajar sebagai subjek yang memiliki tujuan. Anggota kelompok untuk setiap kelompok belajar jangan terlalu banyak karena hal itu kurang efektif. Iklim kelas yang kreatif dan didukung dengan anak didik yang haus ilmu sangat potensial menciptakan masyarakat belajar dikelas. Kompetisi yang sehat pun berlangsung di kalangan anak didik, jauh dari sifat malas dan kemunafikan. Tidak ada lagi beredar isu tugas selesai karena nyontek di kalangan pelajar.

Bila iklim belajar yang kondusif terbentuk, maka setiap anak didik telah terlihat dalam kompetisi untuk menguasai bahan pelajaran yang diberikan. Selanjutnya, setiap anak didik sebagai individu melibatkan diri mereka masing-masing ke dalam aktivitas belajar. Kondisi inilah yang dikehendaki dalam pendidikan modern, yakni cara belajar siswa aktif (CBSA), bukan catat buku sampai akhir pelajaran yang merupakan kepanjang dari CBSA pasaran.

4. Ego-Involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada anak didik agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai suatu tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri adalah salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Seseorang akan berusaha sengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya. Penyelesaian tugas dengan baik adalah simbol kebanggaan dan harga diri. Begitu juga dengan anak didik sebagai subjek belajar. Anak didik akan belajar dengan keras bisa jadi karena harga dirinya.

Sebagai makhluk yang berakal anak didik pasti menjaga harga dirinya. Dia rela mempertaruhkan harga dirinya bila dicemooh, diejek atau dihina. Meski hasil pekerjaan karena ketidakjujuran tetapi anak didik tidak mau dikatakan sebagai anak didik yang suka nyontek. Gelar ini menyudutkan anak didik. Harga dirinya dipermalukan di depan kawan-kawannya. Usaha nyontek yang dilakukan anak didik selain menutupi ketidakberdayaannya atau kelengahannya dalam menyelesaikan tugas, juga sebagai langkah mengamankan diri dari sanksi yang dijanjikan guru atau untuk menutupi harga diri dari rasa malu. Kejahiliyahan yang dilakukan oleh anak didik itu disebabkan pada dirinya belum tumbuh kesadaran akan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan yang baik, sehingga tidak mau bekerja keras dengan mempertaruhkan harga dirinya demi keberhasilan belajar. Perilaku anak didik yang demikian memang harus dihilangkan dengan menyediakan lingkungan belajar yang kondusif dan kreatif. Lingkungan kelas dengan suasana belajar yang jujur sangat mendukung lahirnya sikap belajar yang positif bagi anak didik. Tidak ada celah bagi anak didik untuk berbuat tidak jujur.

5. Memberi Ulangan
Ulangan bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Anak didik biasanya mempersiapkan diri dengan belajar jauh-jauh hari untuk menghadapi ulangan. Berbagai usaha dan teknik bagaimana agar dapat menguasai semua bahan pelajaran anak didik lakukan sedini mungkin sehingga memudahkan mereka untuk menjawab setiap item soal yang diajukan ketika pelaksanaan ulangan berlangsung sesuai dengan interval waktu yang diberikan.

Oleh karena itu, ulangan merupakan strategi yang cukup baik untuk memotivasi anak didik agar lebih giat belajar. Namun demikian, ulangan tidak selamanya dapat digunakan sebagai alat motivasi. Ulangan yang guru lakukan setiap hari dengan tak terprogram, hanya karena selera, akan membosankan anak didik. Anak didik merasa jenuh dengan ulangan yang diberikan setiap hari. Kondisi seperti itu menyebabkan perubahan sikap anak didik yang kurang baik, anak didik bukan giat belajar, tetapi malas belajar, yang disebabkan merasa bosan dengan soal-soal yang diberikan. Lebih fatal lagi bila ulangan itu dianggap anak didik sebagai momok yang menakutkan.

Oleh karena itu, ulangan akan menjadi alat motivasi bila dilakukan secara akurat dengan teknik dan strategi yang sistematis dan terencana.

