6 Cara Mengatasi Kesulitan Belajar Anak Didik/Siswa

By Admin | pengetahuan

6 cara mengatasi kesulitan belajar anak didik/siswa

Dalam rangka mencari cara mengatasi kesulitan belajar anak didik/siswa tidak bisa diabaikan dengan kegiatan mencari faktor-faktor yang diduga sebagai penyebabnya. Karena itu mencari sumber-sumber utama penyebab kesulitan belajar dan sumber-sumber penyebab penyerta lainnya mutlak dilakukan secara akurat, efektif dan efisien.

Langkah-langkah Mengatasi Kesulitan Belajar

Secara garis besar, langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam rangka usaha mengatasi kesulitan belajar anak didik/siswa, dapat dilakukan melalui enam tahap yaitu pengumpulan data, pengolahan data, diagnosis, prognosis, treatment dan evaluasi. untuk lebih jelasnya 6 cara mengatasi kesulitan belajar anak berikut uraian lengkapnya:


# 1. Pengumpulan Data

Untuk menemukan sumber penyebab kesulitan belajar siswa diperlukan banyak informasi. Untuk memperoleh informasi perlu diadakan pengamatan langsung terhadap objek yang bermasalah. Teknik interviu (wawancara) ataupun teknik dokumentasi dapat dipakai untuk mengumpulkan data. Baik teknik observasi atau interviu maupun dokumentasi, ketiganya saling melengkapi dalam rangka keakuratan data. Cara lain yang dapat dilakukan dalam usaha pengumpulan data bisa melalui kegiatan sebagai berikut:

a. Kunjungan rumah.
b, Case study.
c. Case History
d. Daftar Pribadi.
e. Meneliti pekerjaan anak.
f. Meneliti tugas kelompok.
g. Melaksanakan tes, baik tes IQ maupun tes prestasi.

Dalam pelaksanaannya semua metode itu tidak mesti digunakan bersama-sama, tetapi tergantung pada masalahnya, kompleks atau tidak. Semakin rumit masalahnya, maka semakin banyak kemungkinan metode yang dapat digunakan. Jika masalahnya sederhana, mungkin dengan satu metode sudah cukup untuk menemukan faktor apa yang menyebabkan kesulitan belajar. Dalam pengumpulan data tidak perlu mencari informasi sebanyak-banyaknya. Sebab setiap informasi yang diterima belum tentu data. Informasi yang simpang siur justru membingungkan. Oleh karenanya yang betul adalah carilah banyak informasi melalui sumber yang tepat untuk mendapatkan data selengkap-lengkapnya, sehingga data yang lengkap itu dapat diolah dengan cermat dan sebaik mungkin.

# 2. Pengolahan Data

Data yang telah terkumpul tidak akan ada artinya jika tidak diolah secara cermat. Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar anak didik/siswa jelas tidak dapat diketahui, karena data yang yang terkumpul itu masih mentah, belum dianalisis dengan seksama. Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam rangkah pengolahan data adalah sebagai berikut:

a. Identifikasi kasus.
b. Membandingkan antar kasus.
c. Membandingkan dengan hasil tes.
d. Menarik kesimpulan.

# 3. Diagnosis

Diagnosis adalah keputusan (penentuan) mengenai hasil dari pengolahan data. Tentu saja, keputusan yang diambil itu setelah dilakukan analisis terhadap data yang diolah itu. Diagnosis dapat berupa hal-hal sebagai berikut:

a. Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar anak didik yaitu berat dan ringannya tingkat kesulitan yang dirasakan anak didik.
b. Keputusan mengenai faktor-faktor yang ikut menjadi sumber penyebab kesulitan belajar anak didik.
c. Keputusan mengenai faktor utama yang menjadi sumber penyebab kesulitan belajar anak didik.

