3 Macam Bentuk Penyakit Kejiwaan (Psychosis)

By Admin | pengetahuan

3 macam bentuk penyakit kejiwaan

Ada 3 macam bentuk penyakit kejiwaan (Psychosis) yaitu Schizophrenia (bentuk penyakit kejiwaan kegilaan), Paranoia dan Manic Depressive. 3 macam penyakit kejiwaan akan menjadi poko bahasan kali ini yang akan penulis uraikan secara lengkap mulai dari ciri-ciri, gejala dan penyebabnya.

Berbeda dengan gangguan kejiwaan dimana penderita masih memiliki kesadaran terhadap dunia luar, maka pada kondisi terjadinya penyakit kejiwaan penderita tidak lagi memiliki kesadaran terhadap dunia luar. Dalam istilah sehari-hari individu dengan kondisi penyakit kejiwaan ini sering disebut dengan “gila”. Ada 3 macam bentuk penyakit kejiwaan yaitu Schizophrenia, Pranoia dan Manic Defresif.


A. Schizophrenia

Schizophrenia adalah bentuk penyakit kejiwaan (kegilaan) dengan disintegrasi pribadi, tingkah laku, emosional dan intelektual yang ambigous (majemuk) dan terganggu secara serius, mengalami regresi atau dementia total. Penderita banyak melarikan diri dari kenyataan hidup dan berdiam diri dari kenyataan hidup serta berdiam didalam dunia fantasi. Penderita tidak mengenal lingkungan dan responnya selalu maniakal dan kegila-gilaan. Ia mengalami gangguan intelektual sehingga pikirannya melompat-lompat tanpa arah dan kendali.

Pada kondisi Schizophrenia sering ditemukan gejala-gejala yang ditampilkan individu yaitu:

1. Gejala Fisik
Adapun gejala fisik yang ditampilkan oleh penderita Schizophrenia adalah:

a. Terdapat gangguan motorik berupa retardasi jasmaniah berupa lambannya gerak-gerik penderita dimaksud. Tingkah lakunya menjadi stereotipis yaitu kadang-kadang ada gerak-gerak motorik lamban, tidak teratur dan kaku atau tingkah lakunya menjadi aneh-aneh.

b. Terjadi halusinasi pendengaran, penciuman atau penglihatan dimana si penderita seolah-olah mendengar, mencium atau melihat sesuatu yang tidak ada. Umpamanya penderita seakan-akan mendengar tetangganya atau saudara dan orang dekatnya membicarakannya atau melihat sesuatu yang menakutkan padahal kondisi tersebut tidak terjadi.

2. Gejala Psikis
Adapun gejalanya sebagai berikut:

a. Dingin perasaan, tidak ada perhatian pada apa yang terjadi di sekitarnya. Tidak terlihat reaksi emosional terhadap orang terdekat dengannya, segala sesuatu dihadapi dengan acuh tak acuh.

b. Banyak tenggelam dalam lamunan yang jauh dari kenyataan sangat sukar memahami pikirannya. Ia lebih suka menjauhi pergaulan dengan orang banyak dan suka menyendiri.

c. Mempunyai prasangka yang tidak benar dan tidak beralasan, misalnya apabila ia melihat orang menulis atau membicarakan sesuatu disangkanya tulisan itu untuk mengkritiknya dan mencelahnya.

d. Sering terjadi salah tanggapan atau terhentinya pikiran, misalnya sedang berbicara tiba-tiba lupa apa yang dikatakannya, kadang-kadang dalam pembicaraan ia berpindah dari satu masalah ke masalah lain yang tidak berhubungan sama sekali dengan perkataannya semula atau pembicaraannya tidak jelas ujung pangkalnya.

e. Penderita merasa bahwa ia adalah korban kejahatan orang banyak atau masyarakat. Dia merasa bahwa orang banyaklah yang bersalah dan menyebabkan ia menderita.

f. Muncul keinginan untuk menjauhi masyarakat dan orang banyak, tidak mau bertemu dengan orang dan sebagainya, bahkan kadang-kadang tidak mau makan dan minum sehingga harus diinjeksi supaya dapat tertolong.

g. Keinginan menjauhkan diri intelek dan ingatannya sangat mundur. Ia menjadi sangat introvert. Tidak mampu berkontak dengan lingkungannya. (kartini kartono, 1989; Zakiah Daradjat, 1983).

