Filsafat Positivisme

By Admin | Umum

filsafat positivisme.

Filsafat positivisme lahir pada abad ke-19. Titik tolak pemikirannya yang menjelaskan bahwa apa yang telah diketahui adalah yang faktual dan yang positif, sehingga metefisika ditolaknya. Sedangkan yang dimaksud dengan kata positif adalah segala gejala dan segala yang tampak seperti apa adanya, sebatas pengalaman-pengalaman objektif. Jadi, setelah fakta diperolehnya, fakta-fakta tersebut kita atur dapat memberikan semacam asumsi (proyeksi) ke masa depan.

Beberapa tokoh yang mengemukakan tentang filsafat positivism, diantaranya: August Comte (1798-1857), Jhon S. Mill (1806-1873), Herbert Spencer (1820-1903). Namun pada pembahasan kali ini, kita hanya akan membahas filsafat positivisme hasil pemikiran seorang tokoh yang bernama August Comte, berikut penjelasan singkatnya:


August Comte (1798-1857)

Ia lahir di Montpellier, Prancis. Salah satu karya yang telah berhasil diciptakannya adalah Cours de philosophia (Kursus tentang filsafat positif) dan ia juga berjasa dalam menciptakan ilmu sosiologi.

Menurut pendapat atau pemikirannya yaitu, bahwa perkembangan pemikiran manusia itu berlangsung dalam tiga tahap, yang meliputi: tahap teologis, tahap metafisis, dan tahap ilmiah/positif.

Pada tahap teologis manusia mengarahkan pandangannya kepada hakikat yang batiniah (sebab pertama). Di sini manusia percaya kepada kemungkinan adanya sesuatu yang mutlak. Artinya, di balik setiap kejadian tersirat adanya maksud tertentu.

Pada tahap metafisis manusia hanya sebagai tujuan pergeseran dari tahap teologis. Sifat yang khas adalah kekuatan yang tadinya bersifat adi kodrati, diganti dengan kekuatan-kekuatan yang mempunyai pengertianabstrak, yang diintegrasikan dengan alam.

Pada tahap ilmiah/positif, manusia telah mulai mengetahui dan sadar bahwa upaya pengenalan teologis dan metafisis tidak ada gunanya. Sekarang manusia berusaha mencari hukum-hukum yang berasal dari fakta-fakta pengamatan dengan memakai akal.

Tahap-tahap tersebut berlaku pada setiap individu (dalam perkembangan rohani) juga dibidang ilmu pengetahuan.
Pada akhir hidupnya, ia berupaya untuk membangun agama barutanpa teologi atas dasar filsafat positifnya. Agama baru tanpa teologi ini mengagungkan akal dan mendambakan kemanusiaan dengan semboyan “Cinta sebagai prinsip, teratur sebagai basis, kemajuan sebagai tujuan”.

Dikutip dari: buku karangan Drs. Asmoro Achmadi yang berjudul Filsafat Umum. Hal. 120-121.

Related Pos :