Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar Siswa

By Admin | pengetahuan

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa/anak didik seperti faktor lingkungan, faktor instrumental, faktor fisiologi dan faktor psikologis. Ke 4 faktor tersebut besar pengaruhnya terhadap proses belajar siswa dan dapat menentukan keberhasilan anak didik dalam belajar. Untuk penjelasan lengkapnya akan diuraikan dibawah ini. Mari kita simak bersama.

Perubahan yang terjadi pada siswa sebagai akibat dari kegiatan belajaryang telah dilakukan oleh individu. Perubahan itu adalah hasil yang telah dicapai dari proses belajar. Jadi, untuk mendapatkan hasil belajar dalam bentuk perubahan harus melalui proses tertentu yang dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri individu dan dari luar individu. Proses disini tidak dapat dilihat karena bersifat psikologis. Kecuali seseorang telah berhasil dalam belajar, maka seseorang itu telah mengalami proses tertentu dalam belajar. Oleh karena itu, proses belajar telah terjadi dalam diri seseorang hanya dapat disimpulkan hasilnya, karena aktivitas belajar yang telah dilakukan. Misalnya, tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengertia menjadi mengerti, dari tidak berilmu menjadi berilmu dan sebagainya.


Noehi Nasution dan kawan-kawan (1993:3) memandang belajar itu bukanlah suatu aktivitas yang berdiri sendiri. Mereka berkesimpulan ada unsur-unsur lain yang ikut terlibat langsung didalamnya yaitu raw input, learning teaching process, output, Enviromental input dan instrumental input. Dari gagasan tersebut masukan mentah (raw input) merupakan bahan pengalaman belajar tertentu dalam proses belajar mengajar (learning teaching process) dengan harapan dapat berubah menjadi keluaran (output) dengan kualifikasi tertentu. Didalam proses belajar mengajar itu ikut berpengaruh sejumlah faktor lingkungan yang merupakan masukan dari lingkungan (enviromental input) dan sejumlah faktor instrumental (instrumental input) yang dengan sengaja dirancang dan dimanipulasikan guna menunjang tercapainya keluaran yang dikehendaki.

4 Faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar Siswa

Dalam upaya memperjelas apa yang diuraikan diatas, Noehi Nasution dan kawan-kawan mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa secara lebih luas yaitu sebagai berikut:

#I. Faktor Lingkungan

Lingkungan merupakan bagian dari kehidupan anak didik. Dalam lingkunganlah anak didik hidup dan berinteraksi dalam mata rantai kehidupan yang disebut ekosistem. Saling ketergantungan antara lingkungan biotik dan abiotik tidak dapat dihindari. Itulah hukum alam yang harus dihadapi oleh anak didik sebagai makhluk hidup yang tergolong kelompok biotik.

Selama hidup anak didik tidak bisa menghindarkan diri dari lingkungan alami dan lingkungan sosial budaya. Interaksi dari kedua lingkungan yang berbeda ini selalu terjadi dalam mengisi kehidupan anak didik. Keduanya mempunyai pengaruh cukup signifikan terhadap kehidupan anak didik disekolah. Oleh karena kedua lingkungan ini akan dibahas satu demi satu dalam uraian berikut.

1. Lingkungan Alami
Lingkungan hidup adalah lingkungan tempat tinggal anak didik dan berusaha didalamnya. Pencemaran lingkungan hidup merupakan malapetaka bagi anak didik yang hidup di dalamnya.

Lingkungan sekolah yang baik adalah lingkungan sekolah yang di dalamnya dihiasi dengan tanaman/pepohonan yang dipelihara dengan baik. Apotik hidup mengelompokan dengan baik dan rapi sebagai laboratorium alam bagi anak didik. Sejumlah kursi dan meja belajar teratur rapi yang ditempatkan dibawah pohon-pohon tertentu agar anak didik dapat belajar mandiri di luar kelas dan berinteraksi dengan lingkungan. Kesejukan lingkungan membuat anak didik betah tinggal berlama-lama didalamnya. Begitulah lingkungan sekolah yang dikehendaki. Bukan lingkungan sekolah yang gersang, pengap, tandus dan panas yang berkepanjangan. Oleh karena itu, pembangunan sekolah sebaiknya berwawasan lingkungan, bukan memusuhi lingkungan.

