Cara Melaksanakan Puasa dan Hikmah Puasa

By Admin | Umum

cara melaksanakan puasa dan hikmah puasa

Pada artikel kali ini kita akan membahas tentang bagaimana cara melaksanakan puasa dan hikmah puasa apa saja yang dapat kita ambil ketika menjalankan puasa. Berikut beberapa penjelasannya.

A. Cara melaksanakan puasa


Sebagaimana ibadah lainnya, puasa pun dilaksanakan dengan mengerjakan rukun-rukun, meninggalkan segala yang membatalkan dan memperhatikan hal-hal yang disunahkan. Karena itu, perlu dijelaskan hal-hal yang termasuk rukun serta sunah-sunah puasa dan yang membatalkannya.

1. Rukun puasa

Fardu atau rukun puasa ada dua, yaitu niat puasa dan menahan diri dari segala yang membatalkan sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Karena termasuk ibadah mahdah, puasa tidak sah dilakukan tanpa niat. Hukum dan dalil-dalil yang berkenaan dengan niat ibadah puasa sama dengan yang telah dijelaskan dalam bahasan niat dalam shalat. Tempat niat di dalam hati, tidak cukup dengan ucapan lisan dan tidak pula disyaratkan mengucapkannya.

Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa niat puasa itu mesti dilakukan pada malam hari; berdasarkan hadits: “Barangsiapa yang tidak berniat pada malam hari sebelum fajar, maka tidak sah puasanya.” Tetapi, untuk puasa sunat dapat diniatkan pada siang hari sebelum tergelincir matahari. Hal ini didasarkan atas hadits Aisyah: “Nabi bersabda: ‘Apakah ada pagi hari ini kamu mempunyai sesuatu untuk kita makan?’ Aisyah menjawab: ‘Tidak’. Lalu beliau bersabda lagi: ‘Kalau begitu saya puasa’.”

Kemudian, karena tiap-tiap hari puasa, yang berlangsung dari saat terbitnya fajar sampai terbenam matahari itu, merupakan ibadah yang berdiri sendiri, maka untuk setiap harinya diperlukan niat tersendiri. Khusus untuk puasa wajib disyaratkan pula ta’yin pada niatnya, yaitu menentukan jenis puasa yang dilakukan itu. Misalnya puasa fardhu Ramadhan.

2. Hal-hal yang membatalkan puasa

Ada beberapa hal yang membatalkan puasa dan mesti ditinggalkan selama berpuasa.

a. Makan dan minum. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 187: “…dan makan minumlah hingga terang bagi kamu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam…”.

Dalam hal ini, masuknya sesuatu ke rongga badan atau rongga kepala melalui jalan terbuka, mulut hidung, atau telinga dianggap sama dengan makan dan membatalkan puasa. Jadi, bila orang puasa itu makan atau minum dengan disengaja, atas kemauan sendiri, sadar bahwa ia sedang berpuasa, dan tahu bahwa perbuatan itu haram, maka batallah puasanya. Demikian pula, bila ia memasukkan air ke hidung atau telinganya sehingga sampai ke rongga kepalanya, puasanya batal. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi: “Apabila engkau ber-istinsyak lakukanlah sejauh mungkin, kecuali engkau sedang berpuasa.”

Dari hadits ini dapat dipahami bahwa istinsyah akan membatalkan puasa jika sampai ke rongga kepala. Demikian pula hukumnya semua benda yang masuk ke rongga perut atau rongga kepala, baik melalui mulut, hidung atau lainnya.

b. Al-huqnah, yakni memasukkan sesuatu ke dalam rongga melalui kemaluan dubur atau qubul.

c. Muntah dengan sengaja, sekalipun diyakinkan tidak ada yang kembali masuk setelah keluar melalui mulut. Namun, jika tidak disengaja atau disengaja tetapi tidak mengetahui hukumnya haram, atau muntah karena dipaksa, maka puasanya tidak batal.

d. Bersetubuh, walaupun tidak sampai keluar mani. Ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 187: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu, mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun pakaian bagi mereka…” menurut ayat ini, yang dibolehkan hanya bersetubuh di malam hari puasa; melakukannya di siang hari dapat membatalkan puasa.

