Fungsi Hadist Terhadap Al-Qur’an

By Admin | Umum

Fungsi hadist terhadap Al-Qur'an

Al-Qur’an dan hadist merupakan pedoman hidup, sumber hukum serta ajaran bagi umat Islam, dan keduanya saling berkaitan antar satu sama lain. Al-Qur’an sebagai sumber pertama sebelum hadist dan didalamnya memuat ajaran-ajaran Islam yang masih berbentuk umum dan global, sedangkan hadist sebagai sumber kedua yang memuat ajaran-ajaran Islam sebagai penjelas (bayan) dari keumuman isi Al-Qur’an tersebut. Allah berfirman: “… dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia….”( Q.S. An-Nahl ayat 44)

Allah Swt menurunkan Adz-Dzikir, yaitu Al-Qur’an bagi umat manusia. Agar Al-Qur’an ini dapat dipahami oleh manusia, maka Allah Swt. memerintahkan Rasulullah Saw untuk menjelaskannya.


Hadist sebagai penjelas atau bayan Al-Qur’an tersebut memiliki bermacam-macam fungsi. Imam Ahmad bin Hanbal menyebutkan empat fungsi, yaitu bayan at-taqrir, bayan at-tafsir, bayan at-tasyri, dan bayan at-takhsis.

Adapun beberapa penjelasan tentang fungsi hadist terhadap Al-Qur’an diantaranya:

1. Bayan at-taqrir

Bayan at-taqrir ialah menetapkan dan memperkuat apa yang telah diterangkan dalam Al-Qur’an. Fungsi al-hadist dalam hal ini hanya memperkokoh isi kandungan Al-Qur’an. Sebagai contoh adalah hadist yang diriwayatkan Muslim dari Ibnu Umar, sebagai berikut: “Apabila kalian melihat (ru’yah) bulan, maka berpuasalah, juga apabila melihat (ru’yah) itu maka berbukalah.” (H.R. Muslim)

Hadist ini mentaqrirkan ayat Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 185:

“… maka barang siapa yang mempersaksikan pada waktu itu bulan, hendaklah ia berpuasa….” (Q.S. Al-Baqarah: 185)

2. Bayan at-tafsir

Yang dimaksud dengan bayan at-tafsir adalah memberikan perincian dan penafsiran terhadap ayat Al-Qur’an yang masih mujmal, memberikan taqsyid (persyaratan) terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang masih mutlaq, dan memberikan taksis (penentuan khusus) terhadap ayat-ayat A-Qur’an yang masih umum. Contoh ayat-ayat Al-Qur’an yang masih mujmal adalah perintah mengerjakan shalat, puasa, zakat disyariatkan jual-beli, pernikahan, qiyas, hudud dan sebagainya. Oleh karena itulah Rasulullah Saw melalui hadistnya menafsirkan dan menjelaskan seperti disebutkan dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim yang berbunyi:

“Shalatlah sebagaimana engkau melihat aku shalat.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Hadist ini menerangkan tata cara menjalankan shalat, sebagaimana firman Allah Swt:

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (Q.S. Al-Baqarah: 43)

3. Bayan at-tasyri’

Yang dimaksud dengan bayan at-tasyri’ adalah mewujudkan suatu hukum atau ajaran-ajaran yang tidak didapati dalam A-Qur’an. Bayan ini disebut juga dengan bayan zaid ‘ala Al-Kitab Al-Karim. Hadist Rasulullah Saw dalam segala bentuknya (baik yang qauli, fi’li maupun taqriri) berusaha menunjukkan suatu kepastian hukum terhadap berbagai persoalan yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an.

Banyak hadist Rasulullah Saw yang termasuk dalam kelompok ini, di antaranya adalah hadist tentang penetapan haramnya mengumpulkan dua wanita bersaudara (antara istri dengan bibinya), hukum syuf’ah, hukum merajam pezina wanita yang masih perawan dan hukum tentang hak waris seorang anak.

4. Bayan An-nasakh

Kata an-nasakh dari segi bahasa memiliki bermacam-macam arti, yaitu al-itbal (membatalkan) atau al-ijalah (menghilangkan), atau at-tahwil (memindahkan), atau at-taqyir (mengubah). Para ulama mengartikan bayan an-nasakh ini melalui pendekatan bahasa, sehingga diantara mereka terjadi perbedaan pendapat dalam men-takrif-kannya. Hal ini pun terjadi pada ulama mutaakhirin dengan ulama mutaqadimin. Menurut ulama mutaqadimin yang dimaksud baying an-nasakh ialah adanya dalil syara’ (yang dapat menghapus ketentuan yang telah ada), karena datangnya kemudian. Dan pengertian di atas jelaslah bahwa ketentuan yang datang kemudian dapat menghapus ketentuan yang terdahulu. Hadist sebagai ketentuan yang datang kemudian dari Al-Qur’an, dalam hal ini, dapat menghapus kandungan dan isi Al-Qur’an. Demikianlah menurut ulama yang menganggap adanya fungsi ayan an-nasakh. Imam Hanafi membatasi fungsi bayan ini hanya terhadap hadist-hadist yang mutawatir dan masyur saja, sedangkan terhadap hadist ahad, ia menolaknya.

Related Pos :