Pengertian Hadis Dhaif dan Macam-Macam Hadis Dhaif

By Admin | pengertian

pengertian hadis dhaif dan macam-macam hadis dhaif

Pengertian hadis dhaif menurut bahasa berarti lemah, sebagai lawan dari kata kuat. Maka sebutan hadis dhaif dari segi bahasa berarti hadis yang lemah atau hadis yang tidak kuat.

Sedangkan pengertian hadis dhaif secara istilah, di antara para pendapat ulama terdapat perbedaan rumusan dalam mendefinisikan pengertian hadis dhaif ini. Akan tetapi, pada dasarnya, isi yang dimaksudnya adalah sama. Beberapa definisi, di antaranya dapat dilihat di bawah ini.

  • An-Nawi mendefinisikan hadis dhaif dengan:

          “Hadis yang di dalamnya tidak terdapat syarat-syarat hadis shahih dan syarat-syarat hadis hasan.”

  • Ulama lainnya menyebutkan bahwa hadis dhaif ialah:

          “Hadis yang di dalamnya tidak terkumpul sifat-sifat maqbul.”

  • Menurut Nur Ad-Din Atr, definisi hadis muncul yang paling baik ialah:

         “Hadis yang hilang salah satu syaratnya dari syarat-syarat hadis maqbul (hadis yang shahih atau hadis  yang    hasan).”

Pada definisi yang ketiga disebut secara tegas bahwa jika satu syarat saja (dari persyaratan hadis shahih atau hadis hasan hilang, berarti hadis itu dinyatakan sebagai hadis dhaif). Lebih-lebih jika yang hilang itu sampai dua atau tiga syarat, seperti perawinya tidak adil, tidak dhabit, dan adanya kejanggalan dalam matan. Hadis seperti ini dapat dinyatakan sebagai hadis dhaif yang sangat lemah.

Para ulama menentukan ke-dhaif-an hadis itu pada tiga bagian, yaitu sanad, matan dan perawinya. Dari ketiga bagian ini, mereka membagi dan menguraikan dalam beberapa macam hadis dhaif, yang jumlahnya banyak sekali.

Berikut  uraian singkat tentang macam-macam hadis dhaif, diantaranya:

a. Dhaif dari segi persambungan sanadnya

Dari segi persambungan sanad (ittisal as-sanad), para ulama menemukan banyak hadis yang jika dilihat dari sudut sanad-nya, ternyata tidak bersambung. Tidak bersambungnya sanad ini, menunjukkan bahwa hadis tersebut adalah dhaif. Hadis-hadis yang tergolong dalam kelompok ini ialah:


1. Hadis mursal: hadis yang gugur sanadnya setelah tabi’in. yang dimaksud dengan gugur disini ialah tidak disebutkannya nama sanad terakhir.

2. Hadis munqati’: hadis yang tidak dapat dijadikan hujjah karena gugurnya seorang perawi atau lebih menyebabkan hilangnya salah satu syarat dari syarat-syarat shahih, yang berarti tidak memenuhi syarat hadis shahih.

3. Hadis mu’dal: hadis yang gugur dua orang perawinya atau lebih secara berturut-turut, baik gugurnya itu antara sahabat dengan tabi’in atau dua orang sebelumnya.

b. Dhaif dari segi sandarannya

1. Hadis mauquf: hadis yang diriwayatkan dari para sahabat, yaitu berupa perkataan, perbuatan, atau taqrirnya, baik periwayatanya itu bersambung ataupun tidak.

2. Hadis maqtu’: hadis yang diriwayatkan dari tabi’in dan disandarkan kepadanya, baik perkataan maupun perbuatannya.

c. Dhaif dari segi-segi lainnya

Yang dimaksud dengan kedhaifan pada bagian ini, ialah kedhaifan karena yang terjadi, baik pada matan maupun pada rawinya. Kecatatan pada bagian ini banyak sekali macamnya sehingga mencapai puluhan macam, sebagaimana yang diuraikan oleh para hadis. Akan tetapi di sini hanya akan dikemukakan beberapa macam saja, sebagaimana uraian di bawah ini.

1. Hadis munkar

Hadis munkar ialah: “Hadis yang diriwayatkan oleh orang yang lemah (perawi yang dhaif), yang bertentangan dengan periwayatan orang kepercayaan.”

2. Hadis matruk

Hadis matruk ialah: “Hadis yang diriwayatkan oleh seseorang yang tertuduh dusta (terhadap hadis yang diriwayatkannya), atau nampak kefasikanya, baik pada perbuatan atau pada perkataannya, atau orang yang banyak lupa atau banyak ragu.”

3. Hadis syadz

Hadis syadz ialah: “Hadis yang diriwayatkan oleh orang yang maqbul, akan tetapi bertentangan (matannya) dengan periwayatan dari orang yang kualitasnya lebih utama.”

4. Hadis maqlub

Hadis maqlub ialah: “Hadis yang lafalnya tertukar pada salah seorang dari sanadnya atau nama seseorang sanadnya. Kemudian mendahulukan penyebutannya yang seharusnya disebut belakangan atau membelakangkan penyebutan yang seharusnya didahulukan atau dengan sesuatu pada tempat yang lain.”

Related Pos :