e. Keluar mani dengan sebab mubasyarah (bersentuh kulit tanpa alas), mencium dan sebagainya. Namun keluar mani tanpa bersentuhan kulit, misalnya dengan sebab pandangan atau karena mimpi, tidak membatalkan puasa. Melakukan sentuhan, seperti mencium yang menggerakkan syahwat, hukumnya haram tetapi tidak membatalkan puasa kecuali disertai keluar mani. Alasannya, dalam hadits Jabir, Rasulullah menyerupakan ciuman dengan berkumur-kumur. Jabir berkata: “Saya melakukan ciuman ketika puasa. Lalu saya datang dan bertanya kepada Rasulullah: ‘Saya lakukan ciuman ketika berpuasa?’ beliau balik bertanya: ‘Apa pendapatmu kalau engkau berkumur-kumur (bukanlah hal yang tidak membatalkan puasa?)”

Berkumur-kumur tidak membatalkan puasa selama tidak ada air yang masuk kembali ke rongganya. Demikian juga mencium tidak membatalkan puasa kecuali disertai keluar mani.”

f. Haid. Ulama telah sepakat bahwa orang yang sedang haid haram dan tidak sah berpuasa.

g. Nifas. Nifas adalah haid yang terkumpul dan tertunda keluarnya. Hukumnya sama dengan darah haid.

h. Gila

i. Murtad

Orang yang melakukan puasa wajib tidak dibenarkan membatalkan puasanya tanpa uzur, ia wajib mengqhada bila membatalkannya dengan sengaja. Khusus untuk tindakan membatalkan puasa Ramadhan, selain wajib qadha, dapat pula menjadi kafarat. Jumhur ulama sepakat bahwa orang yang membatalkan puasanya dengan melakukan jima di siang hari pada bulan Ramadhan diwajibkan membayar kifarat. Dalam sebuah hadits diriwayatkan sebagi berikut.

Seorang laki-laki datang kepada Nabi dan berkata: “Celaka saya!” Rasulullah bertanya: “Apa yang membuatmu celaka?” Jawabnya: “Saya menggauli istri saya pada bulan Ramadhan.” Rasulullah bertanya: “Apakah engkau dapat memerdekakan budak?” Jawabnya “Tidak.” Kata Rasulullah: “ Apakah engkau sanggup berpuasa dua bulan berturut-turut?” Jawabnya: “Tidak.” Rasulullah bertanya lagi: “Apakah engkau dapat memberi makan 60 orang miskin?” Jawabnya: “Tidak.” Kemudian orang itu duduk. Setelah itu Rasulullah datang membawa sebuah bejana berisi tamar, dan berkata: “Sedekahkannya tamar ini.” Orang itu berkata lagi: “Kepada orang yang lebih fakir dan kamikah?” Demi Allah, di lingkungan itu tidak ada keluarga yang lebih memerlukan tamar ini daripada kami.” Rasulullah tertawa sehingga tampak gerahamnya, dan berkata: “Pergilah dan beri makan keluargamu dengannya.” (H.R. Muttafq “Alaih).

Menurut Syafi’i, kewajiban kafarat hanya berlaku atas laki-laki, tidak atas perempuan, sebab dalam hadits ini, Nabi tidak menyebut wajibnya atas istri laki-laki tersebut. Tetapi, Abu Hanifah, Malik,dan para pengikutnya berpendapat perempuan yang merelakan dirinya dijimak juga wajib membayar kafarat. Lebih dari itu, bahkan mereka mewajibkan kafarat atas orang yang membatalkan puasanya dengan makan atau minum. Mereka memandang bahwa kewajiban kafarat itu tidak terkait dengan jenis perbuatan yang membatalkan puasa, tetapi dengan pelanggaran atas kehormatan puasa itu sendiri. Jadi, makan dan minum sama saj hukumnya dengan jimak.

Apabila puasa yang dibatalkan itu lebih dari satu hari, maka untuk tiap-tiap harinya dikenakan satu kafarat. Sebab, seperti telah dikemukakan, setiap hari puasa dipandang sebagai ibadah yang berdiri sendiri.

