Sistem Organ Reproduksi pada Manusia

By Admin | pengetahuan

sistem reproduksi

Pada pembahasan kali ini kita akan membahas tentang sistem organ reproduksi pada manusia. Tuhan menciptakan berbagai jenis makhluk hidup di bumi. Setiap makhluk hidup dianugerahi kemampuan bereproduksi untuk menghasilkan keturunan, termasuk manusia. Anda berpikir mengapa Anda ada dan bagaimana proses terbentuknya Anda?

Pada umumnya seorang bayi yang terlahir di dunia berasal dari seorang ibu dan seorang ayah. Bayi yang dilahirkan ibu membuktikan bahwa telah terjadi proses reproduksi di dalam tubuh manusia. Proses reproduksi tersebut melibatkan organ-organ reproduksi pria dan wanita. organ-organ apa saja yang berperan dalam proses reproduksi? Bagaimana proses pembentukan janin di dalam rahim seorang ibu? Anda akan menemukan jawabannya setelah mempelajari materi berikut ini.

1. Organ sistem reproduksi manusia

Proses terbentuknya janin dalam rahim ibu dan proses kelahiran bayi melibatkan organ-organ reproduksi. Organ sistem reproduksi manusia dibedakan menjadi organ reproduksi pria dan wanita. organ reproduksi pria menghasilkan sperma, sedangkan organ reproduksi wanita menghasilkan ovum (sel telur).

Struktur dan fungsi organ reproduksi pria

Organ reproduksi pria terdiri atas organ reproduksi luar dan organ reproduksi dalam. Organ reproduksi luar berupa penis dan skrotum. Organ reproduksi dalam berupa testis, saluran kelamin dan kelenjar kelamin.

– Organ reproduksi bagian luar

  • Penis, merupakan alat kelamin jantan yang berfungsi memasukkan sperma ke dalam saluran kelamin wanita. di dalam oenis terdapat tiga rongga. Dua rongga bagian atas tersusun atas jaringan spons korpus kavernosa. Satu rongga di bawahnya tersusun atas jaringan spons korpus spongiosum. Korpus spongiosum membungkus uretra. Uretra pada penis dikelilingi oleh pembuluh darah dan ujung-ujung saraf perasa.
  • Skrotum (kantong pelir), merupakan kantong yang membungkus atau melindungi testis. Skrotum pada manusia berjumlah sepasang, yaitu skrotum kanan dan skrotum kiri. Antara skrotum kanan dan skrotum kiri terdapat jaringan ikat dan otot polos. Adanya otot polos mengakibatkan skrotum dapat mengerut dan mengendur. Dalam skrotum terdapat otot lurik yang berfungsi mengatur suhu disekitar testis agar selalu stabil (pembentukan sperma memerlukan suhu sedikit di bawah suhu tubuh yaitu 34 derajat celcius).

Fungsi utama skrotum memberikan testis suatu lingkungan yang memiliki suhu 1-8 derajat celcius lebih dingin dibandingkan temperature rongga tubuh. Pengaturan suhu dilakukan dengan mengeratkan atau melonggarkan skrotum sehingga testis dapat bergerak mendekat atau menjauhi tubuh. Testis akan diangkat mendekati tubuh pada suhu dingin dan bergerak menjauh pada suhu panas.

-Organ reproduksi bagian dalam

  • Testis (gonad jantan), setiap pria umumnya mempunyai sepasang testis yang dilindungi skrotum. Setiap skrotum melindungi satu testis. Testis berfungsi memproduksi sperma (melalui proses spermatogenesis) dan testoteron (hormone kelamin pria). Di dalam testis terdapat saluran-saluran halus yang disebut tubulus seminiterus. Dalam tubulus seminiferus inilah terjadi pembentukan sperma.
  • Saluran kelamin, berfungsi menyalurkan sperma dari testis ke luar tubuh melalui penis. Saluran kelamin pada organ reproduksi pria yaitu epidermis (berfungsi sebagai tempat penyimpanan sperma sementara), vas deferens (berfungsi sebagai saluran yang dilalui sperma dari epidermis menuju vesikula seminalis/kantong sperma), saluran ejakulasi (berfungsi untuk mengeluarkan sperma menuju uretra), dan uretra (berfungsi sebagai saluran kelamin dari vesikula seminalis dan saluran urine dari kantong kemih).
  • Kelenjar kelamin, selama perjalanan di dalam saluran kelamin, sperma mengalami penambahan cairan-cairan kelamin. Cairan tersebut berguna untuk mempertahankan hidup dan gerak sperma. Cairan-cairan kelamin dihasilkan oleh vesikula seminalis, kelenjar prostat, dan kelenjar Cowper.
  • Vesikulasi seminalis menghasilkan cairan yang berfungsi sebagai sumber energi dan untuk memudahkan gerakan sperma. Cairan ini juga menormalkan keasaman saluran reproduksi wanita saat koitus.
  • Kelenjar prostat menghasilkan cairan yang member suasana basa pada cairan sperma. Cairan tersebut mengandung kolesterol, garam, dan fosfolipid.
  • Kelenjar cowper/kelenjar bulbouretra menghasilkan cairan yang bersifat basa. Kelenjar cowper berhubungan langsung dengan uretra.