Pengalaman telah banyak membuktikan bagaimana panasnya lingkungan kelas, di mana suatu sekolah yang miskin tanaman atau pepohonan di sekitarnya. Anak didik atau siswa gelisah hati untuk keluar kelas lebih besar daripada mengikuti pelajaran di dalam kelas. Daya konsentrasi semakin melemah akibat kelelahan yang tak terbendung.

2. Lingkungan Sosial Budaya
Pendapat yang tidak dapat disangkal adalah mereka yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk homo socius. Semacam makhluk yang berkecendrungan untuk hidup bersama satu sama lainnya. Hidup dalam kebersamaan dan saling membutuhkan akan melahirkan interaksi sosial. Saling memberi dan saling menerima merupakan kegiatan yang selalu ada dalam kehidupan sosial. Berbicara, bersenda gurau, memberi nasihat dan gotong royong interaksi sosial dalam tatanan kehidupan bermaysrakat.

Sebagai anggota masyarakat anak didik tidak bisa melepaskan diri dari ikatan sosial. Sistem sosial yang terbentuk mengikat perilaku siswa untuk tunduk pada norma-norma sosial, susila dan hukum yang berlaku dalam masyarakat. Demikian juga halnya di sekolah. Ketika siswa berada disekolah, maka dia berada dalam sistem sosial di sekolah. Peraturan dan tata tertib sekolah harus anak didik taati. Pelanggaran yang dilakukan siswa akan dikenakan sanksi sesua dengan jenis dan berat ringannya pelanggaran. Lahirnya peraturan sekolah bertujuan untuk mengatur dan membentuk perilaku anak didik yang menunjang keberhasilan belajar di sekolah.

Lingkungan sosial budaya di luar sekolah ternyata sisi kehidupan yang mendatangkan masalah tersendiri bagi kehidupan siswa di sekolah. Pembangunan gedung sekolah yang tidak jauh dari hiruk pikuk lalu lintas menimbulkan kegaduhan suasana kelas. Pabrik-pabrik yang didirikan di sekitar sekolah dapat menimbulkan kebisingan di dalam kelas. Keramaian sayup-sayup terdengat oleh anak didik di dalam kelas. Bagaimana anak didik dapat berkonsentrasi dengan baik bila berbagai gangguan itu selalu terjadi di sekitar anak didik. Jangan berbagai gangguan dari peristiwa di luar sekolah, ada seseorang yang hilir mudik di sekitar anak pun, dia tidak mampu untuk berkonsentrasi dengan baik. Berbicara di sekitar anak yang sedang belajar juga dapat membuyarkan konsentrasinya dalam belajar. Representasi sesuatu dalam wujud potret atau tulisan diakui dapat mengganggu kegiatan belajar anak didik.

Mengingat pengaruh yang kurang menguntungkan dari lingkungan pabrik, pasar, dan arus lalu lintas tertentu akan sangat bijaksana bila pembangunan gedung sekolah di tempat yang jauh dari lingkungan tersebut.

#II. Faktor Instrumental

Setiap sekolah mempunyai tujuan yang ingin di capai. Tujuannya tentu saja pada tingkat kelembagaan. Dalam rangka melicinkan ke arah itu diperlukan seperangkat kelengkapan dalam berbagai bentuk dan jenis. Adapun faktor instrumental yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa antara lain sebagai berikut:

1. Kurikulum
Kurikulum adala a plan for learning yang merupakan unsur substansial dalam pendidikan. Tanpa kurikulum kegiatan belajar mengajar tidak dapat berlangsung. Sebab materi apa yang harus guru sampaikan dalam suatu pertemuan kelas, jika belum guru programkan sebelumnya. Itulah sebabnya, untuk semua mata pelajaran, setiap guru memiliki kurikulum untuk mata pelajaran yang dipegang dan diajarkan kepada anak didik. Setiap guru harus mempelajari dan menjabarkan isi kurikulum ke dalam program yang lebih rinci dan jelas sasarannya. Sehingga dapat diketahui dan diukur dengan pasti tingkat keberhasilan belajar mengajar yang telah dilaksanakan.

