Pengertian, Syarat-Syarat dan Cara Pelaksanaan Haji

By Admin | pengertian

pengertian, syarat-syarat dan cara pelaksanaan haji

A. Pengertian haji

Dalam bahasa Arab, pengertian haji berarti al-qashd, yaitu menyengaja atau menuju. Dalam istilah syara’, haji berarti menyengaja mengunjungi Kabah untuk melakukan ibadah tertentu (thawaf, sa’I, wuquf di Arafah dan lainnya). Haji termasuk ibadah yang telah dikenal pada syariat agama-agama terdahulu sebelum Islam. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail membangun Kabah sebagai rumah ibadah untuk berhaji ke Bait Allah itu. Orang-orang mematuhi seruannya, datang dari berbagai penjuru dan mempelajari dasar-dasar agama tauhid yang mereka ajarkan.

Agama Ibrahim pun berkembang di jarizah Arabia. Setiap suku datang berhaji mengagungkan kehormatan Bait Allah menurut ketentuan yang digariskan. Tetapi, setelah berlangsung cukup lama, ternyata keadaan itu mengalami perubahan. Ketentuan-ketentuan agama yang telah digariskan itu berangsur dilupakan bahkan bercampur dengan bentuk-bentuk lain. Karena terintervensi agama-agama lain, mereka ikut menyembah berhala. Akhirnya Kabah dijadikan sebagai salah satu pusat penyembahan berhala. Di dalam dan di sekitarnya terdapat patung-patung sembahan yang berasal dari luar Arabia.

Ketika Islam datang, sebagian besar agama di dunia ini telah dikenal di Arabia. Namun, masih tersisa sedikit kenangan tentang agama Ibrahim, terutama mengenai ibadah haji yang memang menonjol pada agama lama itu. Ibadah ini masih dilaksanakan, tetapi telah banyak bercampur dengan bid’ah dan khurafat. Setelah Islam cukup kuat, Nabi melakukan haji wada’ (terakhir) pada tahun ke-10 H, bersama puluhan ribu umatnya. Dalam ibadah itu, beliau melakukan perombakan terhadap tata cara yang waktu itu dikenal dan mengembalikan segala syiar, ketentuan, dan adab-adabnya kepada bentuk semula sebagaimana yang berlaku di zaman Ibrahim dan Ismail. Umat yang turut berhaji memperhatikan dan mengikuti secara seksama contoh dan petunjuk yang beliau sampaikan dalam setiap pelaksanaan ibadah haji selanjutnya.

Haji termasuk rukun Islam yang diwajibkan satu kali seumur hidup; berdasarkan surat Ali-Imran ayat 97: “Mengerjakan haji merupakan kewajiban manusia terhadap Allah, yakni bagi yang sanggup melakukan perjalanan ke Bait Allah. Barangsiapa mengingkari kewajiban itu, sesungguhnya Allah Mahakaya dari semesta alam.”

Dalam sebuah hadits ditegaskan:

“Islam ditegakkan di atas lima sendiri, bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah; menegakkan shalat; membayar zakat; haji ke Bait Allah; dan puasa Ramadhan.”

Selain bernilai ibadah, dalam haji terkandung banyak hikmah baik yang berhubungan dengan social kemasyarakatan maupun individu. Fluralisme suku, bahasa, bangsa, kulit dan sebagainya diikat dalam satu ikatan akidah Islamiyah. Mereka saling bertukar pikiran, membina persaudaraan, dan menjalin kerja sama. Secara individual, sejak dari perjalanan pergi hingga kembali ke negerinya terdapat hikmah yang sangat banyak bagi orang yang berhaji. Orang yang telah berniat melakukan ibadah akan selalu merasa dekat kepada Allah. Perasaan itu akan terus menguat selama dalam pelaksanaan ibadahnya di tanah suci hingga mampu memperoleh haji mabrur.