Schizofrenia dapat dibedakan ke dalam tiga bentuk yaitu:

1. Schizofrenia hebeferenik (penumpulan mental/jiwa)
Ada beberapa ciri-ciri Schizofrenia hebeferenik (penumpulan mental/jiwa) yaitu:

a. Adanya reaksi sikap dan tingkah laku yang kegila-gilaan, suka tertawa-tawa untuk kemudian menangis tersedu-sedu pada diri pasien. Sangat mudah tersinggung dan menjadi meledak-ledak penuh kemarahan tanpa sebab apapun.

b. Penderita Schizofrenia hebeferenik memiliki pikiran yang selalu melantur. Penderita Banyak tersenyum-senyum, halusinasi dan delusi (suatu keyakinan yang tak rasional tapi diyakini kebenarannya) bersifat aneh-aneh, pendek-pendek dan cepat berganti-ganti, sering berlagak dan sok agresi.

c. Terjadi regresi atau degenerasi psikis secara mental total dan menjadi kekanak-kanakan serta tumpul ketolol-tololan dan tidak pantas.

2. Schizofrenia catatonic (kaku, tertahan-tahan dan terhambat-hambat)

Ada beberapa ciri Schizofrenia catatonic yaitu sebagai berikut:

a. Urat-uratnya jadi kaku, pasien mengalami choreaflexibelity yaitu badan beku kaku, cenderung ke arah negativisme ekstrim.

b. Sering menderita catalepsy yaitu dalam keadaan tidak sadar seperti kondisi trance, seluruh tubuh jadi kaku, tidak bisa dibengkokkan. Jika dia mengambil posisi tertentu misalnya berdiri miring, berlutut, jongkok, kepala dibawah dan lain-lain maka dia bertingkah laku sedemikian untuk berjam-jam atau berhari-hari.

c. Ada tingkah kaku yang khas atau gerak-gerak yang otomatis dan tingkah yang aneh-aneh tidak terkendalikan oleh kemauan.

d. Ada gejala stupor yaitu tidak bisa merasa seperti terbius, bersifat negativistis dan pasif disertai delusi kematian, si penderita terus saja membisu dalam waktu yang sangat lama.

e. Kadang-kadang disertai catatonic excitement yaitu menjadi meledak-ledak dan ribut-ribut serta gempar tanpa sebab dan tanpa tujuan.

3. Schizophrenia ParanoidAdapun ciri-cirinya sebagai berikut:

a. Penderita diliputi macam-macam deludi dan halusinasi yang terus menerus berganti coraknya dan tidak teratur sifatnya. Sering merasa iri hati, cemburu, curiga dan dendam.

b. Emosinya pada umumnya beku dan sangat apatis.

c. Pasien tampak lebih waras dan tidak seganjil jika dibandingkan dengan penderita Schizophrenia jenis lainnya. Akan tetapi bersikap sangat bermusuhan terhadap siapapun juga.

d. Ia merasa dirinya sangat penting, sering sangat fanatik religius secara berlebihan. Kadang-kadang bersifat hipokonris (kerisauan hati yang dibesar-besarkan). (kartini kartono, 1989).

Penderita penyakit jiwa yang dibawa ke rumah sakit jiwa banyak dijumpai penderita Schizophrenia ini. Adapun mengenai penyebab terjadinya belum diketahui dengan pasti. Akan tetapi penyebab penyakit Schizophrenia ini, pada umumnya adalah:

– Faktor Genetik (keturunan). Dari penelitian ternyata 60% dari penderita Schizophrenia berasal dari orang tua yang juga menderita Schizophrenia.

– Tidak mampunya individu dalam penyesuaian diri hingga tidak mampu menghadapi persoalan hidup yang menekan.

– Virus atau infeksi selama kehamilan, komplikasi kandungan.

– Menurunkan antibody.

– Malnutrisi, kekurangan gizi yang cukup berat terutama pada tiga bulan pertama kehamilan, keracunan-keracunan, minuman keras dan lain-lain.

– Schizophrenia biasanya muncul setelah seseorang menghadapi suatu peristiwa yang menekan dan traumatis yang berakibat munculnya penyakit yang mungkin sudah terdapat secara tersembunyi di dalam diri orang tersebut. Sebab-sebab langsung ini merupakan faktor pendorong munculnya Schizophrenia. (Dadang Hawari, 1997; Zakiah Daradjat, 1983).