Muatan kurikulum akan sangat mempengaruhi intensitas dan frekuensi belajar anak didik. Untuk mencapai target penguasaan kurikulum oleh siswa terkadang dirasakan begitu sulit. Faktor sejarah masa lalu yang menjadi akar permasalahannya. Sebelum melanjutkan sekolah, anak didik telah dididik dalam lingkungan sekolah dengan sistem pendidikan yang kurang baik, maka anak didik akan mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru. Ada mata pelajaran tertentu yang sangat sulit untuk diserap dan dicerna oleh siswa. Boleh jadi mata pelajaran itu sangat dibenci oleh anak didik karena suatu hal. Guru tidak dapat banyak berharap kepada siswa seperti ini untuk mencapai target penguasaan kurikulum.

Jadi, kurikulum diakui dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar anak didik di sekolah.

2. Program
Setiap sekolah mempunyai program pendidikan yang disusun untuk dijalankan demi kemajuan pendidikan. Keberhasilan pendidikan di sekolah tergantung dari baik tidaknya program pendidikan yang dirancang. Program pendidikan disusun berdasarkan potensi sekolah yang tersedia, baik tenaga, finansial dan sarana prasarana.

Bervariasinya potensi yang tersedia melahirkan program pendidikan yang berlainan untuk setiap sekolah. Untuk program pendidikan yang bersifat umum masih terdapat persamaan, tetapi untuk penjabaran program pendidikan menjadi bagian-bagian program kecil – bagian dan subbagian – ada perbedaan. Tenaga finansial dan sarana prasarana merupakan biang dari perbedaan itu.

Program bimbingan dan penyuluhan mempunyai andil yang besar dalam keberhasilan belajar anak didik di sekolah. Kemudian program pengajaran yang guru buat akan mempengarhui kemana proses belajar itu berlangsung. Gaya belajar anak didik yang digiring ke suatu aktivitas belajar yang menunjang keberhasilan program pengajaran yang dibuat guru. Program pengajaran yang di buat guru tidak hanya berguna bagi guru, tetapi juga bagi anak didik. Bagi guru dapat menyeleksi perbuatan sendiri dan kata-kata atau kalimat yang dapat menunjang tercapainya tujuan pengajaran. Bagi anak didik atau siswa dapat memilih bahan pelajaran atau kegiatan yang menunjang ke arah penguasaan materi seefektif dan seefisien mungkin.

3. Sarana dan Fasilitas
Sarana mempunyai arti penting dalam pendidikan. Gedung sekolah misalnya sebagai tempat yang strategis bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar di sekolah. Salah satu persyaratan untuk membuat suatu sekolah adalah pemilikan gedung sekolah yang didalamnya ada ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang dewan guru, ruang perpustakaan, ruang BP, ruang tata usaha, auditorium dan halaman sekolah yang memadai. Semua bertujuan untuk memberikan kemudahan pelayanan anak didik.

Selain masalah sarana, fasilitas juga kelengkapan sekolah yang sama sekali tidak bisa diabaikan. Lengkap tidaknya buku-buku di perpustakaan ikut menentukan kualitas suatu sekolah. Perpustakaan sekolah adalah laboratorium ilmu. tempat ini harus menjadi sahabat karib anak didik. Di sekolah, kapan dan dimana ada waktu luang anak didi harus datang ke sana untuk membaca buku atau meminjam buku demi keberhasilan belajar. Anak didik juga harus memiliki buku pegangan yang lengkap sebagai penunjang kegiatan belajar.