Karena diagnosis adalah penentuan jenis penyakit dengan meneliti (memeriksa) gejala-gejalanya atau proses pemeriksaan terhadap hal yang dipandang tidak beres, maka agar akurasi keputusan yang diambil tidak keliru tentu saja diperlukan kecermatan dan ketelitian yang tinggi. Untuk mendapatkan hasil yang menyakinkan itu sebaiknya minta bantuan tenaga ahli dalam bidang keahlian mereka masing-masing, seperti:

a. Dokter, untuk mengetahui kesehatan anak.
b. Psikolog, untuk mengetahui tingkat IQ anak.
c. Psikiater, untuk mengetahui kejiwaan anak.
d. Sosiolog, untuk mengetahui kelainan sosial yang mungkin dialami oleh anak.
e. Guru kelas, untuk mengetahui perkembangan belajar anak selama disekolah.
f. Orang tua anak, untuk mengetahui kebiasaan anak dirumah.

Dalam prakteknya, tidak semua ahli di atas selalu harus digunakan secara bersama-sama dalam setiap proses diagnosis. Bantaun diperlukan tergantung pada kebutuhan dan tentu saja kemampuan yang tersedia disekolah.

# 4. Prognosis

Keputusan yang diambil berdasarkan hasil diagnosis menjadi dasar pijakan dalam kegiatan prognosis. Dalam prognosis dilakukan kegiatan penyusunan program dan penetapan ramalan mengenai bantuan yang harus diberikan kepada anak untuk membantunya keluar dari kesulitan belajar.

Dalam penyusunan program bantuan terhadap anak didik yang berkesulitan belajar dapat diajukan pertanyaan-pertanyaan dengan menggunakan rumus 5W + 1H

a. Who : Siapakah yang memberikan bantuan kepada anak?
Siapakah yang harus mendapat bantuan?

b. What : Materi apa yang diperlukan? Alat bantu apa yang harus dipersiapkan? Pendekatan dan metode apa yang digunakan dalam memberikan bantuan kepada anak?

c. When : Kapan pemberian bantuan itu diberikan kepada anak? Bulan yang ke berapa? Minggu yang ke berapa?

d. Where : Di Mana pemberian itu di laksanakan?

e. Which : Anak didik yang mana diprioritaskan mendapatkan bantuan lebih dahulu?

f. How : Bagaimana pemberian bantuan itu dilaksanakan? Dengan cara pendekatan individual ataukan pendekatan kelompok? Bentuk treatment yang bagaimana yang mungkin diberikan kepada anak?

# 5. Treatment

Treatment adalah perlakuan. Perlakukan di sini dimaksudkan adalah pemberian bantuan kepada anak didik yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis. Bentuk treatment yang mungkin dapat diberikan adalah:

a. Melalui bimbingan belajar individual.
b. Melalui bimbingan belajar kelompok.
c. Melalui remedial teaching untuk mata pelajaran tertentu.
d. Melalui bimbingan orang tua di rumah.
e. Pemberian bimbingan pribadi untuk mengatasi masalah-masalah psikologis.
f. Pemberian bimbingan mengenai cara belajar yang baik secara umum.
g. Pemberian bimbingan mengenai cara belajar yang baik sesuai dengan karakteristik setiap mata pelajaran.

Siapakah yang mendapat prioritas memberikan treatment? Tergantung pada bidang garapan yang telah diprogramkan. Bila dalam program, ternyata yang harus diatasi terlebih dahulu adalah penyembuhan penyakit kanker yang diderita oleh anak, maka masalah itu yang harus ditangani. Bantuan dokter dalam masalah ini sangat diperlukan untuk mengobatinya, agar penyakit kanker anak itu dapat disembuhkan dalam waktu yang relatif segera. Karena masalah itu dianggap berat dan guru bukan ahlinya. . tetapi bila kesulitan belajar itu menyangkut mata pelajaran tertentu seperti fiqih, kimia atau bahasa arab misalnya tidak perlu meminta bantuan dokter atau sosiolog, guru untuk masing-masing mata pelajaran itupun sudah bisa memberikan bantuan kepada anak didik. Demikianlah sesuai keahlian seseorang.