2. Proses-proses yang melibatkan organ reproduksi pria

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa organ kelamin pria berfungsi menghasilkan sperma. Sperma mulai dibentuk ketika seorang pria memasuki masa puber. Proses pembentukan sperma atau disebut spermatogenesis terjadi di dalam tubulus seminiferus. Bagaimana terjadinya spermatogenesis?

Spermatogenesis melibatkan spermatogonium, sel setoli, dan sel leydig, yang ketiganya terdapat di dalam tubulus seminiferus.

  • Spermatoggonium (sel induk spermatozoa) merupakan penghasil sperma.
  • Sel sertoli merupakan pemberi nutrisi spermatozoa.
  • Sel leydig merupakan penghasil hormone testoteron. Hormone ini berperan dalam pembelahan meiosis membentuk spermatosit sekunder.

Spermatogenesis dipengaruhi oleh beberapa hormone seperti berikut.

  • LH (Luteinizing Hormone), berfungsi merangsang sel leydig untuk menghasilkan hormone testosterone.
  • FSH (Follicie Stimulating Hormone), merangsang sel sertoli untuk menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein). ABP merangsang spermatogonium untuk memulai spermatogenesis. Kedua hormone tersebut dihasilkan oleh kelenjar hipofisis anterior.

Spermatogenesis terjadi melalui tiga tahap, yaitu:

  • Tahap penggandaan, sel primordial mengalami pembelahan mitosis berulang-ulang dan membentuk spermatogonia (tunggal = spermatogonium).
  • Tahap pertumbuhan, spermatogonium bersifat diploid. Spermatogonia tumbuh dan berkembang membentuk spermatosit primer (diploid).
  • Tahap pematangan, spermatosit primer membelah secara meiosis membentuk dua spermatosit sekunder (haploid). Spermatosit sekunder kemudian membelah secara meiosis membentuk empat buah spermatid (haploid). Setiap spermatid akan berdiferensiasi menjadi sperma (haploid). Proses pematangan spermatid menjadi sperma disebut spermiasi. Proses pematangan sperma dipengaruhi oleh hormone testoteron. Seorang pria normal mampu menghasilkan 20-40 juta sel sperma dalam setiap milliliter cairan semen.

Sperma terdiri atas kepala dan ekor. Pada membrane yang melindungi ujung kepala sperma terdapat selubung yang disebut akrosom. Akrosom mengandung enzim hialuronidase akrosin, dan antifertilizin. Hialuronidase dan akrosin berfungsi menembus lapisan pelindung ovum.


Hialuronidase melarutkan hialuronid pada corona radiate sel telur. Akrosin menghancurkan glikoprotein pada zona pelusida sel telur. Antitertilisin merupakan antigen yang berfungsi melekatkan sperma pada sel telur. Bagian ekor berfungsi sebagai alat gerak sperma. Pada pangkal ekor terdapat badan sperma yang mengandung mitokondria. Mitokondria itu berfungsi sebagai penghasil energi untuk pergerakan sperma.

3. Struktur dan fungsi organ reproduksi wanita

Organ reproduksi wanita terdiri atas organ kelamin luar dan organ kelamin dalam. Organ kelamin luar berupa vulva dan labium. Organ kelamin dalam berupa ovarium dan saluran kelamin.

  • Organ reproduksi wanita bagian luar
  • Vulva merupakan celah paling luar dari alat kelamin wanita. pada bagian dalam vulva trdapat saluran urine dan saluran reproduksi. Pada daerah dekat ujung saluran kelamin terdapat hymen (selaput dara). Hymen mengandung banyak pembuluh darah.
  • Labium merupakan bagian yang membatasi vulva. Ada dua macam labium, yaitu labium mayora dan labium minora bagian atas terbentuk tonjolan kecil yang disebut klitoris. Pada klitoris terdapat korpus kavernosa yang mengandung banyak pembuluh darah dan ujung saraf perasa.
  • Organ reproduksi wanita bagian dalam
  • Vagina merupakan saluran akhir organ reproduksi wanita. vagina bermuara di vulva. Vagina mengandung banyak lendir yang dihasilkan kelenjar Bartholin. Lendir ini berguna pada saat koitus dan mempermudah kelahiran bayi.
  • Uterus merupakan rongga besar yang merupakan pertemuan oviduk kanan dan kiri. Bagian terbawah uterus menyempit yang disebut serviks (leher rahim). Uterus berfungsi sebagai tempat pertumbuhan dan perkembangan embrio hingga siap lahir. Uterus dibatasi oleh dinding endometrium yang kaya pembuluh darah. Dinding endometrium akan menebal ketika terjadi kehamilan.
  • Oviduk atau tuba fallopii merupakan sepasang saluran yang ujungnya berbentuk corong yang disebut infundibulum. Pada infundibulum terdapat fimbriae (rumbai-rumbai) untuk menangkap ovum. Tuba fallopii berguna sebagai tempat terjadinya fertilisasi.
  • Ovarium merupakan penghasil ovum. Terdapat dua buah ovarium, sebelah kiri dan kanan.