B. Paranoia

Paranoia adalah salah satu penyakit kejiwaan yang dikenal dengan gila kebesaran atau gila menuduh orang. Penyakit ini tidak banyak terjadi, hanya sedikit saja dari penghuni rumah sakit jiwa yang merupakan penderita paranoia. Biasanya penyakit ini mulai menyerang pada usia 40 tahun. Dari penelitian terbukti sekitar 70% penderita paranoid adalah pria.

Adapun ciri-ciri dari penderita paranoia ini adalah sebagai berikut:

1. Delusi, dimana penderita mempunyai pendapat (keyakinan) yang salah, segala perhatiannya ditujukan ke objek delusi tersebut dan hal itu pulalah yang menjadi buah tuturannya sehingga orang yang ditemuinya akan diyakinkannya pula akan kebenaran delusinya itu. Ada dua bentuk delusi yaitu Delusi perkusi (delusion of percusion) dan Delusi kebesaran (delusion of grandeur).

2. Pikirannya logis, akan tetapi ide-idenya selalu salah khususnya dalam bentuk ide-ide fixed berupa pikiran yang keliru, sesat, tegar, paksaan, melantur dan salah.

3. Gangguan pada umumnya bersifat kompensatoris yaitu ada rasa-rasa bersalah/berdosa, rasa inferior, cemburu, iri hati dan lain-lain yang diproyeksikan pada orang lain. Tujuannya untuk membela egonya. Pasien selalu dihinggapi delusi-delusi sebagai mekanisme pembelaan diri dari rasa inferior, rasa bersalah dan rasa negatif lainnya.

4. Bersifat egois, keras kepala dan sangat berkeras atas pendirian dan pendapatnya.

5. Tidak mau mengakui kesalahan atau kekurangannya, selalu melemparkan kesalahan pada orang lain, segala kegagalannya disangkanya akibat dari campur tangan orang lain.

6. Meyakini bahwa dia mempunyai kecerdasan yang luar biasa istimewanya dan berasal dari keturunan yang jauh lebih baik dari orang lain. (Kartini kartono, 1989; Zakiah Daradjat, 1983).

Adapun sebab-sebab terjadinya paranoia adalah:

1. Sigmun Freud seorang tokoh psikoanalisa menekankan penyebab terjadinya paranoia adalah kecenderungan-kecenderungan homoseksual dan dorongan-dorongan seksual yang tertekan, yang kemudian diproyeksikan keluar.

2. Ide-ide yang sarat dimuati oleh afek-afek yang luar biasa kuatnya.

3. Adanya kebiasaan berpikir yang salah, disebabkan oleh perasaan iri hati, egosentris, narsis, terlampau sensitif dan kerap kali dihinggapi rasa curiga.

4. Merupakan bentuk kompensasi terhadap kegagalan-kegagalan dan inferiornya.

5. Adanya defence mechanism (mekanisme membela diri) terhadap rasa-rasa berdosa dan bersalah. (Kartini Kartono, 1989)

Penderita Paranoia biasanya adalah orang-orang yang cerdas, ingatannya kuat, emosinya terlihat berimbang dan cocok dengan pikirannya, hanya saja ia mempunyai suatu pikiran yang salah dan seluruh perhatian dan perkataannya tertuju dan dikendalikan oleh pikiran yang salah tersebut.

Paranoia berbeda dengan pribadi paranoid, dimana pada paranoid intensitas pribadi masih ada, namun pribadi tersebut menunjukan gejala-gejala sebagai berikut:

1. Penderita bersifat egois, keras kepala dan sangat berkeras atas pendirian dan pendapatnya.

2. Tidak mau mengakui kesalahan dan kekurangan diri sendiri, selalu melemparkan kesalahan pada orang lain dan segala kegagalannya disangkanya akibat dari segala campur tangan orang lain.

3. Ia berkeyakinan bahwa dia mempunyai kemampuan dan kecerdasan yang luar biasa istimewahnya, ia berasal dari keturunan yang jauh lebih baik dari orang lain dan merasa bahwa setiap orang iri, dengki dan takut kepadanya.

4. Dalam persaudaraan ia tidak setia, orang yang tadinya sangat dicintainya akan dapat berubah menjadi orang yang sangat dibencinya karena sebab yang remeh saja.

