Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik

By Admin | pengetahuan

cara meningkatkan motivasi belajar anak didik

Ada beberapa cara meningkatkan motivasi belajar peserta didik yang dapat dilakukan oleh guru sehingga siswa memiliki gairah dalam belajar. Pada kenyataannya memang tidak semua anak didik termotivasi untuk belajar atau terlibat aktif dalam kegiatan pengajaran di kelas. Sebagian besar anak didik aktif belajar bersama dan sebagian kecil anak didik dengan berbagai sikap dan perilaku yang terlepas dari kegiatan belajar dikelas. Kedua kegiatan anak didik yang bertentangan ini sebagai gambaran suasana kelas yang kurang kondusif. Guru tidak harus tinggal diam bila ada anak didik yang tidak terlibat langsung dalam belajar berssama. Perhatian harus lebih diarahkan kepada mereka. Usaha perbaikan harus dilaksanakan agar mereka bergairah belajar.

Baca : Pengertian Belajar


Menurut De Decce dan Gawford (1974) ada empat fungsi guru sebagai pengajar yang berhubungan dengan cara pemeliharaan dan peningkatan motivasi belajar anak didik yaitu guru harus dapat menggairahkan anak didik, memberikan harapan yang realistis, memberikan insentif dan mengarahkan perilaku anak didik kearah yang menunjang tercapainya tujuan pengajaran.

1. Menggairahkan Anak Didik
Dalam kegiatan rutin dikelas sehari-hari guru harus berusaha mengindari hal-hal yang monoton dan membosankan. Ia harus selalu memberikan kepada anak didik cukup banyak hal-hal yang perlu dipikirkan dan dilakukan. Guru harus memelihara minat anak didik dalam belajar, yaitu dengan memberikan kebebasan tertentu untuk berpindah dari satu aspek ke lain aspek pelajaran dalam situasi belajar. Discovery learning dan metode sumbang saran (brain storming) memberikan kebebasan semacam ini. Untuk dapat meningkatkan kegairahan anak didik, guru harus mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai disposisi awal setiap anak didiknya.

2. Memberikan Harapan Realistis
Guru harus memelihara harapan-harapan anak didik yang realistis dan memodifikasi harapan-harapan yang kurang atau tidak realistis. Untuk itu guru perlu memiliki pengetahuan yang cukup di masa lalu. Dengan demikian, guru dapat membedakan antara harapan-harapan yang realistis, pesimistis atau terlalu optimis. Bila anak didik telah banyak mengalami kegagalan maka guru harus memberikan sebanyak mungkin keberhasilan kepada anak didik. Harapan yang diberikan tentu saja terjangkau dan dengan pertimbangan yang matang. Harapan yang tidak realistis adalah kebohongan dan itu yang tak disenangi oleh anak didik. Jadi, jangan coba-coba menjual harapan munafik bila tidak ingin dirugikan oleh anak didik.

3. Memberikan Insentif
Bila anak didik mengalami keberhasilan, guru diharapkan memberikan hadiah kepada anak didik (dapat berupa pujian, angka yang baik dan sebagainya) atas keberhasilannya sehingga anak didik terdorong untuk melakukan usaha lebih lanjut guna mencapai tujuan-tujuan pengajaran. Bentuk-bentuk motivasi belajar sebagaimana diuraikan pada artikel sebelumnya merupakan motivasi ekstrinsik dimana masalah hadiah dan pujian dan memberi angka telah dibahas lebih mendalam. Insentif yang demikian diakui keampuhannya untuk membangkitkan motivasi secara signifikan.

4. Mengarahkan Perilaku Anak Didik
Mengarahakan perilaku anak didik adalah tugas guru. Di sini kepada guru dituntut untuk memberikan respons terhadap anak didik yang tak terlibat langsung dalam kegiatan belajar di kelas. Anak didik yang diam, yang membuat keributan, yang berbicara semaunya dan sebagainya harus diberikan teguran secara arif dan bijaksana. Usaha menghentikan perilaku anak didik yang negatif dengan memberi gelar yang tidak baik adalah kurang manusiawi. Jangankan anak didik, guru pasti tidak senang diberi gelar yang tidak baik. Jadi, cara mengarahkan perilaku anak didik adalah dengan memberikan penugasan, bergerak mendekati, memberikan hukuman yang mendidik, menegur dengan sikap lemah lembut dan dengan perkataan yang ramah dan baik.

Seperti dikutip oleh Gage dan Berliner (1979), French dan Raven (1959) menyarankan sejumlah cara meningkatkan motivasi belajar anak didik tanpa harus melakukan reorganisasi kelas secara besar-besaran.

1. Pergunakan Pujian Verbal
Penerimaan sosial yang mengikuti suatu tingkah laku yang diinginkan dapat menjadi alat yang cukup dapat dipercaya untuk mengubah prestasi dan tingkah laku akademis ke arah yang diinginkan. Kata-kata seperti “bagus”, “baik”, “pekerjaanmu baik”, yang diucapkan segera setelah anak didik selesai mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan atau mendekati tingkah laku yang diinginkan, merupakan pembangkit motivasi yang besar. Penerimaan sosial merupakan suatu penguat atau insentif yang relatif konsisten.