B. Syarat-syarat wajib haji

Kewajiban haji ini disebabkan kepada orang-orang yang telah memenuhi persyaratan berikut.


a. Islam

Haji tidak sah dilakukan orang kafir.

b. Baligh dan berakal

menurut Abu Hanifah, anak-anak tidak wajib haji; tetapi menurut Malik dan Syafi’i, boleh. Perbedaan ini disebabkan oleh adanya atsar yang bertolak belakang dalam masalah ini. Menurut Al-Sayyid Sabiq, anak-anak tidak wajib haji; bila mereka melakukannya, haji mereka sah, tetapi tidak dapat melunasi kewajiban haji dalam Islam. Bahkan, menurut konsesus ulama, anak kecil yang naik haji sebelum baligh wajib melakukannya kembali setelah ia baligh.

c. Merdeka

Haji termasuk ibadah yang menghendaki waktu dan kesempatan, sedangkan seorang hamba selalu sibuk dengan urusan majikannya, berarti ia tidak mempunyai kesempatan.

d. Mampu

Para ulama menafsirkan istitha’ah (mampu) dalam hal berikut. Pertama, sehat badannya. Jika ia tidak sanggup menunaikan haji disebabkan tua, cacat, atau karena sakit tidak dapat diharapkan sembuh, hendaklah diwakilkan (niyabah) kepada orang lain jika ia mempunyai harta. Jika tidak mempunyai harta, tetapi mempunyai anak yang patuh dan mampu melakukan haji untuknya, ia wajib memerintahkan anak itu untuk melakukannya. Kedua, tersedianya bekal untuk perjalanan pergi dan kembali serta selama berada ditanah suci. Ketiga, tersediannya kendaraan, baik dengan memiliki maupun menyewanya –dengan harga atau sewa yang pantas. Menurut Al-Syafi’i, Abu Hanifah, dan Ahmad, syarat istitha’ah adalah adanya bekal dan kendaraan. Mereka berpedoman kepada hadits Nabi berikut. Ketika ditanya: “Apa itu istitha’ah?”, beliau menjawab: “Bekal (al-zad) dan kendaraan (al-rahilah)”. Menurut Malik, orang yang mampu berjalan, walaupun tidak memiliki kendaraan, tetap wajib berhaji; demikian halnya jika tidak mempunyai bekal. Keempat, aman diperjalanan;artinya, tidak ada ancaman yang berarti terhadap jiwa, kehormatan dan harta. Khusus untuk perempuan, diperlukan orang yang mendampinginya; suami, mahram atau beberapa perempuan lainnya. Namun, bila perjalanan betul-betul aman, perempuan pun dibenarkan berhaji tanpa teman. Kelima, memungkinkan melakukan perjalanan; artinya, setelah seorang mendapatkan biaya, masih tersedia cukup waktu untuk melakukan perjalanan haji.

Jika seorang meninggal dunia sebelum melaksanakan haji padahal ia telah mempunyai kemampuan dan kesempatan melakukannya, maka kewajiban itu tidak gugur dengan kematiannya. Kewajiban haji itu menjadi utang baginya dan wajib dilaksanakan dengan menggunakan harta peninggalannya.

C. Cara pelaksanaan haji

Dalam pelaksanaan haji, terdapat tiga macam pekerjaan, yaitu fardhu, wajib, dan sunat. Fardhu haji berbeda dengan wajib haji. Jika pekerjaan yang fardhu dalam haji tidak dikerjakan, maka hajinya sah; sedangkan jika wajib haji ditinggalkan, ia dapat digantikan dengan dam.

Rukun (fardhu) haji ada enam, yaitu ihram, wukuf, thawaf, sa’I, bercukur, dan tartib. Sedangkan wajib haji ada lima, yaitu melakukan ihram dari miqat, melempar jumrah, bermalam di Mina, thawaf wada’, dan menghindari segala yang diharamkan dalam ihram. Adapun sunat haji, di antaranya melakukan haji ifrad, talbiyyah, thawaf qudum (pembuka), bermalam di Muzdalifah, dan shalat thawaf dua rakaat.