Ketepan treatment yang dibeikan kepada anak didik yang mengalami kesulitan belajar sangat tergantung kepada ketelitian dalam pengumpulan data, pengolahan data dan diagnosis. Tapi bisa juga pengumpulan datanya sudah lengkap dan pengolahan datanya dengan cermat, tetapi diagnosis yang diputuskan keliru, disebabkan kesalahan analisis, maka treatment yang diberikan kepada anak didik yang mengalami kesulitan belajar pun tidak akurat. Oleh karenanya, kecermatan dan ketelitian tingkat tinggi sangat dituntut dalam pengumpulan data, pengolahan data dan diagnosis, sehingga pada akhirnya treatment benar-benar mengenai objek dan subjek persoalan.

# 6. Evaluasi

Evaluasi di sini dimaksudkan untuk mengetahui apakah treatment yang telah diberikan berhasil dengan baik. Artinya ada kemajuan yaitu anak dapat dibantu keluar dari lingkaran masalah kesulitan belajar atau gagal sama sekali. Kemungkinan gagal atau berhasil treatment yang telah diberikan kepada anak, dapat diketahui sampai sejauh mana kebenaran jawaban anak terhadap item-item soal yang diberikan dalam jumlah tertentu dan dalam materi tertentu melalui alat evaluasi berupa tes prestasi belajar atau achievement test.

Baca Juga: 4 Macam Transfer Belajar

Bila jawaban anak sebagian besar banyak yang salah, itu sebagai pertanda bahwa treatment gagal. Karenanya, perlu pengecekan kembali dengan cara mencari faktor-faktor penyebab dari kegagalan itu. Ada kemungkinan data yang terkumpul kurang lengkap, program yang disusun tidak jelas atau tepat atau diagnosis yang diambil tidak akurat karena kesalahan membaca data, sehingga berdampak langsung pada treatment yang bias. Kemungkinan lain bisa juga terjadi, Datanya lengkap, pengolahan datanya dengan cermat dan teliti, akurasi diagnosis meyakinkan dan prognosis jelas dan sistematis tetapi karena treatment yang diberikan kepada anak yang mengalami kesulitan belajar tidak sungguh-sungguh, terkesan asal-asalan, juga mejadi pangkal penyebab gagalnya usaha mengatasi kesulitan belajar anak.

Agar tidak terjadi kesalahan pengertian disini perlu ditegaskan bahwa pengecekan kembali hanya dilakukan bila terjadi kegagalan berdasarkan evaluasi, dimana hasil prestasi belajar anak didik/siswa masih rendah, dibawah standar. Dalam rangka pengecekan kembali atas kegagalan treatment, secara otomatis langkah-langkah yang perlu ditempuh sebagai berikut:

a. Re-ceking data (baik yang berhubungan dengan masalah pengumpulan maupun pengolahan data).
b. Re-diagnosis.
c. Re-prognosis.
d. Re-treatment.
e. Re-evaluasi.

Bila treatment gagal harus diulang. Kegagalan treatment yang kedua harus diulangi dengan treatment berikutnya. Begitulah seterusnya sampai benar-benar dapat mengeluarkan anak didik dari kesulitan belajar. Tetapi bila gagal dan selalu adalah kebodohan. Itu jangan sampai terjadi. Sebab satu masalah belum selesai, maka masalah lain masih menunggu untuk ditangani.

Nah, itulah 6 cara mengatasi kesulitan belajar anak didik/siswa. Langkah-langkah diatas bisa ditempuh jika siswa atau anak didik mengalami kesulitan dalam belajar. Sumber buku : Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag, 2011. Psikologi Belajar Edisi II. Jakarta : Rineka Cipta.


tags: , ,

Related Pos :