Guru juga harus memiliki fasilitas mengajar yang lengkap seperti buku pegangan dan alat peraga. Fasilitas mengajar akan sangat membantu guru dalam menunaikan tugasnya mengajar di sekolah. Memang tidak dapat disangkal bahwa sarana dan fasilitas mempengaruhi kegiatan belajar mengajar di sekolah. Anak didik tentu dapat belajar lebih baik dan menyenangkan bila suatu sekolah memenuhi segala kebutuhan belajar siswa. Masalah yang anak didik hadapi dalam belajar relatif kecil. hasil belajar anak didik tentu akan lebih baik.

4. Guru
Guru merupakan unsur manusiawi dalam pendidikan. Kahadiran guru mutlak diperlukan didalamnya. Kalau hanya ada anak didik, tetapi guru tidak ada, maka tidak akan terjadi kegiatan belajar mengajar di sekolah. Jangankan ketiadaan guru, kekurangan guru saja sudah merupakan masalah. Mata pelajaran tertentu pasti akan kekosongan guru yang dapat memegangnya. Itu berarti mata pelajaran itu tidak dapat diterima anak didik, karena tidak ada guru yang memberikan pelajaran untuk mata pelajaran itu.

Persoalan guru memang menyangkut dimensi yang luas tidak hanya bersentuhan dengan masalah di luar dirinya seperti mampu berhubungan baik dengan warga masyarakat di luar sekolah dan berhubungan dengan anak didiknya kapan dan dimanapun dia berada tetapi juga masalah yang berkaitan dengan diri pribadinya. Mampukah dia menjadi guru yang baik atau tidak? Itulah yang menjadi persoalan. Menurut M.I. Soelaeman (1985: 45) untuk menjadi guru yang baik itu tidak dapat diandalkan kepada bakat ataupun hasrat (emansipasi) ataupun lingkungan belaka, namun harus disertai studi dan latihan serta praktek/pengalaman yang memadai agar muncul sikap guru yang diinginkan sehingga melahirkan kegairahan kerja yang menyenangkan.

Sementara itu Ki Hajar Dewantara mempunyai Motta yang berbynyi : Tut wuri handayani, ing madya mangun karso, ing ngarso sung tuludo. Mengikuti dari belakang, memberi daya ditengah membina kemauannya dan di depan memberi teladan. karena itu guru yang baik sangat mempengaruhi proses belajar dan keberhasilan siswa dalam belajar.

#III. Kondisi Fisiologis

Kondisi Fisiologis pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Orang yang dalam keadaan segar jasmaninya akan berlainan belajarnya dari orang yang dalam keadaan kelelahan. Anak-anak yang tidak kekurangan gizi, mereka lekas lelah, mudah mengantuk dan sukar menerima pelajaran. Menurut Noehi, hal yang tidak kalah pentingnya adalah kondisi panca indra (mata, hidung, pengecap, telinga dan tubuh), terutama mata sebagai alat untuk melihat dan sebagai telingan sebagai alat untuk mendengar. Sebagian besar yang dipelajari manusia (anak) yang belajar berlangsung dengan membaca, melihat contoh atau model, melakukan observasi, mengamati hasil-hasil eksperimen, mendengarkan keterangan guru, mendengarkan ceramah, mendengarkan keterangan orang lain dalam diskusi dan sebagainya. Karena pentingnya peranan penglihatan dan pendengaran inilah maka lingkungan pendidikan formal orang melakukan penelitian untuk menemukan bentuk dan cara penggunaan alat peraga yang dapat dilihat dan didengar.

Tinjauan fisiologis adalah kebijakan yang pasti tidak bisa diabaikan dalam penentuan besar kecilnya, tinggi rendahnya kursi dan meja sebagai tempat duduk anak didik dalam menerima pelajaran dari guru di kelas. Perangkat tempat duduk ini mempengaruhi kenyamanan dan kemudahan anak didik ketika sedang menerima pelajaran di kelas. Dan berdampak langsung terhadap tingkat konsentrasi anak didik dalam rentangan tertentu. Anak didik akan betah duduk berlama-lama di tempat duduknya bila sesuai dengan postur tubuhnya. Baca juga: Pengertian Belajar Menurut Para Ahli