a. Ihram

Ihram adalah berniat memulai ibadah haji. Melakukan ihram dari miqat merupakan salah satu dari wajib haji. Miqat itu ada dua macam, yaitu miqat zamani dan miqat makani. Miqat zamani ibadah haji yaitu bulan syahwal, zulkaidah, dan sepuluh hari dari dzulhijjah. Ihram untuk ibadah haji tidak sah dilakukan kecuali pada bulan-bulan ini (Q.S. Al-Baqarah: 197). Sedangkan miqat makani adalah tempat-tempat yang ditentukan untuk melakukan ihram, menurut daerah asal atau arah datangnya dalam perjalanan ke Mekkah. Orang yang datang dari Madinah, ihramnya di Zulhalaifah; yang datang dari Syam, ihramnya di Jahfah; yang dari Nejd, ihramnya di Qarn, dan yang datang dari Yaman, ihramnya Yalamlam. Ini sesuai dengan petunjuk Nabi: “Orang Madinah berihram di Zulhalaifah, orang Syam di Jahfah dan orang Nejd di Qar.”

Bagi orang yang datang dari Irak dan Khursan, miqatnya di Zatu’irq. Sedangkan ulama mengatakan bahwa miqat ini ditetapkan berdasarkan ijtihad Umar, tetapi sebagian mendasarkannya atas riwayat dari Jabir bin Abullah. Orang yang dalam perjalanannya tidak melewati salah satu miqat ini, maka miqatnya tempat yang setentang dengan miqat terdekat dengan jalan yang dilaluinya. Dalam berijtihad, untuk menentukan miqat orang Irak, Umar menetapkan Zat’irq dengan pertimbangan bahwa tempat itu bertentangan dengan Qarn, miqat terdekat dari jalan orang Irak. Adapun orang yang bertempat tinggal di Mekkah, miqatnya kota Mekkah sendiri. Orang yang tinggal di luar kota Mekkah, tetapi melampaui salah satu dari miqat tersebut, maka miqatnya desanya sendiri, dan mereka ihram dari tempat tinggalnya.

Dalam persiapan melakukan ihram, ada beberapa hal yang sunat dilakukan, yaitu mandi, meninggalkan pakaian berjahit yang sedang dipakainya, memakai sarung, selendang, dan sandal, memakai wangi-wangian pada tubuhnya, melakukan shalat dua rakaat dan lain-lain. Setelah melakukan itu, barulah ihram dengan berniat melakukan haji sambil mengucapkan talbiyyah.

Selanjutnya, selama berihram disunatkan mengucapkan talbiyyah sebanya-banyaknya, terutama pada waktu bertemu dengan teman ketika mendaki dan menurun setelah selesai melakukan shalat, pada awal malam dan awal siang, di Mesjid Al-Khaif dan Mesjid Al-Haram. Menurut Ibn ‘Abbas, talbiyyah merupakan hiasan ibadah haji. Tuntutan bertalbiyyah baru berakhir setelah melempar Jumrah Al-‘Aqabah.

Setelah bertalbiyyah disunatkan pula membacakan salawat bagi Nabi, memohon keridhaan Allah dan meminta perlindungan dari-Nya.

Dalam pada itu, ada beberapa hal yang haram dilakukan dalam berihram; orang yang melanggarnya dikenakan bayar fidyah.

1. Mencukur rambut, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 196. Walaupun ayat ini melarang keras mencukur kepala, larangan itu, menurut ulama, meliputi perbuatan memendekkan atau mencabut rambut, baik yang di kepala maupun pada bagian badan lainnya.

2. Menyisir dan meminyaki rambut, karena perbuatan menghias diri tidak sesuai dengan keadaan ibadah. Bila rambutnya ada yang gugur ketika menyisirnya, ia dikenakan wajib fidyah.

3. Memotong kuku; ini diqiyaskan kepada mencukur rambut berdasarkan persamaan bahwa keduanya merupakan perbuatan menghias diri. Pelanggaran atas ketentuan ini dikenakan kewajiban fidyah.

4. Menutupi kepala bagi laki-laki dan menutup muka bagi perempuan.

5. Memakai pakaian berjahit sebagai diajarkan Nabi.

6. Memakai wangi-wangian, baik di badan maupun di pakaiannya didasarkan atas larangan memakai pakaian warna merah dan warna langit (dicelup). Larangan ini mencakup segala bentuk bahan yang lazimnya digunakan untuk wewangian dan segala macam penggunaannya.