5. Orang ini tidak dapat bekerja yang membutuhkan kepada pemimpin karena ia suka membantah atau melawan dan mempunyai pendapat sendiri dan merasa lebih hebat dari pemimpinnya, tidak mau menerima nasehat atau pandangan orang lain yang berlainan dengan pendapatnya.

C. Manic Depressive

Merupakan penyakit kejiwaan dimana penderitanya mengalami rasa besar/gembira yang kemudian berubah menjadi sedih atau tertekan. Manic depressive dapat pula dikatakan sebagai penyakit kekalutan mental serius berupa gangguan emosional dan suasana hati yang ekstrim yang terus menerus bergerak antara gembira dan tertawa-tawa sampai pada rasa depresi, sedih dan putus asa.

Penderita dihinggapi ketegangan-ketegangan afektif dan agresi yang terhambat-hambat dengan impuls-impuls kuat akan tetapi pendek-pendek sifatnya dan tidak bisa dikontrol atau dikendalikan. Kepribadiannya menjadi kacau dan ingatannya menjadi sangat mundur. Pasein menjadi sangat egosentris, tingkah lakunya menjadi kekanak-kanakan. Ia selalu merasa gelisah dan tidak merasa puas. Dari penelitian, ternyata penderita terbanyak dari manic defresif adalah wanita. (Kartini Kartono, 1989)

Pada penderita manic depressive terjadi dua kondisi yang silih berganti yaitu manis dan depressive. Pada kondisi manis pasien akan memperlihatkan beberapa gejala sebagai berikut:

1. Penderita menjadi sangat aktif, amat ribut, lari ke sana ke mari. Geraknya banyak sekali, banyak bicara dengan cepat dan banyak tertawa riang. Suka bernyanyi-nyanyi dan suka mengeluarkan kata-kata kasar dan jorok.

2. Penderita sangat tidak sabaran dan tidak toleran, menjadi sangat irritabel dan amat gelisah.

3. Kesadarannya kabur, ide-idenya campur aduk, kacau balau. Ia tidak mengenal lagi larangan-larangan.

4. Emosinya pendek-pendek dan meledak-ledak.

5. Penderita dikejar ilusi dan halusinasi visual dan oral (pendengaran), juga delusi-delusi person.

6. Ada disoriebtasi total terhadap ruang, tempat dan waktu.

7. Pada stadium berat ketika mengalami saat manis, penderita bisa melakukan serangan-serangan, kekerasan-kekerasan dan usaha-usaha membunuh orang atau usaha bunuh diri. (Kartini Kartono, 1989)

Ada tiga tingkatan mania yaitu:

1. Hypomania (mania ringan) dengan ciri-ciri sebagai berikut:

a. Ada kegelisahan yang berlebih-lebihan, pasien menjadi aktif sekali dan tidak mengenal payah.

b. Ia berbicara cepat sekali, gembira dan penuh gairah dan suka menguasai pembicaraan.

c. Sangat sensitif dan pantang ditegur perkataan atau perbuatannya, tidak toleran dan tidak sabaran.

2. Acutemania (mania berat) dengan ciri-ciri sebagai berikut:

a. Pikiran, ide-ide dan perasaanya begitu cepat bergerak dan selih berganti terus menerus.

b. Hilang kemampuan beroreintasi, lalu kesadaran menjadi kabur. Sering mengalami euphoria (perasaan senang, positif).

c. Penderita mengungkapkan rasa gembiranya secara berlebihan, sering tidak dapat membedakan tempat, waktu dan orang disekelilingnya.

3. Hypermania (mania yang sangat berat) dengan ciri-ciri sebagai berikut:

a. Ada dorongan kuat untuk melakukan kekerasan dan suka berkelahi, menjadi destruktif diikuti dengan kelelahan yang luar biasa.

b. Mengalami disorientasi total terhadap waktu, tempat dan orang yang diikuti delirium (meracau kegila-gilaan), halusinasi dan kehilangan wawasan. (Zakiah Daradjat, 1983).

Adapun pada kondisi depressive pasien akan memperlihatkan beberapa gejala sebagai berikut:

1. Penderita menjadi melankolis, depresif, sangat sedih, banyak menangis dan dihinggapi ketakutan serta kegelisahan.

2. Perasaannya selalu tidak puas, merasa tidak berguna dan tersia-sia dalam hidupnya, merasa sebatang kara di dunia, menjadi pasif dan acuh tak acuh.

