Bagaimana Hukum Menikah Dengan Niat Talak?

By Admin | Umum

hukum menikah dengan niat talak

Pertanyaan besar yang telah menjadi buah bibir di kalangan kaum muslimin tentang hukum nikah dengan niat talak. Gambaran masalah ini adalah seorang laki-laki Muslim  menikah dengan seorang perempuan yang boleh dinikahinya. Sedangkan dalam hatinya terdapat niat akan menceraikan istrinya itu pada interval waktu tertentu, yaitu setelah ia selesai studi, selesai kerja, atau yang seperti itu. Apakah pernikahan yang seperti ini adalah sesuatu yang dibolehkan?

Hal yang mesti dibedakan (sebelum membahas hukum masalah ini) adalah nikah jenis nikah ini dengan nikah mut’ah:


Ulama telah sepakat menyatakan keharaman nikah mut’ah, yaitu seorang laki-laki menikahi seorang perempuan dengan sejumlah uang tertentu dan dalam waktu yang telah mereka sepakati. Lantas, ketika telah jatuh tempo, selesailah pernikahan itu; tanpa sebab talak, tanpa ada kewajiban menafkahi, member rumah, dan tanpa ada hubungan saling mewariskan di antara keduanya.

Nikah jenis ini (mut’ah) pada awal Islam adalah Mubah. Selanjutnya, nikah jenis ini dilarang. Namun, beberapa waktu lamanya masih ada beberapa sahabat yang tetap menghalalkan sebelum kemudian mereka menarik pendapatnya. Sampai pada akhirnya bersepakatlah semua tentang keharaman nikah jenis ini.

Imam Ibnu Al-Mundzir rahimahullah berkata: “Dinukil dari generasi awal Islam tentang keringanan untuk nikah mut’ah, saat ini saya mengetahui tidak ada seorang pun yang membolehkannya kecuali golongan Rafidhah (Syi’ah). Tetapi, seluruh pernyataan yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Adalah pernyataan yang tiada berarti.”

Al-Qadhi berkata, “Para ulama telah bersepakat tentang keharaman nikah mut’ah kecuali orang-orang Rafidhah (Syi’ah).”

Namun ada juga para ulama yang berbeda pendapat tentang hukum pernikahan ini, diantaranya:

  1. Mayoritas ulama berpendapat bahwa jenis pernikahan demikian adalah jenis pernikahan yang sah karena terpenuhinya seluruh syarat dan tidak ada hal yang membatalkannya.
  2. Pendapat kedua menyatakan bahwa ini adalah batil (tidak sah). Hukumnya sama dengan nikah mut’ah. Pendapat ini adalah pandangan Al-Auza’I dan pandangan yang dijadikan oleh ulama-ulama bermazhab Hambali yang datang belakangan. Lajnah Daimah lil-Buhuts wal Ifta’ (Dewan Tetap Riset dan Fatwa) Kerajaan Saudia Arabia dan Syekh Muhammad Rasyid Ridha juga telah mengeluarkan fatwa demikian. Di antara dalil golongan yang berpandangan demikian adalah karena orang tersebut telah berniat, sementara Rasulullah Saw bersabda,

“Seluruh amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya dan seseorang akan mendapatkan hasil sesuai dengan niatnya.”

Karena itu, dinyatakan bahwa orang yang telah melakukan nikah dalam tempo tertentu ini sama dengan mut’ah. Kasusnya sama dengan orang yang menikah dengan seorang perempuan yang telah ditalak tiga dengan niat untuk menghalalkannya bagi suami pertamanya. Hal demikian meskipun tidak disyaratkan sama hukumnya dengan yang disyaratkan, keduanya adalah haram. Demikianlah pula dengan yang menikah dengan niat hanya akan melangsungkannya dalam jangka waktu tertentu (mut’ah). Meskipun tidak disyaratkan, namun hukumnya sama dengan orang yang menikah mut’ah (mempersyaratkannya).

  1. Nikah demikian adalah haram karena mengandung unsure kecurangan dan penipuan, tetapi akadnya tetaplah sah, menimbulkan konsekuensi kewajiban memberi tempat tinggal, nafkah, terjalinnya hubungan waris, dan konsekuensi lainnya dari sebuah pernikahan.dalil keharamannya adalah karena adanya unsure kecurangan, penipuan, dan pengkhiatan, sedangkan Allah Swt. berfirman:

“…Dan mereka (istri-istri kalian itu) telah mengambil dari kalian perjanjian yang sangat kuat.” (An-Nisaa’: 21)

Fenomena pernikahan seperti ini, adalah fenomena mempermainkan dan menganggap enteng nilai sacral yang terjadi dalam sebuah pernikahan. Tetapi, jika ada diantara orang yang kerdil jiwanya tetap ingin melangsungkan pernikahan model demikian, akadnya tetaplah sah dan berlakulah seluruh konsekuensi yang ditimbulkan dari sebuah pernikahan. Karena orang tersebut telah memenuhi seluruh syarat sah sebuah pernikahan.

Dari ketiga pendapat ini, yang paling tepat adalah pendapat ketiga. Pandangan inilah yang menjadi fatwa dari Al-Mujamma’ Al-Fiqhi dan beberapa ulama kontemporer, seperti Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin rahimahullah. Beberapa alasan mereka:

  • Adanya unsur kecurangan dan penipuan terhadap sang perempuan dan walinya.
  • Adanya unsur bermain-main dan penyepelean terhadap ritual pernikahan, sementara Allah Swt. berfirman:

“…Dan mereka (istri-istri kalian itu) telah mengambil dari kalian perjanjian yang sangat kuat.” (An-Nisaa’: 21)

  • Jenis pernikahan demikian mengandung kesamaan dengan nikah mut’ah dari beberapa segi.
  • Timbulnya pandangan negative di berbagai Negara kafir terhadap kaum muslimin akibat dari pernikahan model ini.

Imam Malik rahimahullah berkata: “Pernikahan jenis ini tidaklah mencerminkan akhlak manusia.” (Syarah Muslim Imam Nwawi, 9/182).

Dalam seminarnya yang ke-18, mujamma’ Al-Fiqhi Al-Islami, telah mengeluarkan sebuah fatwa, dalam keputusannya yang ke-5, bertanggal 12/3/1427 H, yang berbunyi, “Nikah dengan niat talak, yaitu nikah yang segala rukun dan syarat sahnya telah terpenuhi. Tetapi, sang suami menyimpan niat akan menalak istrinya pada waktu tertentu, misalnya setelah sepuluh hari, atau ia menyimpan niat akan menalaknya pada waktu yang belum jelas, misalnya usai studi atau usai menyelesaikan urusan pekerjaan. Jenis nikah semacam ini, meski sebagian ulama membolehkannya. Namun, “Al-Mujamma” berpandangan bahwa nikah jenis ini adalah terlarang. Karena mengandung unsur kecurangan dan penipuan. Jika seandainya seorang perempuan atau walinya tahu akan niat sang suami tersebut, niscaya ia tidak akan menerimanya. Sebab lain pelarangannya, nikah jenis ini akan menimbulkan dampak yang sangat buruk, yang akan mencoreng citra kaum muslimin.


Related Pos :