7. Melakukan akad nikah. Nabi bersabda: “Orang yang sedang ihram tidak menikah dan pula menikahkan.” (H.R. Muslim). Ulama telah ijma’ bahwa akad nika yang dilakukan ketika ihram, selain haram, juga tidak sah.

8. Bersetubuh dan mubasyarah dengan syahwat, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 197. Dalam ayat tersebut ada kata rafats, yang boleh Ibn ‘Abbas diartikan jima’ (senggama).

9. Membunuh binatang buruan. Ulama telah ijma’ bahwa haram membunuh atau mengkap binatang (termasuk burung) liar, karena Allah melarangnya, sebagaimana terdapat dalam surat Al-Maidah ayat 96. Bila orang ihram itu dengan sengaja membunuh binatang buruan, ia dikenakan kewajiban al-jaza’ sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 96.

b. Thawaf

Thawaf (mengelilingi Kabah) yang menjadi rukun haji adalah thawaf ifadhah. Ulama telah bersepakat (ijma’) bahwa itulah yang dimaksudkan dalam ayat 29 dari surat Al-Hajj: “Dan hendaklah mereka melakukan thawaf di sekeliling rumah tua (Kabah).”

Selain thawaf ifadhah yang menjadi rukun haji ini, ada juga thawaf qudum (pembuka) dan thawaf wada’ (penutup), yang disebabkan ketika hendak meninggalkan kota suci. Thawaf ini dilaksanakan tujuh kali putaran dengan persyaratan: (1) menutup aurat; (2) suci dari hadas dan najis, baik dari badan, pakaian maupun tempat; (3) menempatkan Bait Allah di sebelah kirinya; (4) dimulai dari Hajar Aswad; artinya pada awal thawaf itu badan berada setentang Hajar Aswad; (5) dilakukan di dalam mesjid tetapi di luar Bait Allah.

Dalam thawaf ini ada beberapa perbuatan yang dianggap sunat yaitu sebagai berikut.

1. Menjabat Hajar Aswad (memberi salam) pada awal thawafnya sesuai dengan hadis Umar: “Saya melihat Nabi, ketika tiba di Mekkah, menjabat Hajar Aswad pada awal thawafnya.”

2. Mencium Hajar Aswad.

3. Ketika menjabat Hajar Aswad mengucapkan doa.

4. Menyentuh Rukun Yamani dan Rukun Aswad yang dilakukan pada setiap putaran thawaf, sesuai dengan riwayat Ibn Umar “Nabi menyentuh kedua rukun itu pada setiap putaran thawafnya.” Setiap kali melalui Hajar Aswad disunatkan menciumnya dan bertakbir.

5. Berdoa di antara dua RAUKU Yamani dan Rukun Aswad. Ibn Abbas berkata: “Pada Rukun Yamani itu ada malaikat, berdiri dan berkata, ‘Amin-amin’. Oleh karena itu, bila kamu lewat di situ, ucapkanlah: “Rabbana atina fi al-dunya hasanah wa fi al-akhirat hasanah’.”

6. Khusus bagi laki-laki, pada thawaf ziarah disunatkan berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama dan berjalan biasa pada tempat putaran lainnya. Disunatkan pula ketika lari itu mengucapkan.

Allahummaj’alhuhajjaan mabruwran wadzanbann maghfuurann wasa’yann masykuurann.

7. Melakukan shalat thawaf dua rakaat setelah selesai thawaf sebaiknya dilakukan di dekat maqam Ibrahim.

Dalam melakukan thawaf, tidak dilarang berbicara. Namun, Nabi bersabda, “ Thawaf di Bait Allah berarti shalat, tetapi Allah membolehkan berbicara padanya.” Namun, lebih baiknya tidak berbicara selain zikir dan doa sesuai dengan yang dianjurkan.

c. Sa’i

Sa’i (berlari-lari kecil) antara Safa dan Marwah termasuk rukun haji. Rasulullah juga melakukan sa’i. beliau pernah bersabda, “Ber-sa’i-lah kamu. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mewajibkan sa’i atas kamu.”

