Bagaimana Hukum Meninggalkan Shalat Jumat Karena Alasan Pekerjaan?

By Admin | pengetahuan

meninggalkan shalat Jumat

Di banyak Negara dengan mayoritas penduduk nonmuslim seorang musling terkadang meninggalkan shalat jumat karena alasan pekerjaan, baik disebabkan karena peraturan Negara setempat maupun karena pekerjaan tersebut tidak boleh ditinggalkan. Bagaimana hukum meninggalkan shalat jumat dalam kondisi seperti itu? Mungkin pertanyaan ini lah yang sering kali terlontar bagi mereka yan berada dalam kondisi seperti tersebut, berikut beberapa penjelasannya:

  • Shalat jumat diwajibkan bagi:
  1. Kaum pria. Jadi shalat jumat tidak diwajibkan bagi kaum wanita.
  2. Mukallaf (orang yang dapat dibebani hukum secara syar’i). shalat jumat tidak wajib bagi orang gila dan anak kecil yang belum baligh.
  3. Penduduk setempat. Shalat jumat tidak diwajibkan bagi musafir.

Tidak dibenarkan bagi setiap muslim yang sudah mukallaf meninggalkan shalat jumat tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dalam banyak haditsnya telah mengingatkan hal tersebut, di antaranya:


-Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda kepada orang yang meninggalkan shalat jumat:

“Aku berniat untuk menunjuk seorang sahabat menjadi imam bagi sahabat lainnya. Lalu aku mendatangi orang-orang yang meningalkan shalat jumat dan membakar rumah mereka.” (HR. Muslim, 1517)

-Abu Hurairah radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Satu kaum berhenti meninggalkan shalat Jumat atau Allah akan mengunci hati-hati mereka sehingga mereka menjadi kaum yang lalai.” (HR. Muslim, 2039)

-Abu Al-Ja’d Adh-dhamiry radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jumat tiga kali dengan sengaja dan tanpa uzur syar’I, Allah akan mengunci hatinya.” (HR. Abu Dawud, 1052 dan Al-Musnad, 15537)

Ibnu Abdi Al-Barr berkata, “Yang dimaksud dengan uzur dalam hadits tersebut adalah segala sesuatu yang menghalangi seseorang melaksanakan shalat Jumat yang bisa menimbulkan kesengsaraan, atau penguasa yang dikhawatirkan siksaannya serta sesuatu yang membatalkan sebuah kewajiban, di antaranya penguasa zalim, hujan lebat, sakit keras, dan lainnya. Ancaman tersebut hanya bagi mereka yang meninggalkan shalat Jumat tiga kali tanpa uzur syar’I bukan untuk mereka yang memiliki uzur syar’I” (HR. At-Tamhid, 16/243)

Setiap pribadi yang telah memenuhi syarat kewajiban Jumat wajib menghadiri shalat Jumat, firman Allah Swt :

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseur untuk menunaikan shalat Jumat, bersegeralah kamukepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Hal yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.S. Al-Jumu’ah:9)

Bagi mereka yang bukan penduduk setempat, namun berniat menetap sementara waktu di daerah tersebut, emereka tidak dianggap sebagai musafir sekalipun mereka akan kembali ke negaranya setelah menyelesaikan kepentingan mereka. Para ulama berbeda pendapat apakah mereka wajib melaksanakan shalat Jumat atau tidak. Pendapat yang benar mewajibkan mereka untuk melaksanakan shalat Jumat bersama dengan penduduk negeri setempat. (Lihat jarak tempuh yang wajib dalam shalat Jumat).

  • Antara pekerjaan dan meninggalkan shalat Jumat:

Seyogyanya seorang muslim memilih pekerjaan dan tugas yang memberikan keleluasaan baginya untuk melaksanakan perintah-perintah Allah, sekalipun hasilnya secara materi lebih sedikit.

Allah Swt berfirman: “…Barangsiapa bertakwa kepada Allah nicaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allag akan mencukupkan (keperluan)nya….” (Q.S. At-Thalaq: 2-3)

Para ulama telah menjelaskan tentang uzur-uzur syar’i yang dengannya seseorang dapat meninggalkan shalat Jumat. Intinya, dibolehkannya berkisar pada segala sesuatu yang bisa menimbulkan kesulitan dan kesusahan yang luar biasa, atau yang dapat membahayakan kehidupan dan pengidupan. (Q.S. At-Tamhid, 16/243 dan Al-Inshaf, 2/302)

Meninggalkan shalat Jumat terus-menerus akan merusak keimanan seseorang. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jumat tiga kali dengan sengaja tanpa uzur syar’i, Allah akan mengunci hatinya.” (HR. Abu Dawud, 1052 dan Al-Musnad, 15537)

  • Karakteristik pekerjaan yang menjadi uzur Syar’i:

Sebuah pekerjaan yang kontinu dan berkesinambungan  tidak dianggap sebagai uzur syar’i kecuali dalam dua kategori:

  1. Pekerjaan yang mengandung maslahat atau manfaat besar, bersifat umum dan tidak boleh ditinggalkan, mengakibatkan terjadinya mudarat, bahaya besar, dan tidak pula ada orang yang bisa menggantikannya.

Contoh:

  1. Dokter jaga di mobil ambulans yang sedang merawat pasien gawat darurat.
  2. Petugas satpam dan polisi yang menjaga harta kaum muslimin dari tindakan pencurian atau kriminalitas lainnya.
  3. Petugas jaga atau karyawan di perusahaan produksi yang perlu pengawasan detik per detik.
  4. Pekerjaan yang menjadi satu-satunya sumber penghidupan bagi seseorang, dan dia tidak memiliki pendapatan lain yang bisa menutupi kebutuhan pokok hariannya dan keluarganya. Dibolehkan bagi orang tersebut untuk tetap bekerja dan meninggalkan shalat Jumat karena keterpaksaan sampai ia mendapatkan pekerjaan lain atau ia mendapatkan pendapatan untuk menutupi kebutuhan pokok kesehariannya.

Al-Mawardi berkata, “Di antara hal yang membolehkan seseorang shalat Jumat dan shalat berjamaah adalah kekhawatiran akan hilangnya sumber penghidupan sehari-hari.” (Al-Inshaf, 2/301)

Maksud nafkah dalam hal ini:

  • Kebutuhan pokok yang akan membahayakan kehidupannya jika tidak terpenuhi, seperti makan, minum, dan obat-obatan.
  • Kebutuhan yang akan mempersulit kehidupan seseorang jika tidak terpenuhi.

Related Pos :