3. Dihinggapi halusinasi-halusinasi dan delusi-delusi yang menakutkan atau menimbulkan kepedihan hati, disertai rasa penyesalan atas kesalahan dan dosa-dosa di masa lampau.

4. Penderita bosan hidup dan putus asa disertai keinginan untuk bunuh diri.

5. Kesadarannya menjadi kabur, biasanya disertai kemunduran motorik dan mental. (kartini kartono, 1989)

Depresif memiliki beberapa tingkatan yaitu:

1. Melancholia ringan dengan gejala sebagai berikut:

a. Ada perasaan murung dan putus asa, hilang musnah segala ambisinya.

b. terjadi retardasi mental dan respon-respon motoriknya mundur sekali.

2. Acute Melancholia (melankolia berat) degan gejala sebagai brikut:

a. Hilang segenap aktivitasnya, individu mengasingkan diri dan menjauhkan diri sama sekali dari masyarakat, tidak mau menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya.

b. Penderita merasa bahwa ia telah terlanjur berbuat dosa atau kesalahan-kesalahan besar yang tidak terampuni lagi.

c. Dalam status hipokondris (kerisauan hati yang dibesar-besarkan) dipenuhi delusi menyalahkan diri sendiri sehingga penderita merasa seolah-olah dialah yang telah menyebabkan orang menderita bahaya dan kesengsaraan.

3. Stupor depresif (depressive stupor) dengan gejala sebagai berikut:

a. penderita menjadi beku, diam mematung, menolak makan dan berbicara, menolak bergerak, mengasingkan diri secara total dari lingkungan.

b. Kesadarannya menjadi kabur karena banyak dihinggapi delusi-delusi yang campur aduk.

c. Penderita banyak bergerak dari status depresif melankolis beralih pada status mania.

Adapun sebab terjadinya manic depressive adalah sebagai berikut:

1. Sebab organis dan herediter (keturunan)

a. Berdasarkan penyelidikan kreretschmer tempramen piknis dengan ciri-ciri badan agak pendek, dada membulat, perut besar, bahu tidak lebar, leher pendek dan kokoh, lengan dan kaki agak lemah, mempunyai kecenderungan mendapat gangguan penyakit ini. Juga orang yang bertempramen cyclothym dengan ciri mudah mengadakan kontak dengan orang lain, mudah bergaul, mudah menyesuaikan diri dengan orang lain, mudah turut merasa suka dan duka, jiwanya terbuka, mempunyai korelasi dengan gangguan manis depressif ini. (Sumadi Suryabrata, 2006).

b. Mempunyai keluarga yang memiliki riwayat penyakit yang sama.

2. Sebab-sebab non herediter

a. Ada mania-mania kompensasi untuk meredusir pikiran-pikiran dan ide yang tidak menyenangkan yang dijadikan mekanisme kompensatoris untuk melupakan kesedihan dan kekecewaan hidup dalam bentuk aktivitas-aktivitas yang ekstrim, sibuk dan kacau tidak beraturan. Sementara untuk depresinya merupakan upaya untuk melupakan kegagalan-kegagalan. Pada umumnya ada rasa penyesalan, lalu timbul usaha melarikan diri dari kenyataan hidup kemudian muncul perasaan putus asa.

b. Tidak ada kontrol terhadap emosi-emosinya, tidak ada integrasi di antara perasaan-perasaan tunduk dan patuh dengan kecenderungan-kecenderungan harga diri yang ekstrim. (kartini kartono, 1989).

Manis depresif ini ada kemungkinan untuk disembuhkan, khusunya bila treatment dilakukan pada awal munculnya gejala penyakit. Yang paling penting dilakukan adalah usaha pereventif atau pencegahan dengan cara mengajarkan pada anak-anak dan remaja untuk mengekspresikan emosinya dengan cara-cara yang positif. Dan menghindari penekanan-penekanan ke dalam ketidaksadaran. Nah, itulah 3 macam bentuk penyakit kejiwaan (Psychosis). Semoga uraian diatas bisa bermanfaat.

Ssumber: Psikologi Agama karangan Dr. Salmaini Yeli, M.Ag, penerbit, Zanafa Publishing, 2011.


tags: , ,

Related Pos :