Pengertian Hadis Maudhu’

By Admin | pengertian

pengertian hadis maudhu'

Pengertian hadis maudhu’ menurut bahasa ialah meletakkan atau menyimpan, mengada-ada atau membuat-buat, ditinggalkan. Sedangkan pengertian hadis maudhu’ menurut istilah ahli hadis adalah :

“Hadis yang disandarkan kepada Rasulullah Saw, secara dibuat-buat dan dusta, padahal beliau tidak mengatakan dan memperbuatnya. Sebagian mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan hadis maudhu’ ialah hadis yang dibuat-buat.”

Ada juga sebagian ulama mendefinisikan pengertian hadis maudhu’ sebagai berikut:

“Hadis yang diciptakan dan dibuat oleh seseorang (pendusta) yang dinisbatkan kepada Rasulullah secara paksa dan dusta, baik sengaja maupun tidak.”

Dari pengertian di atas dapat dikatakan bahwa hadis maudhu’ bukanlah hadis yang bersumber dari Rasulullah atau dengan kata lain bukan merupakan hadis Rasulullah, paling tidak sebagian, namunhadis tersebut disandarkan kepada Rasulullah.

Para ulama berbeda pendapat tentang kapan mulai terjadinya pemalsuan hadis. Berikut ini akan dikemukakan pendapat mereka.

1. Menurut Ahmad Amin bahwa hadis maudhu’ terjadi sejak masa Rasulullah Saw masih hidup. Alasan yang dijadikan argumentasi adalah sabda Rasulullah Saw yang temuat dalam sebuah hadis yang isinya menggambarkan bahwa kemungkinan pada zaman Rasulullah Saw telah terjadi pemalsuan hadis. Alasan yang dikemukakan oleh Ahmad Amin sebetulnya hanya merupakan dugaan yang tersirat dalam hadis tersebut, sebab dia tidak mempunyai alasan historis. Selain itu pemalsuan hadis pada masa Rasulullah Saw tidak pula tercantum dalam kitab-kitab standar yang berkaitan dengan Asbab Al-Wurud. Data menunjukkan bahwa sepanjang masa Rasulullah Saw tidak pernah ada seorang sahabat pun yang sengaja berbuat dusta kepadanya. Sekiranya hal itu, terjadi para sahabat pasti segera mengumumkannya sebagai perbuatan jahat atau keji.

Hadis di atas sebagaimana telah diungkapkan dalam kitab-kitab standar ditujukan kepada para sahabat agar mereka cermat dan hati-hati dalam menyampaikan hadis.

2. Shalah Ad-Din Ad-Dabi mengatakan bahwa pemalsuan hadis berkenaan dengan masalah keduniawian telah terjadi pada masa Rasulullah saw. Alasan yang dia kemukakan adalah hadis riwayat At-Tahawi dan At-Tabrani. Dalam kedua hadis tersebut dinyatakan bahwa pada masa Nabi, ada seorang yang telah membuat berita bohong dengan mengatasnamakan Nabi. Ia mengaku telah diberi wewenang oleh Nabi untuk menyelesaikan suatu masalah yang terjadi pada suatu kelompok masyarakat di sekitar Madinah. Kemudian ia melamar seorang gadis di daerah tersebut, tetapi lamaran itu ditolak. Utusan dari masyarakat tersebut memberitahukan berita utusan yang dimaksud kepada Nabi. Ternyata Nabi tidak pernah menyuruh orang tersebut dan beliau lalu menyuruh sahabatnya untuk membunuh orang yang berbohong, seraya berpesan, apabila ternyata orang yang bersangkutan telah meninggal dunia, maka jasadnya harus dibakar. Hadis ini, baik yang diriwayatkan Al-Tahawi atau At-Tabrani memiliki sanad lemah (dhaif). Karena itu, kedua riwayat tersebut tidak dapat dijadikan dalil.

3. Menurut Jumhur Al-Muhaddisin, pemalsuan hadis terjadi pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Menurut mereka, hadis-hadis yang ada sejak zaman Nabi hingga sebelum terjadinya pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan masih terhindar dari pemalsuan. Dengan demikian, jelaslah bahwa pada zaman Nabi, tidak mungkin ada pemalsuan hadis. Demikian pula pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khatab, dan Utsman bin Affan. Hal ini dapat dibuktikan dari kegigihan, kehati-hatian dan kewaspadaan mereka terhadap hadis.


Pada masa Khalifa Ali bin Abi Thalib mulai terjadian pemalsuan. Pada masa tersebut telah terjadi perpecahan politik antara golongan Ali dan pendukung Au’awiyah. Upaya ishlah dan tahkim tidak mampu meredam pertentangan mereka, bahkan semakin menambah ruwetnya masalah dengan keluarnya sebagian pengikut Ali (khawarij) dan membentuk kelompok tersendiri. Golongan yang terakhir ini kemudian tidak hanya memusuhi Ali, tetapi juga melawan mu’awiyah.

Masing-masing golongan, selain berusaha untuk mengalahkan lawannya, juga berupaya mempengaruhi orang-orang yang tidak berada dalam perpecahan. Salah satu cara yang mereka tempuh ialah dengan membuat hadis palsu. Dalam sejarah dikatakan bahwa yang pertama-tama membuat hadis palsu adalah golongan syi’ah.


Related Pos :