Kelangsungan Hidup Organisme Melalui Perkembangbiakan

By Admin | pengetahuan

Kelangsungan Hidup Organisme Melalui Perkembangbiakan

Semua jenis organisme pada akhirnya akan mati. Akan tetapi, sebelum mati, organisme tersebut berusaha untuk mempunyai keturunan sehingga kelangsungan hidup organisme dapat dipertahankan. Kemampuan berkembang biak pada setiap jenis organisme tidak sama, ada yang tinggi dan ada yang rendah. Organisme yang mempunyai tingkat perkembangbiakan tinggi dapat mempunyai banyak keturunan dalam waktu tidak lama. Sebaliknya, organisme yang mempunyai tingkat perkembangbiakan rendah mempunyai waktu lama untuk berkembang biak.

Beberapa jenis organisme yang hidup di bumi ini jumlah populasinya makin menurun, bahkan ada kecenderungan akan punah. Hal ini disebabkan tingkat perkembangbiakan rendah. Selain itu, juga disebabkan adanya kerusakan habitat atau perburuan oleh manusia. Baca juga: Kelangsungan Hidup Organisme Seleksi Alam

Cara Perkembanganbiakan Organisme

Untuk, mempertahankan jenisnya, organisme selalu berusaha memperbanyak diri dengan berkembang biak. Para ahli ilmu hayati membagi cara berkembang biak menjadi dua olongan besar sebagai berikut.

1. Perkembangbiakan generatif

Perkembangbiakan generatif atau secara kawin (seksual) adalah terbentuknya individu baru yang didahului dengan bersatunya atau meleburnya dua sel kelamin (gamet), yaitu sel kelamin jantan dan sel kelamin betina. Peristiwa ini disebut proses pembuahan.

Berdasarkan bentuk dan ukurannya, sel kelamin (gamet) dibedakan menjadi dua sebagai berikut.

  1. Isogami, apabila sel kelamin jantan dan sel kelamin betina mempunyai bentuk dan ukuran yang sama, misalnya pada ganggang Ulotrich dan Chlamydomonas.
  2. Anisogami atau heterogami, apabila bentuk dan ukuran sel kelamin jantan dan betina lebih berbeda. Umumnya sel kelamin betina lebih besar daripada sel kelamin jantan. Peristiwa anisogami ditemukan pada Plasmodium, Oedogonium, semua vertebrata, dan manusia, serta tumbuhan biji.

Hasil peleburan sel kelamin disebut zigot. Zigot memiliki sifat dari kedua induknya. Ketika zigot tumbuh dan berkembang menjadi organisme baru, ia akan membawa sifat dari tiap-tiap induk sebagai sifatnya. Dengan demikian organisme baru tidak sama persis dengan kedua induknya, melainkan memiliki beberapa ciri gabungan dari kedua induk tersebut. Hal ini memungkinkan terjadinya variasi pada organisme.

Organisme tingkat tinggi, seperti tumbuhan biji yang berkembang biak dengan biji, merupakan contoh perkembangbiakan secara generatif. Disebut secara generatif karena biji merupakan hasil peleburan sel kelamin jantan dan sel kelamin betina. Hewan ada yang melahirkan anak dan ada pula yang bertelur. Kedua cara ini juga merupakan perkembangbiakan secara generatif.

Perkembangbiakan generatif pada organisme yang belum jelas alat kelaminnya disebut konjugasi. Untuk membedakannya, individu yang memberikan plasma atau intinya disebut jenis plus (+), sedangkan penerimanya disebut jenis minus (-). Contoh organisme yang melakukan konjugasi adalah ganggang Spirogyra dan hewan bersel satu Paramecium. Selain berkembang biak secara generatif dengan konjugasi, Paramecium juga dapat berkembang biak secara vegetatif dengan membelah diri. Perkembangbiakan dengan membelah diri pada Paramecium lebih sering terjadi dibandingkan konjugasi.

  • Dua benang Spirogyra saling berhadapan. Sel yang saling berhadapa, masing-masing akan membentuk tonjolan.
  • Setelah tonjolan berlekatan, dinding sel yang bersentuhan larut sehingga terbentuklah saluran yang menghubungkan kedua sel tersebut. Kloroplas pada setiap sel menghilang.
  • Sitoplasma dari sel jenis (+) pindah ke sel jenis (-) dan melebur menjadi satu. Hasil peleburan ini membentuk zigot.
  • Zigot membentuk dinding pelindung dan menjadi zigospora akan lepas dari benang Spirogyra dan jatuh ke dalam air atau lumpur.
  • Bila keadaan lingkungan telah memungkinkan, zigospora tumbuh menjadi benang Spirogyra baru.