2. Pergunakan Tes dan Nilai Secara Bijaksana
Kenyataan bahwa tes dan nilai dipakai sebagai dasar berbagai hadiah sosial (penerimaan lingkungan, promosi, pekerjaan yang baik, uang yang lebih banyak dan sebagainya) menyebabkan tes dan nilai dapat menjadi suatu kekuatan untuk memotivasi anak didik dalam belajar. Anak didik belajar bahwa ada keuntungan yang diasosiasikan dengan nilai yang tinggi. Dengan demikian memberikan tes dan nilai memberikan efek dalam memotivasi anak didik untuk belajar. Tapi tes dan nilai harus dipakai secara bijaksana yaitu untuk memberikan informasi kepada anak didik dan untuk menilai penguasaan dan kemajuan anak didik, bukan untuk menghukum atau membanding-bandingkannya dengan anak didik lainnya. Penilaian diberikan sesuai dengan prestasi kerja dan perilaku yang ditunjukan oleh anak didik dan bukan atas kemauan guru yang semena-mena. Penyalahgunaan tes dan nilai akan mengakibatkan menurunnya keinginan anak didik untuk berusaha belajar dengan baik.

3. Membangkitkan Rasa ingin Tahu dan Hasrat Eksplorasi
Di dalam diri anak didik ada potensi yang besar yaitu rasa ingin tahu terhadap sesuatu. Potensi ini dapat ditumbuhkan dengan menyediakan lingkungan belajar yang kreatif. Rasa ingin tahu pada anak didik melahirkan kegiatan yang positif yaitu eksplorasi. Keinginan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman baru dalam situasi yang baru merupakan desakan eksploratif dari dalam diri anak didik. Kebangkitan motivasi tak dapat dibendung bila di dalam diri anak sudah membara rasa ingin tahu dan hasrat eksplorasi.

Dengan melontarkan pertanyaan atau masalah-masalah, guru dapat menimbulkan suatu konflik konseptual yang merangsang anak didik untuk bekerja. Disini anak didik berusaha mencari jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan itu dan berusaha memecahkan berbagai masalah dengan berbagai sudut pandang atau pendekatan. Motivasi akan berakhir bila konflik itu terpecahkan atau bila timbul rasa bosan untuk memecahkannya.

4. Melakukan Hal yang Luar Biasa
Untuk tetap mendapatkan perhatian, sekali-kali guru dapat melakukan hal-hal yang luar biasa, misalnya meminta anak didik melakukan penyusunan soal-soal tes, menceritakan problem guru dalam belajar dimasa lalu ketika sedang sekolah seperti mereka dan sebagainya.

5. Merangsang Hasrat Anak Didik
Hasrat anak didik perlu dirangsang dengan memberikan kepada anak didik sedikit contoh hadiah yang akan diterimanya bila ia berusaha dan berprestasi dalam belajar. Berikan kepada anak didik penerimaan sosial sehingga ia tahu apa yang dapat diperolehnya bila ia berusaha lebih lanjut. Dalam menerapkan hal ini guru perlu membuat urutan pengajaran, sehingga anak didik dapat memperoleh sukses dam tugas-tugas permulaan.

6. Memanfaatkan Apersepsi Anak Didik
Pengalaman anak didik baik yang didapat dilingkungan sekolah maupun luar sekolah dapat dimanfaatkan ketika guru sedang menjelaskan materi pengajaran. Anak didik mudah menerima atau menyerap materi pelajaran dengan mengasosiasikannya denganĀ  bahan pengajaran yang telah dikuasainya. Dengan cara asosiasi, anak didik berusaha menghubungkan materi pelajaran yang akan diserap dengan pengalaman yang telah dikuasai. Bahan apersepsi merupakan seperangkat materi yang dikuasai yang melicinkan jalan menuju penguasaan materi pelajaran yang baru.

Terapkan konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam konteks yang unik dan luar biasa agar anak didik lebih terlibat dalam belajar. Minta kepada anak didik untuk mempergunakan hal-hal yang sudah dipelajari sebelumnya. Hal ini menguatkan belajar yang lain dan sekaligus menanamkan suatu penghargaan pada diri anak didik, bahwa apa yang sedang dipelajarinya sekarang, juga berhubungan dengan pengajaran yang akan datang.

7. Pergunakan Simulasi dan Permainan
Kedua hal ini akan memotivasi anak didik, meningkatkan interaksi, menyajikan gambaran yang jelas mengenai situasi kehidupan sebenarnya dan melibatkan anak didik secara langsung dalam proses belajar.

8. Perkecil daya tarik sistem Motivasi yang bertentangan
Kadang-kadang agar diterima oleh teman-temannya, anak didik melakukan hal-hal yang tidak diinginkan oleh guru. Dalam hal ini guru sebaiknya melibatkan pimpinan (ketua kelas) anak didik dalam aktivitas yang berguna (menyusun tes, mewakili sekolah dalam pameran ilmiah dan sebagainya), sehingga teman-temannya akan meniru melakukan hal-hal yang positif. Perkecil konsekuensi-konsekuensi yang tidak menyenangkan terhadap anak didik dari keterlibatannya dalam belajar.

Dari 8 cara meningkatkan motivasi belajar anak didik diatas diharapkan guru dapat membuat minat siswa untuk belajar lebih bergairah. Di kutip dari buku : Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag, 2011. Psikologi Belajar Edisi II. Jakarta : Rineka Cipta.


tags: , ,

Related Pos :