6. Mengetahui Hasil
Mengetahui hasil belajar bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Dengan mengetahui hasil, anak didik terdorong untuk belajar lebih giat. Apalagi bila hasil belajar itu mengalami kemajuan, anak didik berusaha untuk mempertahankannya atau bahkan meningkatkan intensitas belajarnya guna mendapatkan prestasi belajar yang lebih baik di kemudian hari atau pada semester atau catur wulan berikutnya.

Bagi anak didik yang menyadari betapa besarnya nilai sebuah prestasi belajar akan meningkatkan intensitas belajarnya guna mendapatkan prestasi belajar yang melebihi prestasi belajar yang diketahui sebelumnya. Prestasi belajar yang rendah menjadikan anak didik giat belajar untuk memperbaikinya. Sikap seperti itu terjadi bila anak didik merasa rugi mendapat prestasi belajar yang tidak sesuai dengan harapan. Mungkin juga anak didik frustasi dengan nilai yang rendah itu, sehingga malas belajar. Tetapi dengan sikap anak didik yang siap menerima prestasi belajar yang rendah, disebabkan kesalahan belajar, dia akan berjiwa besar dan berusaha memperbaikinya dengan belajar lebih optimal, bukan asal-asalan.

7. Pujian
Pujian yang diucapkan pada waktu yang tepat dapat dijadikan sebagai alat motivasi. Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. Guru bisa memanfaatkan pujian untuk memuji keberhasilan anak didik dalam mengerjakan pekerjaan di sekolah. Pujian diberikan sesuai dengan hasil kerja, bukan dibuat-buat atau bertentangan sama sekali dengan hasil kerja anak didik.

Seorang yang senang dipuji atas hasil pekerjaan yang telah mereka selesaikan, dengan pujian yang diberikan akan membesarkan jiwa seseorang. Dia akan lebih bergairah mengerjakannya. Demikian juga dengan anak didik, akan lebih bergairah belajar bila hasil pekerjaannya dipuji dan diperhatikan. Banyak anak didik yang iri terhadap anak didik tertentu yang lebih banyak mendapat pujian dan perhatian ekstra dari guru. Mereka malas belajar karena menganggap guru pilih kasih dalam melampiaskan kasih sayang. Sikap negatif anak didik ini harus diredam dengan menempatkan anak didik secara proporsional. Pujian harus diberikan secara merata kepada anak didik sebagai individu, bukan kepada yang cantik atau yang pintar. Dengan begitu anak didik tidak antipati terhadap guru, tetapi merupakan figur yang disenangi dan dikagumi.

8. Hukuman
Meski hukuman sebagai reinforcement yang negatif tetapi bila dilakukan dengan tepat dan bijak akan menjadi alat motivasi yang baik dan efektif. Hukuman merupakan alat motivasi bila dilakukan dengan pendekatan edukatif, bukan karena dendam. Pendekatan edukatif dimaksud disini sebagai hukuman yang mendidik dan bertujuan memperbaiki sikap dan perbuatan anak didik yang dianggap salah. Sehingga dengan hukuman yang diberikan itu, anak didik tidak mengulangi kesalahan atau pelanggaran. Minimal mengurangi frekuensi pelanggaran. Akan lebih baik bila anak didik berhenti melakukannya di hari mendatang.

Sanksi berupa hukuman yang diberikan kepada anak didik yang melanggar peraturab atau tata tertib sekolah dapat menjadi alat motivasi dalam rangka meningkatkan prestasi belajar. Asalkan hukuman yang mendidik dan sesuai dengan berat ringannya pelanggaran. Hukuman yang tak terdidik misalnya memukul anak didik yang terlambat masuk kelas hingga luka, menjewer telinga anak didik yang tidak mengerjakan tugas hingga menangis dan tindakan lainnya. Tindakan ini kurang bijaksana dalam pendidikan. Karena tindakan itu berpotensi mendatangkan permusuhan dan kebencian anak didik terhadap guru. Guru akan dijauhi oleh setiap anak didik yang pernah disakiti. Kerawanan hubungan guru dengan anak didik tak dapat dielakkan. Konsekuensinya, prestasi belajar untuk mata pelajaran yang dipegang oleh guru yang pernah memukul anak itu menjadi rendah, karena anak didik telah membenci, baik guru maupun mata pelajaran yang dipegangnya.