Sesuai dengan hadits di atas, kafarat ada ti macam, yaitu memerdekakan budak, puasa du bulan berturut-turut, atau memberikan makan 60 orang miskin. Pelaksanaannya disesuaikan dengan tingkat kemampuan yang bersangkutan. Jika mampu memerdekakan bidak, ia tidak boleh beralih kepada puasa; yang mampu berpuasa, tidak boleh membayar kafaratnya dengan member makan orang miskin.

Mengenai jumlah makanan yang harus diberikan kepada orang miskin itu, para ulama berbeda pendapat. Menurut Abu Hanifah, tidak boleh kurang dari dua mud. Malik dan syafi’i mengatakan cukup dengan satu mud saja. Mereka mengemukakan alasan bahwa Nabi menyebut 60 orang fakir miskin dan tamar yang beliau bawa untuk dijadikan kafarat itu 15 sha’. Jumlah itu sama dengan 60 mud; berarti tiap-tiap orang yang akan mendapatkan satu mud.

Selain menghindari hal0hal yang membatalkan, orang yang berpuasa hendaklah menghindari juga beberapa hal yang dapat menghilangkan atau mengurangi pahala puasanya, seperti berdusta, mengucapkan kata-kata keji, gibah dan caci maki. Rasulullah bersabda dalam satu hadits: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan palsu, maka Allah tidak berkepentingan terhadap tindakannya meninggalkan makan dan minumnya.” (H.R. Bukhari)

3. Sunah-sunah puasa

Ada beberapa hal yang disunahkan dalam melaksanakan puasa.

a. Menyegerakan berbuka bila telah nyata terbenam matahari; sesuai dengan hadits Nabi: “Manusia akan senantiasa baik selama mereka menyegerakan berbuka.” (Muttafaq ‘Alaih)

Oleh karena itu, makruh hukumnya melambatkan berbuka dengan sengaja dan memandang hal itu sebagai kebaikan.

b. Melambatkan makan sahur. Orang yang akan puasa disunahkan makan pada waktu sahur, sebab makan sahur membawa berkah. Nabi bersabda: “Makan sahurlah kamu, sebab pada sahur itu terdapat berkah.”

Tuntunan makan sahur, meskipun sedikit, demikian pentingnya, sehingga Nabi menganjutkan melakukannya walaupun hanya meminum seteguk air. Waktunya mulai sejak setengah malam. Namun, agar lebih kuat menjalani puasa, seseorang disunahkan melambatkan makan sahurnya ke penghujung malam, selama tidak timbul keraguan bahwa fajar telah terbit.

Di samping itu, disunahkan pula meninggalkan syahwat yang tidak membatalkan puasa, seperti mencium wangi-wangian, sebab tidak sesuai dengan hikmah puasa; berbekam sebab dapat melemahkan diri; dan mencicipi makanan karena dikuatirkan akan tertelan. Juga disunahkan mandi junub sebelum fajar agar ia suci sejak awal puasanya, memperbanyak membaca dan mengkaji Al-Qur’an dan sebagainya.

B. Hikmah puasa

Puasa merupakan sarana untuk melatih mental dan kedisiplinan serta memupuk kepedulian dan kepekaan social. Apa yang dialami orang-orang yang selama ini hidup serba kekurangan, misalnya dapat dirasakan oleh orang yang berpuasa. Latihan mengosongkan perut dan akibat yang dirasakannya, akan menuntun manusia untuk bersikap peduli kepada saudara-saudaranya yang memerlukan bantuan. Sikap hidup mementingkan diri sendiri dan egoisme diharapkan hilang secara bertahap, agar muncul humanis dan ukhwah.

Adanya batasan waktu untuk menahan diri dari segala yang membatalkan merupakan salah satu nilai kedisiplinan yang tercermin dalam berpuasa. Disiplin berarti taat aturan dan orang yang taat aturan akan memperoleh kemudahan dalam hidup. Sikap seperti ini akan memunculkan optimism dalam hidup. Bahkan, orang yang berdisiplin diri akan senantiasa dinamis salam hidupnya.

Dianjurkannya umat Islam untuk senantiasa melakukan kebaikan dalam berpuasa merupakan pelajaran bagi umat Islam untuk membiasakan hidup baik demi tercapainya kebahagian dan ketentaraman hidup di dunia dan di akhirat.

Related Pos :