4. Proses-proses yang melibatkan organ reproduksi wanita

-Oogenesis

Organ kelamin wanita berfungsi menghasilkan ovum (sel  telur). Sel telur terbentuk melalui oogenesis yang terjadi di dalam ovarium. Oogenesis  terjadi melalui tiga tahap, yaitu:

  • Tshsp penggandaan terjadi pada ovarium janin ketika masih dalam kandungan. Pada tahap ini, sel primordial mengalami pembelahan mitosis membentuk oogonia (tunggal = oogonium) yang bersifat diploid.
  • Tahap pertumbuhan terjadi pada ovarium bayi. Pada tahap pertumbuhan ppbonium mengalami pembelahan mitosis membentuk oosit primer (diploid). Oosit primer berada dalam keadaan dorman (istirahat) sampai anak perempuan mengalami masa puber.
  • Tahap pematangan dimulai pada masa puuber. Pada masa puber terjadi perubahan hormonal dalam tubuh anak perempuan. Perubahan tersebut mengakibatkan oosit primer membelah secara meiosis l menghasilkan oosit sekunder (berukuran besar) dan badan polar l (berukuran kecil). Oosit sekunder berhenti mengalami pembelahan saat terjadi ovulasi. Pembelahan meiosis ll ini kemudian dilanjutkan setelah sel telur mengalami fertilisasi. Pada pembelahan ini oosit sekunder menghasilkan ootid (haploid) dan badan polar ll (haploid). Ootid akan mengalami diferensiasi menjadi ovum dn badan polar ll mengalami degenerasi. Badan polar l juga akan mengalami pembelahan menjadi dua badan polar. Namun, kadang-kadang badan plar l mengalami degenerasi sebelum mengalami pembelahan.

Oosit sekunder yang diovolasikan dari ovarium dilindungi oleh dua lapisan. Lapisan luar disebut corona dan lapisan dalam disebut zona pelusida.

-Siklus menstruasi

Seorang wanita setiap bulan melepaskan satu sel telur matang dari salah satu ovariumnya. Apabila tidak terjadi fertilisasi akan terjadi pendarahan yang disertai luruhnya sel telur dan lapisan endometrium. Pendarahan ini disebut menstruasi. Saat menstruasi, seorang wanita perlu menjaga kebersihan organ kelamin agar terhindar dari serangan penyakit yang disebabkan oleh janur atau bakteri.

Menstruasi terjadi secara periodic sehingga disebut siklus menstruasi berlangsung selama 28 hari. Siklus menstruasi terdiri atas empat fase, yaitu fase menstruasi, fase provulasi, fase ovulasi, dan fase pascaovulasi.

  • Fase menstruasi, terjadi apabila ovum tidak dibuahi sperma. Dalam keadaan tersebut korpus luteum menghentikan produksi estrogen dan progesterone. Akibatnya, ovum meluruh bersama-sama dengan endometrium. Kondisi ini ditandai adanya pendarahan melalui vagina.
  • Fase pra-ovulasi (fase folikel), hipotalamus hormone gonadotropin yang merangsang pembentukan follicie stimulating hormone (FSH). FSH merangsang pembentukan folikel yang mengelilingi oosit primer hingga matang. Oosit primer akan terus membelah dan menghasilkan ovum yang haploid. Ovum matang yang diselebungi folikel disebut folikel de Graaf. Folikel de Graaf kemudian menghasilkan estrogen yang merangsang pembentukan endometrium. Estrogen juga mempengaruhi serviks sehingga sperma mampu hidup di dalamnya.
  • Fase ovulasi, adanya peningkatan kadar estrogen mengakibatkan terhambatnya pembentukan FSH sehingga hipofisis melepaskan luteinizing (LH). LH merangsang terjadinya ovulasi. Ovulasi biasanya terjadi pada hari ke-14 dihitung sejak hari pertama menstruasi. Pada saat ovulasi, oosit sekunder terlepas dari folikel.
  • Fase pasca-ovulasi (fase luteal), pada tahap ini LH merangsang folikel yang telah kosong menjadi korpus luteum (badan kuning). Korpus luteum tetap menghasilkan estrogen dan progesteron. Progesteron bekerja sama dengan estrogen memacu pembentukan endometrium. Progesteron juga merangsang sekresi lendir pada vagina dan pertumbuhan kelenjar susu. Hal ini berguna untuk persiapan penanaman zigot dalam uterus setelah terjadi pembuahan. Apabila sampai akhir fase ini tidak terjadi pembuahan, akan kembali ke fase menstruasi lagi.
tags: , , ,

Related Pos :