Oleh karena itu, hukuman hanya diberikan oleh guru dalam konteks mendidik seperti memberikan hukuman berupa membersihkan kelas, menyiangi rumput dihalaman sekolah, membuat resume atau ringkasan, menghapal sebuah atau beberapa ayat al-quran, menghapal beberapa kosakata bahasa arab atau bahasa inggris atau apa saja dengan tujuan mendidik.

9. Hasrat untuk Belajar
Hasrat untuk belajar berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik bila dibandingkan dengan segala kegiatan tanpa maksud. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik daripada anak didik yang tak berhasrat untuk belajar.

Hasrat untuk belajar merupakan potensi yang tersedia di dalam diri anak didik. Potensi itu harus ditumbuh suburkan dengan menyediakan lingkungan belajar yang kreatif sebagai pendukung utamanya. Motivasi ekstrinsik sangat diperlukan disini, agar hasrat untuk belajar itu menjelma menjadi perilaku belajar.

Diakui, hasrat untuk belajar adalah gejala psikologis yang tidak berdiri sendiri, tetapi berhubungan dengan kebutuhan anak didik untuk mengetahui sesuatu dari objek yang akan dipelajarinya. Kebutuhan itulah yang menjadi dasar aktivitas anak didik dalam belajar. Tiada kebutuhan berarti tidak ada hasrat untuk belajar, itu sama saja tak ada minat untuk belajar.

Disekolah cukup banyak anak didik yang berhasrat untuk mengembangkan potensi diri, tetapi karena lingkungan yang tersedia kurang kreatif, maka tidak ada dukungan bagi anak untuk mengembangkan minat, bakat dan kemampuannya. Jadilah dia anak didik yang pasif, menyerah pada keadaan. Motivasi keilmuan yang seharusnya bergelora menjadi redup, hanya karena hasratnya untuk belajar tidak terayomi.

10. Minat
Minat adalah kecenderungan yang menetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas. Seseorang yang berminat terhadap suatu aktivitas akan memperhatikan aktivitas itu secara konsisten dengan rasa senang. Dengan kata lain, minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa adanya yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu diluar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat.

Minat besar pengaruhnya terhadap aktivitas belajar. Anak didik yang berminat terhadap suatu mata pelajaran akan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, karena ada daya tarik baginya. Anak didik mudah menghapal pelajaran yang menarik minatnya. Proses belajar akan berjalan lancar bila diserta minat. Minat merupakan alat motivasi yang utama yang dapat membangkitkan kegairahan belajar anak didik dalam rentangan waktu tertentu. Oleh karena itu, guru perlu membangkitkan minat anak didik agar pelajaran yang diberikan mudah anak didik pahami. Ada beberapa macam cara yang dapat guru lakukan untuk membangkitkan minat anak didik sebagai berikut:

a. Membandingkan adanya suatu kebutuhan pada diri anak didik, sehingga dia rela belajar tanpa paksaan.

b. Menghubungkan bahan pelajaran yang diberikan dengan persoalan pengalaman yang dimiliki anak didik, sehingga anak didik mudah menerima bahan pelajaran.

c. Memberikan kesempatan kepada anak didik untuk mendapatkan hasil belajar yang baik dengan cara menyediakan lingkungan belajar yang kreatif dan kondusif.

d. Menggunakan berbagai macam bentuk dan teknik mengajar dalam konteks perbedaan individual anak didik.

11. Tujuan yang Diakui
Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh anak didik merupakan alat motivasi yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, dirasakan anak sangat berguna dan menguntungkan, sehingga menimbulkan gairah untuk terus belajar.

Tujuan pengajaran yang akan dicapai sebaiknya guru beritahukan kepada anak didik, sehingga anak didik dapat memberikan alternatif tentang pilihan tingkah laku yang mana yang harus diambil guna menunjang tercapainya rumusan tujuan pengajaran. Anak didik berusaha mendengarkan penjelasan guru atau tugas yang akan diselesaikan oleh anak didik untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Perilaku anak didik jelas dan terarah tanpa ada penyimpangan yang berarti.

Itulah fungsi motivasi dan bentuk-bentuk motivasi dalam belajar anak didik yang kami kutip dari buku : Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag, 2011. Psikologi Belajar Edisi II. Jakarta : Rineka Cipta. Terima kasih. Semoga Bermanfaat.


tags: , ,

Related Pos :