Dalam sa’i harus diperhatikan ketentuan-ketentuan berikut.

a. Sa’i mesti dikerjakan setelah melakukan thawaf, sebagaimana yang dicontohkan Nabi.

b. Tartib, dimulai dari Shafa. Jabir meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Kita mulai dari tempat yang Allah memulai dengan-Nya, dan beliau memulai dari Shafa hingga selesai dari sa’inya di Marwah.”

c. Sa’i mesti dilakukan tujuh kali dengan ketentuan bahwa perjalanan dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali, dan berikutnya dari Marwah ke Shafa pun demikian.

Dalam beberapa hadits disebutkan bahwa Nabi melakukan sa’i setelah selesai thawaf. Beliau naik ke bukit Shafa sehingga tampak olehnya Bait Allah, kemudian menghadap ke sana, bertakbir dan mengucapkan dzikir lalu doa seraya mengangkat tangannya. Syafi’i mengatakan bahwa setelah tiba di atas bukit Shafa, sebaiknya dibaca:

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahhilhamdu Allahu Akbar ‘Ala Maa Hadaa Naa Wallhamdulillahi ‘Ala Maa Hadaa Naa Wa Awlaa Naa, Laa Ilaaha Illallaahu Wahdahu Laasyariykalahu, Lahullmulku Walahulhamdu Yuhyi Wayumiitu Wahuwa’alakulli Syai’ingkaadiru.

Dilanjutkan dengan berdoa dan bertalbiyyah; dilakukan tiga kali. Setelah tiba di lembah, hendaklah berlari dengan kuat sampai melampaui lembah itu kea rah Bukit Marwah, baru berjalan kembali, mendekati bukit tersebut. Inilah yang dicontohkan Nabi jika bersa’i. ketika berada di antara Shafa dan Marwah, sebaiknya tetap membaca doa.

Setelah tiba di Marwah, hendaklah kembali membaca dzikir dan doa seperti yang dilakukan di Shafa. Menurut riwayat Jabir, ketika tibah di Marwah, Rasulullah melakukan kembali apa yang dilakukannya di Shafa itu.

d. Wuquf

Wuquf (tinggal di Arafah), menurut kesepakatan (ijma’) termasuk rukun haji, karena ada sabda Nabi: “Haji itu wuquf di Arafah.” Pelaksanaan wuquf bagi orang yang sedang melaksanakan ibadah haji itu wajib, walaupun sebentar, dan berada di Arafah pada waktu antara tergelincir matahari pada hari Arafah sampai terbit fajar pada hari Idul Adha.

Untuk pelaksanaan haji, disunatkan melakukan mandi, berwuquf di dekat tempat wuquf Nabi (Jabal Rahmah), menghadap ke kiblat, banyak berdoa untuk dirinya, orang tuanya, dan sebagaimana –misalnya ‘La ilaha illa Allah wahdah la syarika lah- mengangkat tangan ketika berdoa dan berwuquf sejak tergelincir matahari sampai terbenamnya sebagaimana yang dilakukan Nabi.

e. Bermalam di Muzdalifah

Allah berfirman: “Apabila kamu telah bertolak dari Arafah berzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram. Dan berzikirlah sebagiamana yang ditunjukkan-Nya kepadamu. Sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.”

Dalam ayat di atas yang dimaksud masy’aril haram adalah Muzdalifah yang disebut juga Jam’. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum bermalam di Muzdalifah. Al-Auza’I dan beberapa ulama tabi’in memasukkannya sebagai rukun haji, sehingga jika diabaikan akan mewajibkan qadha pada tahun berikutnya. Mayoritas ulama (Jumhur) mengatakan bahwa bermalam di Muzdalifah itu wajib; jika ditinggalkan, mengharuskan bayar dam. Namun, ada pendapat yang mengatakan bahwa itu hanya sunnah haji saja.

