Pengertian hadits shahih dan syarat-syarat hadits shahih

By Admin | pengertian

pengertian hadits shahih dan syarat-syarat hadits shahih

Pengertian hadits shahih menurut bahasa berarti sah, benar, sempurna, sehat (tiada celanya), pasti. Pengertian hadits shahih secara definitif eksplisit belum dinyatakan oleh ulama ahli hadits dari kalangan Al-Mutaqaddimin sampai abad 3 H. mereka pada umumnya hanya memberikan penjelasan mengenai criteria penerimaan hadits yang dapat dijadikan pegangan. Di antara pernyataan-pernyataan mereka adalah, “Tidak diterima periwayatan suatu hadits, kecuali berasal dari orang-orang yang tsiqat, tidak diterima periwayatan yang bersumber dari orang-orang yang tidak dikenal memiliki pengetahuan hadits, dusta, mengikuti hawa nafsu, orang-orang yang ditolak kesaksiannya.”

Gambaran mengenai pengertian hadits shahih menjadi lebih jelas setelah Imam Syafi’I memberikan ketentuan bahwa riwayat suatu hadits dapat dijadikan hujjah, apabila:

1. Diriwayatkan oleh para perawi yang dapat dipercaya amalan agamanya, dikenal sebagai orang yang jujur, memahami dengan baik hadits yang diriwayatkan, mengetahui perubahaan arti hadits bila terjadi perubahan lafalnya, mampu meriwayatkan hadits secara lafal, terpelihara hapalannya bila meriwayatkan hadits secara lafal, bunyi hadits yang dia riwayatkan sama dengan bunyi hadits yang diriwayatkan oleh orang lain dan terlepas dari tadlis (menyembunyikan cacat)

2. Rangkaian riwayatnya bersambung sampai kepada Nabi Muhammad Saw, atau dapat juga tidak sampai kepada Nabi.

Bukhari dan Muslim sebagai ahli hadits dan hadits-haditsnya diakui sebagai hadits yang shahih ternyata belum membuat definisi hadits hadits shahih secara tegas. Namun, setelah para ulama mengadakan penelitian mengenai cara-cara yang ditempuh oleh keduanya untuk menetapkan suatu hadits yang biasa dijadikan hujjah, diperoleh suatu gambaran mengenai kriteria hadits shahih menurut keduanya. Kriteria-kriteria tersebut adalah:

1. Rangkaian perawi dalam sanad itu harus bersambung mulai dari perawi pertama sampai perawi terakhir.

2. Para perawinya harus terdiri atas orang-orang yang dikenal tsiqat, dalam arti adil dan dhabit.

3. Haditsnya terhindar dari illat (cacat) dan syadz (janggal).

4. Para perawi yang terdekat harus sezaman.

Hanya saja di antara keduanya terjadi perbedaan pendapat mengenai persambungan sanad. Menurut Bukhari, sanad hadits dikatakan bersambung apabila antara perawi yang terdekat itu pernah bertemu, sekalipun hanya satu. Jadi, tidak cukup hanya sezaman (Al-Mu’asarah). Sebaliknya menurut Muslim, apabila antara perawi yang terdekat hidup sezaman, maka sanadnya sudah dikategorikan bersambung.


Pengertian hadits shahih baru jelas setelah ulama Al-Mutaakhirin mendifinisikan secara konkret, seperti:

“Adapun hadits shahih ialah hadits yang sanadnya bersambung (sampai kepada Nabi), diriwayatkan oleh ? (perawi) yang adil dan dhabit sampai akhir sanad, tidak ada kejanggalan dan berillat.”

Definisi yang ringkas didefinisikan oleh Imam An-Nawawi sebagai berikut:

“Hadits yang bersambung sanadnya, diriwayatkan oleh perawi yang adil lagi dhabit, tidak syadz dan tidak berillat.”

Dari beberapa definisi tentang hadits shahih yang telah disepakati oleh para ulama ahli hadits dapat dinyatakan bahwa syarat-syarat hadits shahih yaitu:

1. Sanadnya bersambung: rangkaian para perawi hadits shahih sejak perawi terakhir sampai kepada para sahabat yang menerima hadits langsung dari Nabi Muhammad Saw bersambung dalam periwayatannya.

2. Para perawinya bersifat adil: Islam, balig, terpeliharanya ketakwaan, yaitu senantiasa melaksanakan perintah agama dan meninggalkan larangannya, dan terjaga sifat muru’ah, yaitu senantiasa berakhlak baik dalam segala tingkah lakunya.

3. Para perawinya bersifat dhabit: para perawi yang kuat hapalannya terhadap segala sesuatu yang pernah didengarnya, kemudian mampu menyampaikan hapalan tersebut manakala diperlukan.

4. Matannya tidak syadz: hadits yang matannya tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih kuat atau lebih tsiqah.

5. Matannya tidak berillat: hadits-hadits yang di dalamnya tidak terdapat kesamar-samaran atau keragu-raguan.

Related Pos :