#IV. Kondisi Psikologis

Belajar pada hakikatnya adalah proses psikologis. Oleh karena itu, semua keadaan dan fungsi psikologis tentu saja mempengaruhi belajar seseorang. Itu berarti belajar bukanlah berdiri sendiri terlepas dari faktor lain seperti faktor dari luar dan faktor dari dalamFaktor psikologis sebagai faktor dari dalam tentu saja merupakan hal yang utama dalam menentukan intensitas belajar seorang anak. Meski faktor luar mendukung, tetapi faktor psikologis tidak mendukung maka faktor luar itu akan kurang signifikan. Oleh karena itu minat, kecerdasan, bakat, motivasi dan kemampuan-kemampuan kognitif adalah faktor-faktor psikologis yang utama mempengaruhi proses dan hasil belajar anak didik. Berikut urainnya.

1. Minat
Menurut Slameto (1991:182) Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut semakin besar minat. Anak didik yang memiliki minat terhadap subjek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subjek tersebut. Minat yang besar terhadap sesutu merupakan modal besar untuk mencapai atau memperoleh benda atau tujuan yang diminati. Karena itu minat sangat mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa. Tidak banyak yang dapat diharapkan untuk menghasilkan prestasi yang baik dari seorang anak yang tidak berminat untuk mempelajari sesuatu.

Beberapa ahli pendidikan berpendapat bahwa cara yang paling efektif untuk membangkitkan minat pada suatu subjek yang baru adalah dengan menggunakan minat-minat anak didik yang telah ada, misalnya, beberapa orang anak didik menaruh minat pada olahraga balap mobil. Sebelum mengajarkan percepatan gerak, guru dapat menarik perhatian anak didik dengan menceritakan sedikit mengenai balap mobil yang baru saja berlangsung. kemudian sedikit demi sedikit diarahkan ke materi pelajaran yang sesungguhnya.

2. Kecerdasan
Raden Cahaya Prabu (1986) pernah mengatakan dalam mottonya bahwa : “Didiklah anak sesuai taraf umumnya, pendidikan yang berhasil karena menyelami jiwa anak didiknya”. Yang menarik dari ungkapan ini adalah tentang umur dan menyelami jiwa anak didik.Inteligensi diakui ikut menentukan keberhasilan belajar seseorang. M. Dalyono (1997: 56) mengatakan bahwa seseorang yang memiliki inteligensi baik (IQ nya tinggi) umumnya mudah belajar dan hasilnya pun cenderung baik. Sebaliknya, orang yang inteligensinya rendah cenderung mengalami kesukaran dalam belajar, lambat berpikir sehingga prestasi belajarnya pun rendah.

Raden Cahaya Prabu (1986: 45) juga mengatakan bahwa anak-anak yang taraf inteligensinya dibawah rata-rata yaitu dull normal, debil, embicil dan idiot seukar untuk sukses dalam sekolah. Mereka tidak akan mencapai pendidikan tinggi karena kemampuan potensinya terbatas. Sedangkan anak-anak yang taraf inteligensinya normal, diatas rata-rata seperti superior, gifted atau genius, jika saja lingkungan keluarga, masyarakat dan lingkungan pendidikannya turut menunjang maka mereka akan mencapai prestasi dan keberhasilan dalam hidupnya.

Maka dapat disimpulkan bahwa kecerdasan merupakan salah satu faktoir dari sekian faktor yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam belajar di sekolah.

3. Bakat
Bakat memang diakui sebagai kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu di kembangkan atau latihan. Bakat merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar seseorang. Hampir tidak ada orang yang membantah bahwa belajar pada bidang yang sesuai dengan bakat memperbesar kemungkinanan berhasilnya usaha itu. Menurut Sunarto dan Hartono (1999: 121) bakat memungkinkan seseorang untuk mencapai prestasi dalam bidang tertentu, akan tetapi diperlukan latihan, pengetahuan, pengalaman dan dorongan atau motivasi agar bakat itu dapat terwujud.