Waktu bermalam di Muzdalifah yaitu pada malam hari nahar. Setelah selesai melakukan wuquf di Arafah. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi bertolak dari Arafah setelah terbenam matahari, berjalan dengan tenang, tetapi di tempat-tempat yang lapang beliau mempercepat jalan kendaraannya, dan melakukan shalat Maghrib dan Isya secara jama’ di Muzdalifah, dan tetap di Muzdalifah hingga terbit fajar; kemudian shalat Subuh.

Ketika berada di Muzdalifah disunatkan pula mengambil batu-batu untuk digunakan melempar Jumrah pada hari sesudahnya. Shalat Subuh hendaklah dilakukan pada awal waktu agar tersedia banyak waktu yang untuk berdoa setelahnya. Sesudah selesai shalat, Rasulullah Saw naik ke Qash; berdiri di sana; berdoa, bertahlil dan mengucapkan kalimat tauhid. Hal ini dilakukan hingga cahaya menguning di Timur, kemudian bertolak ke Mina sebelum terbit matahari.

f. Melempar Jumrah

Melempar jumrah termasuk wajib haji. Pada hari nahr (10 Zulhijjah), di Mina, dilakukan melempar Jumrah ‘Aqabah saja dengan tujuh batu. Sebaiknya, pekerjaan ini dilakukan setelah terbit matahari. Bahkan, Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad mengatakan tidak dibenarkan melempar sebelumnya. Jabir mengatakan: “Rasulullah melempar Jumrah pada hari nahr pada waktu dhuha , sedangkan jumrah yang sesudahnya setelah tergelincir matahari.” (Muttafaq ‘alaih).

Dalam riwayat Safi’i disebutkan bahwa Nabi menyuruh Ummu Salamah agar menyegarkan ifadah serta agar tibah dan shalat Subuh di Mekkah.

Kemudian selama hari-hari tasyriq, mulai dari Jumrah pertama yang berada di dekat Mesjid Al-Khaif, jumrah kedua dan jumrah Aqabah, masing-masing dengan tujuh batu. Waktu yang baik untuk melempar jumrah itu mulai dari tergelincir matahari hingga terbenamnya matahari. Namun, dibenarkan pula sampai akhir hari tasyriq.

Setiap kali melempar disunatkan mengucapkan takbir, sebagimana disebutkan dalam hadits Nabi tentang melempar jumrah. Setelah selesai melempar batu pada jumrah pertama, disunatkan pula berhenti beberapa waktu untuk berdoa. Demikian pula dilakukan pada jumrah kedua. Menurut riwayat Aisyah, Rasulullah tinggal di Mina selama tiga hari (tasyriq). Beliau melempar jumrah pertama setelah tergelincir matahari dengan tujuh batu seraya mengucapkan takbir pada setiap kalinya, kemudian berhenti dan berdoa. Setelah itu, beliau bergerak ke jumrah kedua, dan berbuat seperti itu pula. Lalu, beliau bergerak lagi ke Jumrah ‘Aqabah dan melemparnya, tetapi tidak berhenti sesudahnya. Abu Ishaq mengatakan, lama berhenti untuk berdoa itu selama waktu membaca surat Al-Baqarah.

g. Bercukur

Mayoritas ulama (jumhur) telah sepakat bahwa bercukur (al-halq) atau memotong rambut (al-taqsir) termasuk bagian ibadah haji, bahkan termasuk salah satu rukunnya menurut pendapat yang kuat dalam mazhab Syafi’i. walaupun hanya dengan memendekkan rambut, kewajiban itu telah terpenuhi. Namun, mencukurnya lebih baik sebagaimana yang dicontohkan Nabi. Ketentuan ini berlaku bagi laki-laki; wanita hanya dituntut memotong rambut mereka, tidak dibenarkan bercukur.

h. Tahallul

Larangan-larangan yang tidak boleh dilakukan selama berihram, menjadi halal kembali setelah melakukan tahallul. Tahallul ada dua tahap. Pertama, dengan melakukan dua dari tiga perbuatan: melempar jumrah pada hari nahar, bercukur atau memotong rambut dan thawaf yang diiringi dengan sa’I bila belum sa’i sebelumnya. Dengan melakukan dua dari yang tiga ini, perbuatan-perbuatan yang dilarang selama ihram itu –seperti mengenakan pakaian berjahit, menutup kepala atau muka, bercukur atau memotong rambut, memotong kuku, memakai wangi-wangian dan berburu- dihalalkan. Namun, nikah dan jima’ belum boleh dilakukan, sebab dalam hadits dinyatakan: “Apabila kamu telah melempar jumrah, maka halallah bagimu semuanya, kecuali wanita.”

