Pengertian Etika Menurut Beberapa Definisi

By Admin | pengertian

pengertian etika

Pengertian etika berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethos yang memiliki pengertian adat istiadat (kebiasaan), perasaan batin kecenderungan hati untuk melakukan perbuatan. Dalam kajian filsafat, etika adalah bagian dari filsafat yang mencakup metafisika, kosmologi, psikologi, logika, etika, hukum, sosiologi, ilmu sejarah, dan estetika.

Sebagaimana di dalam Kamus Istilah Pendidikan dan Umum dinyatakan bahwa etika adalah bagian dari dari filsafat yang mengajarkan tentang keluhuran budi (baik/buruk).

Sedangkan pengertian etika menurut beberapa definisi, di antaranya sebagai berikut:

Dr. Franz Magnis Suseno menyatakan, “etika memang tidak dapat menggantikan agama, tetapi di lain pihak etika juga tidak bertentangan dengan agama.” Karena itu pengertian etika versi Franz Magnis adalah usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya pikirnya  untuk memecahkan masalah bagaimana ia harus hidup apabila ia menjadi baik. Oleh karena itu, akal budi itu merupakann ciptaan Allah dan tentu diberikan kepada manusia untuk dipergunakan oleh setiap manusia dalam semua dimensi kehidupan.

Dalam definisi yang lain H. Devos mengomentari bahwa etika ialah ilmu pengetahuan mengenai kesusilaan, ini berarti bahwa etika membicarakan kesusilaan secara ilmiah.

Dan yang dimaksud dengan kesusilaan dalam bahasan ini, adalah “keseluruhan aturan, kaidah atau hukum yang bentuk amar (perintah) dan larangan (cegahan)”.

Dengan ini dapat dipahami bahwa kesusilaan itu adalah norma yang mengatur tingkah laku manusia secara pribadi dan sosial. Dalam konteks ini perilaku seseorang diatur atau ditentukan oleh norma kesusilaan, mencakup kehidupan naturalnya, seperti nafsu seksualnya, kecenderungannya, cita-cita, keinginan-keinginan telah digiring dalam untuk dan alur tertentu.

Menyinergikan beberapa pola pikir para pakar etika tentang definisi etika di atas dapat disimpulkan. Menurut F.M. Suseno, adanya wahyu tidak berarti bahwa potensi pikir manusia itu dicutikan. Karena orang beragama diharapkan dapat mempergunakan secara optimal anugerah Sang Pencipta itu. Jangan sampai akal budi dikesampingkan dari bidang agama. Itulah sebabnya mengapa jurusan kaum agama diharapkan betul-betul menggunakan rasio dan metode-metode etika. Sebenarnya etika itu merupakan bagian dari filsafat yang menginginkan tentang keluhuran budi dengan mendorong manusia untuk menggunakan akal budi dan daya pikirnya agar dia menjadi baik sejalan dengan kaidah, norma hukum dan aturan main.

Sejalan dengan formulasi dan irama batasan pemahaman di atas, Hamzah Yakkub mengatakan, etika ialah ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikir.

Kemudian dalam bahasan yang sama ada Asmaran AS menulis, etika ialah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia untuk menentukan nilai perbuatan tersebut baik dan buruknya, sedangkan ukuran untuk menetapkan nilainya adalah akal pikiran manusia.


Dalam berbagai bentuk bahasan dan tulisan para pakar agaknya mempersamakan secara etimologi tentang pengertian istilah akhlak dengan etika. Namun, apabila secara mendalam kita telusuri, dan kita teliti dari berbagai aspek, pasti akan dijumpai sisi kesamaan disamping akan diteliti aspek perbedaannya:

  1. Sisi kesamaannya adalah pada objek antara akhlak dengan etika, yaitu sama-sama membahas tentang baik dan buruknya tingkah laku dan perbuatan manusia.
  2. Sisi perbedaannya adalah pada sumber norma bahwa ilmu akhlak secara tegas menjadi norma agama sebagai basis norma yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Related Pos :