Akhlak Terhadap Allah Swt dan Cara Berakhlak Kepada-Nya

By Admin | Umum

akhlak terhadap Allah Swt dan cara berakhlak kepada-Nya

Sebagaimana yang telah dijelaskan pada artikel sebelumnya, tentang pengertian akhlak dan ruang lingkup akhlak, dimana salah satu ruang lingkup akhlak tersebut adalah akhlak terhadap Allah Swt. Berikut penjelasan singkat tentang akhlak terhadap Allah Swt dan cara berakhlak kepada-Nya.

Akhlak terhadap Allah Swt merupakan salah satu sikap atau perbuatan yang hendaknya dijalankan oleh setiap manusia sebagai seorang hamba, kepada Tuhan sebagai Sang Pencipta. Dan sebagai titik tolak akhlak kepada Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan melainkan Allah.


Adapun berakhlak terhadap Allah Swt dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya sebagai berikut:

A. Takwa, ialah mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Muttaqin adalah orang-orang yang memelihara diri mereka dari azab dan kemarahan Allah Swt di sunia dan di akherat.

Buah dari takwa ialah:

1. Mendapatkan sikap furqon.

2. Mendapat limpahan berkah dari langit dan dari bumi.

3. Mendapatkan jalan keluar dari kesulitan

4. Mendapatkan rezki tanpa diduga-duga

5. Mendapatkan kemudahan dalam segala urusan

6. Menerima pengampunan dosa serta mendapatkan pahala yang besar.

B. Cinta dan ridho, ialah: kesadaran diri, perasaan jiwa dan dorongan hati yang menyebabkan seseorang terpaut hatinya kepada apa yang dicintainya dengan penuh semangat dan rasa kasih saying.

Cinta adalah fitrah yang dimiliki setiap orang Islam. Mencintai Allah Swt lebih utama, baru kemudian mencintai Rasul, kemudian baru mencintai orang tua dan anak.

C. Ikhlas, ialah: berasal dari bahasa Arab yang artinya bersih, jernih, murni, tidak bercampur. Ikhlas ialah beramal semata-mata mengharapkan ridho Allah. Ikhlas juga artinya tanpa pamrih.

Tiga unsur ikhlas:

1. Niat yang ikhlas. Dalam Islam faktor niat sangat lah penting. Apasaja yang dilakukan oleh seorang muslim haruslah berdasarkan niat mencari ridho Allah Swt bukan berdasarkan motivasi lain.

2. Beramal dengan sebaik-baiknya. Niat ikhlas harus diikuti dengan amal yang sebaik-baiknya, seorang muslim yang mengaku Ikhlas melakukan sesuatu harus membuktikannya dengan melakukan perbuatan itu sebaik-baiknya.

3. Memanfaatkan hasil usaha dengantepat. Misalnya menuntut ilmu.

D. Khauf dan Raja’ ialah: takut dan harap adalah sepasang sikap batin yang harus dimiliki secara seimbang oleh setiap muslim. Bila salah satu dominan dari yang lainnya akan melahirkan pribadi yang tidak seimbang. Dominan khauf menyebabkan sikap pesimisme dan putus asa, sementara dominan Raja’ menyebabkan seseorang lalai dan lupa diri serta merasa aman dari azab Allah. Yang pertama adalah sikap orang kafir dan yang kedua adalah sikap orang yang merugi.

Khauf adalah kegalauan hati yang membayangkan sesuatu yang tidak disukai yang akan menimpanya, atau membayangkan hilangnya sesuatu yang disukai.

Raja’ atau harap adalah memautkan hati kepada sesuatu yang disukai pada masa yang akan datang.

E. Tawakkal, adalah membebaskan hati dari segala ketergantungan kepada selain Allah, dan menyerahkan keputusan segala sesuatu pada Allah.

Orang yang beriman dan bertawakkal tidak akan takut menghadapi masa depan, tidak kaget dengan segala kejutan, hatinya tenang dan tentram karena yakin akan keadilan dan rahmat Allah. Tawakkal juga harus diiringi dengan ikhtiar.

F. Syukur, adalah memuji si pemberi nikmat atas kebaikan yang telah dilakukannya. Syukur seorang hamba berkisar atas 3 hal: yaitu apabila ketiganya tidak berkumpul, maka tidak dinamakan bersyukur. Pertama mengakui nikmat dalam batin, kemudian membicarakannya secara lahir, dan menjadikannya sebagai sarana untuk taat kepada Allah. Jadi syukur itu berkaitan dengan hati, lisan dan anggota badan.

G. Muraqabah, ialah menjaga, mengawal, menanti, dan mengamati, semua pengertian kata raqabah ialah pengawasan karena apabila seseorang mengawasi sesuatu dia akan mengamati, menantikan, menjaga dan mengawasi. Jadi muraqabah ialah pengawasan.

H. Taubat, ialah kembali. Orang yang bertaubat kepada Allah adalah orang yang kembali dari sesuatu menuju sesuatu,kembali dari sifat-sifat yang tercela menuju sifat-sifat yang terpuji, kembali dari larangan Allah menuju perintahNya, kembali dari maksiat menuju kepada taat dll.

Taubat ada lima dimensi yaitu:

1. Menyadari kesalahan.

2. Menyesali kesalahan.

3. Memohon ampun kepada Allah Swt.

4. Berjanji tidak akan mengulanginya.

5. Menutupi kesalahan masa lalu dengan amal saleh.

Itulah beberapa uraian singkat tentang akhlak kepada Allah Swt, semoga kita semua termasuk salah satu dari mukmin yang memiliki akhlak tersebut.


Related Pos :