Nikah dan jima’ baru halal kembali setelah tahallul tahap kedua, yaitu melakukan pekerjaan yang ketiga yang belum dilakukan pada tahallul pertama. Setelah melakukan tahallul, ia masih wajib melanjutkan pekerjaan hajinya yang belum selesai yaitu melempar jumrah dan bemalam di Mina pada hari-hari tasyriq.

i. Bermalam di Mina

Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa Nabi bermalam di Mina selama hari-hari tasyriq. “Dari Aisyah; ia menyarankan bahwa Rasulullah melakukan ifadah, kemudian kembali ke Mina dan tinggal di sana selama tiga hari tasyriq.” Berdasarkan hadits ini, para ulama mengatakan bahwa bermalam di Mina termasuk wajib haji. Menurut Malik, setiap pelanggaran satu malam dikenakan kewajiban dam. Menurut Sayafi’i, setiap pelanggaran satu malam dikenakan sepertiga dam. Dam ini hanya berlaku bagi mereka yang tidak bermalam tanpa uzur. Orang-orang yang mempunyai alasan, seperti para petugas siqayah (penggembala unta), tidak dikenai dam.

j. Tartib

Sebagian ulama mengatakan bahwa tartib termasuk syarat dalam pelaksanaan haji, tetapi sebagian lainnya memandangnya sebagai rukun. Dalam hal ini tartib berarti melakukan rukun-rukun haji sesuai dengan urutan yang semestinya. Ihram mesti dikerjakan sebelum melakukan yang lainnya; wukuf harus lebih dahulu sebelum thawaf ifadah, dan thawaf mestinya lebih dahulu dari sa’i bila sa’i telah dikerjakan setelah thawaf qudum. Keharusan tartib ini didasarkan atas kewajiban mengikuti contoh Nabi seperti dalan sabdanya: “Ambillah (cara pelaksanaan) ibadah haji kamu dariku.”

k. Fawat dan ihsar

Bila seseorang yang telah ihram tidak melakukan wukuf sampai terbitnya fajar pada hari nahar, maka hajinya batal; ia mesti bertahallul dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan umrah saja, thawaf, sa’i dan bercukur serta wajib mengqadha pada kesempatan berikutnya. Selain wajib mengqadha ia juga diwajibkan menyebelih binatang kurban (al-hady).

Bila orang yang telah ihram haji itu dihambat oleh musuh, maka jika musuh itu Muslim, sebaiknya ia bertahallul dan tidak memerangi mereka. Bila musuh itu musyrik, juga tidak wajib dilawan sebab orang kafir pun hanya wajib diperangi bila mereka mulai menyerang. Bila hal ini kaum muslim berada dalam keadaan lemah, dan musuh kuat, sebaiknya tidak dilakukan perang dengan mereka. Namun, jika sebaliknya, sebaiknya mereka diperangi agar ibadah haji dapat dilaksanakan.

Apabila yang menghambat itu menuntut harta, maka tuntutan itu tidak wajib dipenuhi, karena itu merupakan kezaliman, dan haji tidak diwajibkan bila harus mengalami penganiayaan. Bahkan, makruh memberikannya apabila musuh itu orang kafir, Karena dianggap merendahkan Islam. Jika orang yang dihambat itu dapat menempuh jalan lain untuk sampai ke Mekkah, ia harus melaluinya, walaupun lebih jauh untuk melanjutkan hajinya. Jika dengan demikian ia terlambat sehingga tidak dapat wuquf, hendaklah ia bertahallul dengan melakukan umrah. Jika ia tidak mempunyai pilihan lain dan sama sekali tidak dapat melakukan perjalanannya dan menyembelih kurban di dana. Ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 196.


Related Pos :