Sementara itu menurut Vernon (1977) dikutip dari Utami (1982: 18) Sejauh mana bakat-bakat pembawaan tersebut dapat diwujudkan tergantung dari kondisi dan kesempatan yang diberikan oleh lingkungan keluarga dan masyarakat. Banyak anak yang potensial berbakat tidak dapat mewujudkan keunggulannya karena lingkungan mereka menghambat pertumbuhan intelektual secara optimal.

4. Motivasi
Menurut Noehi Nasution (1993 : 8) Motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Jadi motivasi untuk belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar. Penemuan-penemuan penelitian menunjukan bahwa hasil belajar pada umumnya meningkat jika motivasi untuk belajar bertambah. Menurut Ngalim Purwanto (1995: 61) bahwa banyak bakat anak tidak berkembang karena tidak diperolehnya motivasi yang tepat. Jika seseorang mendapt motivasi yang tepat maka lepaslah tenaga yang luar biasa sehingga tercapai hasil-hasil yang semula tidak terduga.

Kuat lemahnya motivasi belajar seseorang turut mempengaruhi keberhasilan belajar. Karena itu motivasi belajar perlu diusahakan, terutama yang berasal dari dalam di (motivasi intrinsik) dengan cara senantiasa memikirkan masa depan yang penuh tantangan dan harus dihadapi untuk mencapai cita-cita. Senantiasa memasang tekad bulat dan Selalu Optimis bahwa cita-cita dapat dicapai dengan belajar. (M. Dalyono, 1997: 57).

Menginat motivasi merupakan motor penggerak dalam perbuatan, maka bila anak didik yang kurang memiliki motivasi intrinsik diperlukan dorongan dari luar yaitu motivasi ekstrinsik, agar anak didik termotivasi untuk belajar. Di sini diperlukan pemanfaatan bentuk-bentuk motivasi secara akurat dan bijaksana.

5. Kemampuan Kognitif
Dalam dunia pendidikan ada tiga tujuan pendidikan yang sangat dikenal dan diakui oleh para ahli pendidikan yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Ranah kognitif merupakan kemampuan yang selalu dituntut kepada anak didik untuk dikuasai. Karena penguasaan kemampuan pada tingkatan ini menjadi dasar bagi penguasaan ilmu pengetahuan.

Ada tiga kemampuan yang harus dikuasai sebagai jembatan untuk sampai pada penguasaan kognitif yaitu persepsi, menginat dan berpikir. Persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi kedalam otak manusia. Melalui persepsi manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya.

Mengingat adalah suatu aktivitas kognitif dimana orang menyadari bahwa pengetahuannya berasal dari masa lampau atau berdasarkan kesan-kesan yang diperoleh di masa yang lampau. Terdapat dua bentuk mengingat yang paling menarik perhatian yaitu mengenal kembali (rekognisi) dan mengingat kembali (reproduksi).

Menurut Abror (1993: 125) berpikir adalah kelangsungan tanggapan-tanggapan yang disertai dengan sikap pasif dari subjek yang berpikir. Tetapi menurut Garrett, berpikir adalah tingkah laku yang sering implisit dan tersembunyi dan biasanya dengan menggunakan simbol-simbol (gambaran-gambaran, gagasan-gagasan dan konsep-konsep). Frohn berpendapat ada 3 tingkat berpikir manusia yaitu berpikir kognitif, berpikir skematis dan berpikir abstrak.

Seorang Guru perlu memahami kemampuan berpikir siswa sehingga tidak memaksakan materi-materi pelajaran yang tingkat kesukarannya tidak sesuai dengan usia anak untuk diterima dan dicerna oleh anak. Bila hal ini terjadi, maka anak mengalami kesulitan untuk mencerna gagasan-gagasan dari materi pelajaran yang diberikan. Materi pelajaran jelas tidak dapat dikuasai anak didik dengan baik.

Itulah uraian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar anak didik/siswa yang dapat kami tuliskan pada kesempatan ini. Dikutip dari buku : Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag, 2011. Psikologi Belajar Edisi II. Jakarta : Rineka Cipta. Terima kasih.


tags: , , ,

Related Pos :