2. Perkembangbiakan vegetatif

Perkembangbikan vegetatif atau tak kawin (aseksual) adalah terjadinya organisme baru tanpa didahului oleh peleburan sel kelamin jantan dengan sel kelamin betina. Dengan kata lain, satu atau beberapa organisme baru berasal dari satu organisme. Organisme hasil perkembangbiakan vegetatif memiliki sifat yang sama persis dengan induknya. Perkembangbiakan vegetatif terjadi dengan cara membelah diri, tunas, atau spora.

a. Membelah diri

Organisme bersel satu pada umumnya berkembang biak dengan cara membelah diri. Contoh organisme tersebut adalah Amoeba, ganggang biru, bakteri, dan Paramecium. Bila sudah dewasa, tubuh organisme tersebut akan terbelah menjadi dua dan masing-masing akan tumbuh menjadi individu baru.


b. Tunas

Pisang berkembang biak dengan anaknya yang tumbuh tidak jauh dari induknya. Anakan pisang ini merupakan tunas pisang.

Bomggol pisang yang terdapat di dalam tanah sebenarnya batang yang mempunyai bakal-bakal tunas. Anakan pisang berasal dari bakal tunas pada bonggol (batang) pisang.

Perkembangbiakan dengan tunas tidak hanya terjadi pada tumbuhan, tetapi juga pada hewan. Contoh hewan yang berkembang biak dengan tunas ialah Hydra. Hewan ini hidup di dalam air dan berukuran 4-7 cm. kita dapat melihatnya lebih jelas dengan menggunakan alat pembesar.

  • Tunas pada Hydra berasal dari dinding tunas induknya yang menonjol makin panjang. Tunas mendapat makanan dari induknya.
  • Tunas tumbuh dan berkembang membentuk tentakel dan mulut. Tunas mengambil makanannya sendiri.
  • Selanjutnya tunas yang sudah bertentakel melepaskan diri dari induknya dan tumbuh menjadi individu baru.

c. Spora

Organisme yang berkembang biak dengan spora contohnya jamur, tumbuhan paku, dan kapang Rhizopus.

Pada tumbuhan paku, spora berasal dari sel yang berubah fungsinya menjadi alat perkembangbiakan. Inti sel tersebut berubah menjadi beberapa inti yang masing-masing menjadi spora. Spora hanya terdapat di sebelah bawah daun yang subur (daun fertil). Daun yang tidak menghasilkan spora disebut daun steril (mandul). Spora yang jatuh di tempat berair atau lembap akan tumbuh menjadi protalium yang selanjutnya menjadi tumbuhan paku.

3. Perkembangbiakan generatif dan vegetatif

Perkembangbiakan dengan cara generatif dan vegetatif amat jarang terjadi sekaligus pada spesies hewan. Pada beberapa spesies tumbuhan, kedua cara tersebut dapat terjadi.

Contoh hewan yang dapat melakukan perkembangbiakan dengan cara generatif dan vegetatif adalah Hydra. Dalam keadaan normal, Hydra melakukan perkembangbiakan secara vegetatif dengan membentuk tunas. Akan tetapi, dalam keadaan tertentu, misalnya kekurangan makanan, Hydra membentuk kelenjar kelamin betina (ovarium) dan kelenjar kelamin jantan (testis). Ovarium menghasilkan sel telur, sedangkan testis menghasilkan sperma. Jika sel telur di buahi oleh sperma, zigot akan tumbuh dan berkembang menjadi organisme baru.

Bagaimana dengan tumbuhan? Tumbuhan biji pada umumnya dapat berkembang biak atau dikembangbiakan dengan cara generatif dan vegetatif.

Bila tumbuhan baru berasal dari biji, tumbuhan tersebut merupakan hasil perkembangbiakan generatif. Jika tumbuhan baru berasal dari bagian tubuh induknya, seperti hasil cangkokan, maka tumbuhan baru tersebut merupakan hasil perkembangbiakan vegetatif.

Selain dari batang, beberapa jenis tumbuhan dapat membentuk individu baru dari akar atau daun.

Organisme hasil perkembangbiakan generatif berbeda dengan organisme hasil perkembangbiakan vegetatif. Mengapa berbeda?

Perkembangbiakan generatif melibatkan dua organisme induknya, yaitu jantan dan betina. Tiap-tiap induk akan mewariskan sifat-sifatnya sehingga memungkinkan adanya percampuran kedua sifat pada organisme keturunannya. Dengan demikian, organisme hasil perkembangbiakan generatif mempunyai sifat tidak sama persis dengan induknya. Jadi, perkembangbiakan generatif menyebabkan munculnya variasi sifat dalam populasi suatu organisme.

Pada perkembangbiakan vegetatif, organisme baru berasal dari satu induk sehingga organisme keturunannya memiliki sifat yang sama persis dengan induknya. Dengan demikian, tidak terjadi variasi sifat pada organisme keturunannya.

 

tags: , , , , ,

Related Pos :